
Atas permintaan zayn akhirnya pernikahan itu dilaksanakan dengan sederhana. Karna terkesan mendadak berkas berkas pernikahanpun belum siap akhirnya pernikahan itu dilakukan secara siri.
Semuanya rumit akibat zayn yang masih beratatus menikah. akhirnya dengan terpaksa pernikahan siri terjadi sembari menunggu zayn untuk mengurus surat perceraiannya.
Setelah acara ijab qobul, tetap tak ada yang berubah dari sikap zayn pada anin. Zayn tetap dingin dan bersikap acuh pada istrinya. Anin mencoba untuk tetap sabar berharap semuanya akan berubah seiring waktu.
Sore mulai beranjak acara yang hanya dihadiri para tetangga itu telah berakhir. Umi meminta anin dan zayn untuk menginap barang semalam atau dua malam
"Kalian tidur disini dulu kan?"
"Anin terserah zayn aja umi"
"Lho kok manggil nama sama suami. Gak sopan sayang"
Anin kebingungan dibuatnya. Sedangkan zayn hanya diam saja dengan tampang datarnya
"Yaudah anin panggil mas aja ya"
"Terserah" hanya itu kata yang keluar dari mulutnya
Lantas umi meminta mereka untuk iatirahat dikamar. Tak ada obrolan mesra ataupun sikap romantis layaknya pengantin baru zayn nampak acuh. Anin hanya mampu membuang nafas kasar dan menyiapkan keperluan karna zayn akan mandi.
Setelah mandi zayn sedikit terkejut melihat anin. wanita itu hanya mengenakan gamis sederhana dan hijab tanpa penutup tapi sedetik kemudian ia memasang wajah datar meski sempat terpana dengan kecantikan alami anin.
Anin memutuskan untuk membuka cadarnya saat dikamar karna bagaimanapun zayn sudah menjadi suaminya ia harus mulai membiasakan diri.
Tak terjadi apapun antara mereka berdua, bahkan zayn terlihat sibuk dengan gawainya. Dan anin memutuskan untuk tidur karna esok mereka akan pulang kerumah bunda soraya.
Esok harinya setelah sarapan zayn pamit untuk membawa anin pulang. Abah mengizinkan tapi sebelum itu banyak petuah yang abah sampaikan baik sebagai laki laki ataupun suami. Ia tak mau jika putri satu satunya yang ia jaga sepenuh jiwa dengan kasih dan sayang sampai tersakiti hatinya
"Ingat zayn jangan pernah kau sakiti hatinya, jika memang kau sudah tak mencintainya, pulangkan ia padaku,aku akan dengan tangan terbuka menerimanya kembali". Anin meneteskan air mata memdengar penuturan abah
__ADS_1
"Iya abah, aku akan berusaha menjaga anin dengan segenap jiwa"
"Abah pegang janjimu. Jika sekali saja abah tau kau membuatnya terluka maka abah akan mengambilnya darimu, untuk selamanya kau tak akan pernah bisa kembali lagi padanya"
"Iya abah". Zayn tak sekalipun memikirkan apa yang dikatakan abah, pikirannya hanya segera pulang dan menghindari anin.
Sampai dirumah zayn bunda dan ayah menyambut dengan suka cita. Akhirnya anin menjadi menantu dikeluarga ini.
"Selamat datang sayang" bunda memeluk anin dan ayah memeluk zayn
"Selamat datang bunda." Arletta bergantian memeluk anin
"Jaga dia baik baik ayah percaya padamu. Jangan sakiti hatinya dia perempuan baik baik kau beruntung memilikinya". Zayn hanya mengangguk sebagai jawaban
Keluarga itu lantas menuju ruang tamu mengobrol banyak hal hingga saat makan siang. Saat dimeja makan anin melayani zayn mengambilkan nasi dan lauk, tak ada ucapan manis dari zayn setelah menerima piring berisi makanan. Setelah itu dengan telaten anin menyuapi arletta yang sejak tadi bergelayut manja padanya.
