
Waktu pulang sekolah telah tiba, namun hari ini ada latihan basket lagi. Razzan inisiatif datang ke ruang olahraga sendiri. Didalam ruang olahraga sudah ada Leon namun ada Dylan juga disitu.
Melihat Razzan datang, Leon dan yang lain langsung menatap kepada Razzan. Razzan melambaikan tangan kepada mereka akan tetapi mereka semua diam saja alias kacangin si Razzan. Razzan berusaha untuk bersabar lalu Razzan bersiap buat ganti baju olahraga.
Usai berganti baju olahraga, Razzan kembali menemui Leon dan yang lain.
"Lo mau apa ganti baju segala, Razzan?" tanya Leon membuat Razzan bingung.
"Loh? Kita kan mau latihan basket kan? Jelas gua ganti baju lah." jawab Razzan.
"Iya kita emang mau latihan basket, tapi posisi lo akan diganti sama Dylan. Sebagai ketua basket udah hak gua buat gantiin dengan siapa aja yang gua mau." ucap Leon membuat Razzan amat sangat terkejut.
"Kenapa gua langsung diganti begitu aja? Apa kemarin waktu sesi latihan pertama gua melakukan kesalahan atau ada kekurangan yang membuat gua gak layak buat ikutan bergabung menjadi anggota tim basket kalian?" tanya Razzan.
"Keputusan ini sebenarnya cukup berat tapi Dylan sepertinya lebih cocok buat gabung di tim basket gua daripada lu Razzan. Bukannya gua membenci lu tapi ini karena dulu, Dylan juga pernah menjadi anggota tim basket sekolah dan kali ini gua lebih mempercayakan hal itu untuk Dylan. Sorry ya Zan?" jawab Leon dengan wajah cuek dan dingin.
"It's oke itu terserah lo. Lo kan kaptennya. Lo berhak buat menentukan apapun yang terbaik untuk tim lo. Kalau gitu gua mau balik dulu ya? Kalian yang semangat latihan. Bawa harum nama sekolah kita." tukas Razzan lalu Razzan akan kembali berganti pakaian.
"Sok tegar amat tuh cunguk." ucap Dylan dengan suara berbisik.
Setelah berganti pakaian Razzan pun keluar dari dalam ruangan olahraga itu dan didepan pintu masuk ruang olahraga, Razzan berjumpa dengan Wiwit dan Poppy.
"Kalian berdua?" sapa Razzan.
"Razzan, lo mau kemana? Bukannya lo harus latihan ya sama Leon?" tanya Wiwit lembut.
"Nggak," jawab Razzan singkat.
"Kenapa Razzan? Apa yang terjadi?" tanya Wiwit lagi.
__ADS_1
"Gua diganti sama Dylan. Yaudah ya kalau gitu gua mau balik dulu." jawab Razzan lalu Razzan lekas pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa? Leon mengganti Razzan dengan Dylan? Hmm kenapa ya? Padahal waktu latihan kemarin, menurut gue skill basket Razzan jauh lebih ok daripada kapten basketnya sendiri. Gue curiga pasti Leon mengganti Razzan karena dia gak mau kalah saing sama Razzan. Idih kapten macam apa si Leon itu! Dasar kapten basket gak profesional! Yang paling penting kan squad basket diisi sama anak-anak yang benar-benar jago main basket. Biar sekolah kita bisa menang. Leon minta diboikot nih sama gue." ucap panjang Wiwit merasa geram karena cowok yang dia suka seenaknya saja diganti sama Leon.
Wiwit mau masuk kedalam buat melabrak Leon tapi Poppy bergegas mencegahnya.
"Ngapain lo menghalangi gue buat labrak Leon? Lepasin ah Pop?"
"Nggak Wit, mereka semua anak laki-laki. Mereka itu lebih kuat daripada kita. Jangan cari gara-gara sama mereka deh." cegah Poppy.
"Gue gak peduli Pop, biarin aja mereka anak laki-laki, gue yakin mereka gak berani kok menyakiti anak perempuan kaya kita. Gue akan buat perhitungan sama Leon!"
Wiwit masuk kedalam ruang olahraga sembari melotot tajam. Poppy tepuk jidat lalu mengikuti Wiwit masuk kedalam.
