
Saat ini jam pelajaran pertama tengah berlangsung dengan hening didalam kelas. Mata pelajaran yang sedang diterangkan pagi ini adalah Matematika. Razzan selalu fokus saat guru sedang menerangkan ilmu pelajaran.
Tapi Dylan sesekali terlihat selalu melirik sinis kearah Razzan. Kebencian dan rasa iri melanda hatinya. Tiba-tiba sang guru Matematika meminta Razzan buat mengerjakan salah satu soal Matematika yang berada di papan tulis.
"Razzan, kamu maju kedepan dan kerjakan soal ini." titah sang guru Matematika.
"Siap Pak." jawab Razzan lalu Razzan bergegas bangkit berdiri.
Razzan maju kedepan dan akan segera mengerjakan soal itu.
"Kamu kerjakan satu saja soal yang paling atas habis itu giliran Shakira." titah Pak Guru.
Razzan mengangguk lalu Razzan mengamati soal itu terlebih dahulu dengan penuh ketelitian. Razzan memikirkan untuk menemukan jawabannya dengan fokus hingga akhirnya Razzan merasa sudah mengetahui jawaban dari soal pertama, maka Razzan langsung menuliskan jawaban itu di papan tulis.
"Jawaban kamu benar Razzan, soal pertama adalah soal yang paling sulit tapi kamu bisa menjawabnya dengan durasi yang cukup cepat. Wah, kamu pasti rajin belajar ya dan selalu menyimak saat saya sedang menerangkan materi."
"Makasih Pak guru?"
Pak Guru Matematika itu menyuruh Razzan untuk kembali duduk di bangkunya. Shakira tersenyum senang melihat Razzan yang mendapatkan pujian dari Pak Guru.
"Shakira, maju kamu." titah Pak Guru.
"Siap Pak!" sahut Shakira bersemangat.
Lalu Shakira maju kedepan papan tulis dan mulai mengerjakan soal kedua. Shakira juga anak yang cerdas. Shakira juga cepat dalam menyelesaikan soal yang diberikan oleh Pak Guru.
"Kamu juga cerdas Shakira, kamu juga bisa mengerjakan soal kedua dengan cukup cepat. Kembali ke bangku kamu dan saya minta kamu bisa merubah sikap kamu menjadi lebih baik lagi Shakira. Saya yakin suatu saat kamu akan menjadi wanita dewasa cantik yang cerdas dan inspiratif." titah Pak Guru.
Shakira tersenyum lebar lalu kembali lagi ke tempat duduknya. Sekarang Shakira semakin bersemangat dalam bersekolah. Sejak Razzan merubah penampilannya menjadi lebih keren, Shakira jadi bersemangat. Shakira dan Razzan saling bertatapan, mereka berdua saling tersenyum dan Wiwit menatap mereka berdua dengan kesal.
"Apa-apaan sih mereka berdua! Didalam kelas tapi tatap-tatapan kayak gitu. Apa mungkin mereka saling menyukai satu sama lain? Duuh makin sulit aja usaha gue jadi pacar Razzan kalau berurusan sama si Shakira. Gue harus lakuin cara supaya Razzan gak sampai jadian sama Shakira. Gue gak akan biarin itu terjadi!" batin Wiwit berambisi.
"Yang berikutnya giliran Dylan. Dylan, kamu kerjakan soal ketiga ya?" titah Pak Guru dari depan kelas.
Tapi Dylan diam saja, Dylan tengah fokus menatap sinis kearah Razzan dan Shakira.
__ADS_1
"Dylan! Dylan! Sedang apa kamu!" tanya Pak Guru dengan nada tinggi.
Dylan baru tersadar lalu lekas berdiri dan menatap kearah Pak Guru yang tengah berdiri menatapnya didepan kelas.
"Kamu gak dengerin perintah Bapak?"
"Iya Pak?"
"Kerjakan soal nomor tiga ini, lekas!"
Dylan mengangguk meski sebenarnya merasa gak mood alias malas sekali, rasa iri kepada Razzan menyelimuti pikirannya. Saat disuruh buat mengerjakan soal itu ternyata Dylan mengalami kesulitan karena sebenarnya Dylan belum menguasai materi untuk soal ini.
"Kenapa lama sekali Dylan? Jangan bilang kepada Bapak kalau kamu tidak bisa mengerjakannya?"
Dylan mengangguk dengan tampang panik.
"Sorry Pak, saya tidak bisa Pak tapi saya janji saya akan belajar lebih rajin lagi."