Bunda berusaha diam menyaksikan sikap zayn dalam hati berharap putranya akan berubah seiring waktu. Tapi entahlah
Hari hari berlalu dengan kegiatan yang sama anin menyiapkan pakaian zayn membuatkan sarapan dan mengurus arletta. Hanya saat bersama arletta ia merasa bahagia.
Bunda sebenarnya mengetahui itu semua tapi berusaha diam berharap masalah antara anin dan zayn bisa teratasi tanpa campur tangan darinya.
Beberapa kali anin berusaha untuk mendekati zayn dengan mengantar makan siang kekantor tapi hanya ditanggapi zayn dengan dingin
Entah apa yang terjadi pada zayn setelah hampir setahun menikah hari ini untuk pertama kalinya pukul 16.00 ia sudah berada dirumah. Padahal biasanya ia akan pulang sekitar pukul 10.00 malam demi menghindari anin
"Lho tumben kamu udah pulang"
"Iya bunda kepala aku pusing" Zayn bejalan kearah kamar saat didepan pintu ia tiba tiba tak sadarkan diri anin yang baru saja selesai mandi dan sholat terkejut saat membuka pintu mendapati zayn tak sadarkan diri didepan pintu lantas berteriak
"Ayah bunda tolong". Ayah dan bunda tergopoh gopoh berlari menuju sumber suara
__ADS_1
"Ya Allah zayn" ayah langsung berusaha mengangkat zayn dibantu anin dan bunda
setelah berbaring diranjang anin dengan sigap membuka dasi kemeja dan sepatu zayn ia juga melonggarkan ikat pinggang zayn, membalur tubuh sang suami dengan minyak kayu putih. Beberapa saat kemudian zayn sadar
"Uuhhhh..." ia melenguh kepalanya terasa berdenyut
"Jangan banyak bergerak dulu agar tidak tambah pusing" suara lembut itu memaksa matanya untuk terbuka. Istrinya yang dengan sabar mengurusnya meski selalu ia abaikan.
Anin segera menelpon dokter untuk memeriksa zayn. Selagi menunggu dokter
"Mas makan dulu ya". Zayn hanya mengangguk anin dengan telaten ia menyuapinya. Semangkuk bubur telah tandas, dokter yang baru saja tiba langsung memeriksa
"Tidak ada yang serius, bapak hanya kelelahan dan kurang istirahat akibatnya tekanan darah anda rendah itu memicu anda pusing sampai pingsan. Saya resepkan obat silahkan ditebus diapotek"
"Terimakasih dokter". Anin lantas meminta salah satu supir untuk menebus resep itu
"Mas istirahat dulu ya anin mau lihat ar dulu"
Zayn hanya mengangguk. Setelah anin pergi banyak pikiran berkecamuk. Selama ini ia begitu zholim pada istrinya, tak sekalipun ia memberi nafkah baik lahir maupun batin tapi anin tak pernah menuntut. Anin memenuhi kebutuhannya sendiri bahkan semenjak menikah zayn juga melupakan kewajiban pada putrinya karna sibuk menghindari anin.
Selama ini anin mengurus dengan baik segala kebutuhannya, saat bangun tidur anin pasti sudah menyiapkan baju kantor, dasi, sampai sepatu dan kaus kaki bersih pun akan tersedia belum lagi putrinya yang seakan tak mau pisah dari anin. setiap pagi wanita itu sudah sibuk didapur membuat sarapan untuk keluarganya.
Zayn juga tak pernah lagi melihat asisten mengurus pakaiannya dikamar semua telah diatur oleh anin sendiri.
Berbeda saat ia masih bersama gadis. Wanita itu tak pernah menyiapkan kebutuhan zayn. Jangankan untuk mengurus zayn bangun lebih pagi dari zaynpun tak pernah. Semua kebutuhan zayn diatur oleh asisten bahkan tak segan gadis berteriak pada mbok nah orang yang mengatur perlengkapan dikamar saat ia tak menemukan apa yang ia cari.
Perbedaan itu dirasakan oleh zayn. Setitik rasa hadir kala mengingat anin yang sudah mengurusnya dengan baik.
Haruskah ia mulai belajar untuk menerima anin sebagai istrinya
Happy readding readers
__ADS_1
lope you ❤
Tetap semangat bagi yang menjalankan ibadah puasa