
Rangkaian bunga telah berjajar rapi di depan cafe dari para teman ada pula beberapa rekan abah dari yayasan pendidikan, maupun teman umi aida yang turut hadir di acara itu.
Keluarga zayn telah datang sejak tadi tentunya tak ketinggalan gadis yang selalu menempel pada zayn.
Gadis mengenakan dres berwarna merah yang cukup sexy, berbeda dengan anin yang mengenakan gamis berwarna nude sesuai dengan kepribadiannya yang lembut.
Serangkain acara telah dimulai kini saatnya bagi para tamu untuk memcicipi hidangan.
Sebagai sahabat tentu keluarga anin dan zayn duduk disatu meja yang sama. Kehadiran zayn dan gadis membuat anin tak nyaman ia memilih duduk bersama dika, nina dan kawan kawan lainnya.
Dan keisengan nina yang suka mengganggu dika menjadi hiburan tersendiri bagi anin dan yang lain.
"Dika kenapa kau sangat tampan terlihat seperti brad pitt jika..........". nina menggantung ucapannya
"Jika apa". Jawab dika
"Jika dilihat dari lobang pipet". Nina tertawa cukup keras
Dan yang lainnya hanya bisa menahan tawa agar tak mengundang keributan.
"Nina...awas kau. Lihatlah nanti jika aku sudah mapan dan tampan maka akan ku buat kau jatuh cinta padaku".
"Benarkah, wah aku akan menanti saat itu". Nina menjawab sambil menjulurkan lidahnya.
Dika yang kesal pun memilih berbicara dengan teman yang lain tapi sesekali nina masih saja menimpali sambil mengejek.
Pov nin**a**
Entah mengapa saat berdekatan dengannya selalu timbul rasa ingin mengganggunya, membuatnya kesal itu suatu kesenangan tersendiri bagiku.
Terasa ada yang lain saat dengannya. apakah ini yang dinamakan benci jadi cinta.
entahlah aku pun tak tau.
pov end...
Saat ini para sahabat serta tamu sudah berangsur pulang karna waktu sudah menunjukkan hampir petang hanya tinggal beberapa kerabat serta dika dan nina.
Anin yang tak ingin sahabatnya pulang sendiri menyuruh dika untuk mengantar awalnya nina menolak tapi karna anin memaksa akhirnya ia pun mau.
"Yakin kamu mau pulang ma aku".
"Emang kenapa".
"Ya kan aku cuma naik motor butut lagi".
Nina yang mendengar penuturan itu pun kesal.
"Emang kamu pikir aku ini matre pulang aja harus diantar pakai mobil". Jawab nina kesal sambil berlalu menarik dika "Ayo pulang".
Dika hanya mampu tersenyum misterius.
etelah itu ia dan dika pamit kepada keluarga anin. saat di jalan
"Eh..mahluk astral mampir dulu y ke minimarket". nina bicara sambil berteriak
Dika pura-pura tak mendengar
"Kamu denger gak sih" nina memukul helm dika
"Emang kamu ngajak ngmong aku". tanya dika taìnpa dosa.
"Ya iya lah emang ada siapa lagi dimotor ini selain kita berdua".
__ADS_1
"Oohhh...lagian kamu manggilnya mahluk astral jadi aku pikir lagi ngomong sama hantu"
Nina lantas memukul helm dika.
Saat tiba didepan minimarket nina yang akan masuk langsung dipeluk dika dari belakang.
Nina yang terkejut hanya mampu terdiam membeku.
Dika berbisik "Kamu tembus".
Kebetulan didepan minimarket banyak anak muda yang sedang duduk dika tak ingin nina malu
"Diamlah aku akan melilitkan jasku dulu". Dika dengan cekatan melepas jasnya dan melilitkan dipinggang nina.
Nina hanya mampu menjawab dengan anggukan jantungnya sudah tak bisa dikondisikan dan dia pun salah tingkah dibuatnya.
Sebenarnya dika pun sama hanya saja dia berusaha menutupi dengan gaya coolnya.
Setelah selesai dengan acara belanjanya mereka langsung pulang. Sampai didepan rumah nina
"Aku langsung pulang ya".
"Iya. makasih ya. Emm..jas kamu aku cuci dulu y".
Dika menjawab dengan anggukan dan senyum manis. Senyum yang selama ini membuat nina kesal tapi entah mengapa malam ia merasa senyum itu begitu manis.
"kamu hati-hati dijalan".
"iya. sana buruan masuk ntar keburu magrib". dika mengusap lembut pucuk kepala nina dan melaju meninggalkan pelataran rumah.
Hati nina menghangat mendapat perlakuan manis dari dika.
Ibu dan ayahnya yang penasaran dengan siapa nina pulang mengintip dari jendela rumah.
"Ibu sama ayah ngapain sih"
Syahnya yang punya jiwa kekepoan tinggi lantas bertanya.