"Nekat banget si Wiwit!" batin Poppy.
"Leon! Dylan! Apa yang kalian perbuat! Kurang ajar banget sih kalian!" pekik Wiwit membahana di dalam ruangan olahraga.
"Lo itu gak pantes gantiin posisi Razzan, Dylan! Leon lo juga bego banget sih! Masa lo berani keluarin Razzan yang skill bermain basketnya gak kaleng-kaleng. Malah lo ganti Razzan sama Dylan yang skill bermain basketnya aja masih ampas!" marah Wiwit seraya melotot tajam kepada Leon dan Dylan.
"Wiwit udah! Mending kita balik aja yuk? Biarin mereka semua berlatih basket. Jangan ikut campur urusan mereka yuk?" ajak Poppy sembari merangkul lengan Wiwit.
"Mendingan lo dengerin apa kata Poppy. Cewek bego kayak lo mending diem aja deh! Balik sana!" usir Leon sembari melangkah kedepan Wiwit dan Poppy.
"Gue gak akan pergi sebelum lo ajak lagi Razzan masuk ke dalam tim basket lo! Woy, jangan buang emas demi batu kerikil kayak si Dylan itu!" cakap Wiwit.
"Eh mulut lo! Gue lempar lo pakai bola ini ya!" ancam Dylan kesal.
"Gue gak akan merubah keputusan gue. Gue tetap keukeuh pada keputusan gue buat mengganti Razzan dengan Dylan. Kalau lo tetep cari ribut, gue hajar lo!" ancam Leon juga.
__ADS_1
"Oh jadi lo pada beraninya main fisik ya sama cewek! Cowok apaan kalian!" pekik Wiwit semakin marah.
Leon mau menampar Wiwit tapi Poppy buru-buru memegang tangan Leon. Sedangkan Wiwit terlihat ketakutan ketika wajahnya akan terkena tamparan dari Leon.
"Sayang, jangan sakitin anak perempuan. Wiwit, kita balik sekarang!" paksa Poppy lalu menyeret Wiwit keluar dari dalam ruang olahraga.
Didepan pintu ruang olahraga, Wiwit menyuruh Poppy untuk berhenti menariknya.
"Apaan sih lo pakai narik gue segala! Gue tuh yakin mereka itu gak bakal berani mukul cewek!"
"Lo seyakin itu? Lo gak lihat tadi wajah Leon sama Dylan yang marah banget ke lo! Ingat Wit, mereka tuh bisa aja mukul lo. Lo harusnya berterima kasih sama gue karena gue udah bawa lo jauh dari kemarahan besar mereka!"
"Gue gak perlu terimakasih ke lo karena gue gak merasa diuntungkan kok! Btw, lo barusan manggil si ****** dengan panggilan sayang? Lo pacaran ya sama si ****** itu?"
Poppy merasa bingung mau jawab apa.
"Bukan urusan lo ah mendingan habis ini kita ke mall aja yuk, shopping? Sekarang kan lo bestie gue bukan bestienya Shakira sama Lulu lagi?"
"Hmm, ayo deh. Daripada badmood terus. Gue gak mau badmood terus kaya gini. Eh sekalian nanti kita gosipin Shakira sama Lulu,"
"Yaudah ayo. Gosipin mereka emang yang paling seru deh!"
***
Shakira tengah duduk sendirian di kursi taman belakang rumahnya. Malam ini Shakira tengah menatap bintang-bintang sendirian di taman. Bintang-bintang itu gemerlapan dengan indah.
Shakira tiba-tiba kembali teringat Razzan, Shakira membayangkan jika Razzan ada disini, duduk di sampingnya dan bersama dengannya menatap indahnya bintang-bintang di langit.
"Seandainya Razzan ada disini pasti aku akan merasa lebih bahagia. Suasana disini tidak akan sesunyi ini. Razzan benar-benar bisa membuatku berubah jadi baik seperti sekarang. Sekarang aku sudah gak peduli lagi sama perbedaan kasta manusia, kaya ataupun miskin. Sepertinya aku juga jatuh hati deh sama Razzan." ucap Shakira pelan.
__ADS_1
Bersambung...