"Jangan main-main kamu Dylan, kamu harus bisa menguasai materi yang saya ajarkan. Bersainglah dengan anak-anak yang lain, jadikan itu sebagai motivasi untuk kamu mendapatkan peringkat satu atau menjadi yang paling baik di kelas ini. Kalau gitu silahkan kembali ke tempat duduk kamu. Lulu! Kerjakan soal nomor tiga ya!" titah Pak Guru kepada Lulu.
"Sebentar Lulu! Ada apa dengan wajah kamu?" tanya Pak Guru seraya menatap perban di pipi Lulu.
"Oh ini Pak? Saya kemarin dicakar sama cewek sinting yang iri sama kecantikan saya. Ya jadi gini deh hasilnya, resiko jadi cewek cantik gitu deh Pak, pasti ada aja yang sirik sama saya." jawab Lulu seraya melirik kearah Wiwit.
"Sok cantik banget sih lo! Wajah burik gak seberapa good looking juga belagu! Cantikan gue kemana-mana kali! Cantikan gue juga daripada Shakira." batin Wiwit kesal.
"Siapa orang yang sudah berani mencakar wajahmu? Apa dia teman kamu atau anak yang lain?"
Lulu menunjuk kepada Wiwit, sontak saja anak-anak satu kelas jadi pada menoleh kearah Wiwit. Sekarang, Wiwit jadi pusat perhatian didalam kelas.
"Ouh jadi Wiwit pelakunya. Wiwit, kenapa kamu berani melakukan perbuatan yang tidak baik seperti itu Nak? Kalian kan sesama wanita, dan kalian pasti tahu kalau wajah itu adalah salah satu aset yang sangat berharga untuk kalian kan?" tanya Pak Guru.
"Iya saya tahu itu Pak. Tapi saya kesal sama si ratu kepo sialan itu, dia berani banget buka-buka isi HP saya dan cari tahu rahasia apa yang saya sembunyikan. Dia ingin mencari tahu privasi saya Pak, bukankah itu perbuatan yang gak baik juga? Makannya saya jadi kesal dan mencakar wajah dia." jawab Wiwit apa adanya.
Sekarang giliran Lulu yang jadi pusat perhatian anak-anak di kelas.
__ADS_1
"Perbuatan kalian berdua sama-sama salah. Sebaiknya kalian berdamai saja dan jangan ulangi lagi perbuatan yang sama." titah Pak Guru.
"Mereka berdua udah damai kok Pak. Saya yang mendamaikan mereka kemarin, karena mereka berdua adalah sahabat saya. Saya juga yang membayar biaya pengobatan luka cakaran itu." sahut Shakira.
"Oh baguslah kalau begitu, Lulu, silahkan kerjakan soal nomor tiga."
"Baik Pak."
Dylan kembali menatap sinis kepada Razzan.
"Tunggu aja lo bajingan! Gue akan bikin perhitungan sama lo anak baru! Gua akan bikin lo babak belur kalau perlu sampai sekarat!" batin Dylan jahat.
***
Jam istirahat telah tiba. Dylan tengah mencari-cari keberadaan Leon. Dylan ingin membahas soal Razzan bersama dengan Leon. Singkat waktu Dylan melihat Leon tengah duduk sendirian di taman belakang sekolah.
"Woy bro!" sapa Dylan menghampiri.
Leon menatap kearah Dylan lalu bertanya,
"Ada apa?"
Dylan duduk disamping Leon.
"Lo pasti udah tahu kan soal si Razzan yang sekarang? Dia sekarang jadi cowok paling hits disini. Denger-denger dia lo ajak gabung di tim basket lo ya?"
Leon mengangguk
"Apa urusannya sama lu Lan?"
"Hati-hati aja sama dia. Bisa jadi si Tarzan itu adalah manusia yang licik dan bermuka dua. Jangan sampai posisi lo sebagai kapten basket diambil alih sama dia bro. Hati-hati sama manusia toxic."
"Lo gak usah menghasut gua lah Lan. Gua gak peduli kalau si Razzan gantiin posisi gue, karena yang penting buat gue adalah nama baik gue di sekolah ini."
"Ngakak sama lo Leon. Lo pikir gue belum tahu kalau sebenarnya aslinya lo itu kayak gimana? Lo punya sebuah rahasia besar yang akan sangat heboh kalau rahasia besar itu terbongkar."
__ADS_1
Bersambung...