"Bening amat nin yang ngantarin pulang, siapa pacar baru ?, Kok gak disuruh mampir. Ayah ma ibu kan pengen kenalan ama calon mantu". Ayah menggoda nina sambil menaik turunkan alisnya.
padahal ia pun tau selama ini anaknya itu belum pernah pacaran.
Keesokan harinya sepulang dari kampus nina hendak berkunjung kerumah dika untuk mengembalikan jas. Tapi sebelum itu ia berniat membuatkan sesuatu untuk laki-laki itu.
Ia membuatkan cup cake dengan bentuk sederhana khas buatan rumah dibantu sang ibu. Diatas cup cake itu hanya dihiasi parutan keju tapi rasanya sungguh lezat.
Bukan ia tak mau membelikan cup cake yang ada di toko kue terkenal hanya saja ia ingin memberikan sesuatu dari hasil usahanya sendiri karna itu akan lebih berkesan dibandingkan dengan kue lezat dengan berbagai hiasan tapi hasil dari membeli.
Detelah selesai dengan acara membuat cup cake nina lantas membersihkan diri dan bersiap-siap ia juga mengirim pesan pada anin untuk menanyakan alamat rumah dika.
Ia mengenakan celana kulot berwarna hitam dengan atasan blouse moka dan jilbab pasmina sederhana senada dengan bajunya.
Dederhana itulah ciri khas nina. Ia tak pandai dalam fashion item tapi itu tak mengurangi kadar kecantikannya.
Kulitnya berwarna sawo matang dan lesung pipi kiri kanan serta gigi gingsulnya membuat ia terlihat manis.
Taksi online pesanannya telah menunggunya didepan rumah. Ia segera masuk dan menuju rumah dika
Detelah 30 menit sampailah ia didepan rumah sederhana dengan pagar bambu dengan halaman yang tidak terlalu luas dan terdapat banyak tanaman bunga.
Ia lantas mengetuk pintu
"Assalamualaikum".
__ADS_1
"Wa'alaikum salam". Muncullah seorang wanita seusia hampir sama dengan sang ibu.
"Cari siapa ndok".
"Kenalin buk saya nina temennya dika".
"Walah koncone dika kok ayu temen. Sini ndok masuk maaf yo rumahnya dika jelek". Ibu dika menyambut dengan ramah dengan khas logat jawa dan menyuruh nina duduk.
"Iya buk makasih. maaf buk ini ada sedikit oleh-oleh dari saya semoga ibu suka". Nina menyerahkan kotak berisi cup cake buatannya.
"Walah kok repot-tepot to ndok. ada temennya dika yang mau main kesini aja ibu udah seneng lo". Jawab ibu dika sambil menerima kotak itu.
"Gak apa-apa buk gak repot kok". nina tersenyum manis.
"Makasih ya ndok. Tunggu sebentar ya ndok dikanya lagi keluar tadi ibu suruh ngantar pesenan kerupuk".
"Iya buk gak apa-apa".
Obrolan nina dan ibu dika berlanjut mereka berdua lansung akrab sebab sifat mereka berdua yang hampir sama.
Setelah obrolan panjang itu mereka berdua memasak bersama. lebih tepatnya nina yang memaksa membantu.
Setelah didapur nina menyuruh ibu dika untuk duduk dan ia yang akan memasak.
Tumis kangkung dan ikan goreng. menu yang sangat sederhana hasil masakan nina.
Tak ada makanan mewah sebab kondisi keekonomian keluarga dika yang kurang mampu tapi itu tak masalah bagi nina.
Ibu dika cukup terkejut melihat nina yang cukup piawai memasak serta tak merasa risih berada didapurnya yang kotor.
Setelah itu ibu dan nina duduk bersama diruang makan sederhana sambil memakan cup cake yang nina bawa tadi.
"Ini enak benget ndok kuenya".
"Alhamdulillah ibu suka. Nanti nina buatin lagi untuk ibu".
"Lho...ini kamu yang buat sendiri".
"Iya buk nina sering belajar dengan anin".
"Oalah...anin yang katanya ngasih kerjaan ke anak ibu ya".
"Iya buk".
"Walah....sampaikan salam ibu buat nak anin y ndok terimakasih sudah kasih dika pekerjaan padahal dika belum punya pengalaman apa-apa.
"Iya buk insyaallah nanti nina sampaikan".
"Assalamualaikum ibu dika pulang". Obrolan nina dan ibu terhenti karna suara dika. Terdengar langkah kaki masuk ke dalam rumah
"Wa'alaikum salam". Ibu dan nina menjawab bersamaan
"Lho...kok ada nina. Tau dari siapa rumah aku".
"Tau dari bungkus minuman kemasan tadi".
"Iseng banget jadi orang". Nina hanya tersenyum. Ibu melihat interaksi keduanya pun dapat menebak bahwa ada sesuatu di hati dua remaja ini.
maaf readers bunda baru bisa update
soalnya si kecil lagi rewel banget jadi
gak sempat ngetik....
__ADS_1
love you all