Melepasmu Ku Ikhlas

Melepasmu Ku Ikhlas
Modus iqbal


__ADS_3

"Enggak ah, anggika suka nakal. Dia bilang rafka gak punya papa, kalau papa zayn itu papanya rafka kenapa rafka gak tidur diumah papa kayak anggika"


"Rafka enggak gitu nak"


"Udah ah kalau bunda gak mau nyariin rafka ayah, rafka cari aja nanti sendiri"


"Emang rafka mau cari dimana?"


"Dimana aja, Om iqbal juga boleh nanti rafka datengin rumahnya. Bunda mah nakal"


"Hei gak boleh gitu nanti". Belum selesai anin bicara rafka sudah berlari keluar rumah


"Rafka nak tunggu bunda, jangan lari lari nanti ada mobil". Rafka menuju rumah iqbal. Satpam rumah itu terlihat bingung kala ada anak kecil berlari masuk kedalam gerbang


"Maaf ya pak itu anak saya. Saya orang baru disini, rumah saya disebelah"


"Ohh iya mbak gak papa"


"Permisi ya pak saya izin masuk mau ngejar anak saya"


"Silahkan mbak". Anin segera mengikuti rafka yang sudah berada didepan pintu. Pembantu yang kebetulan membukakan pintu mengizinkan kala bocah kecil itu mengatakan ingin bertemu iqbal sebab ada barangnya yang tertinggal saat lari pagi tadi.


Pembantu itu percaya karna tak mungkin bocah umur 4 tahun berbohong. Kebetulan iqbal berada diruang tengah sedang mengenakan sepatu bersama indah juga


"Om iqbal"


"Lho rafka ada apa nak". Iqbal bingung kenapa bocah kecil ini berlari terengah engah dengan mata yang merah, ia pikir terjadi sesuatu pada keluarganya


"Rafka boleh gak panggil om iqbal ayah. Iqbal pengen punya ayah, iqbal gak mau papa zayn soalnya anggika nakal"


"Ha??". Iqbal dibuat bingung dengan ucapan bocah laki laki ini. Indah dan iqbal saling pandang tiba tiba


"Ya allah nak gak sopan masuk rumah orang sembarangan"


"Lo kamu anindya kan". Anin pun terkejut ternyata orang yang dibicarakan oleh putranya adalah iqbal ammani orang dijumpainya dibandara


"Eh..iya bang maaf ya kalau rafka bicaranya ngawur".


"Gak papa santai aja". Bisa ae lu kecebong anyut bilang aja mau modus pake segala alasan


"Hai rafka, emang rafka beneran mau panggil om ayah?. Rafka mengangguk


"Jangan bang, nanti gak enak sama istri abang dikira kita ada apa apa lagi". Anin segera menyela


"Istri abang gak akan marah."


"Ayah kebiasaan deh gak usah muter muter kenapa ngmongnya. Bilang aja ayah duda udah beres. Ribet amat". Iqbal hanya nyengir sambil menonyor pelan kepala putrinya


"Ah kamu mah gak bisa diajak ngelucu"


"Lelucon ayah itu pasti garing tau gak"


"Dasar kamu rese". Anin tersenyum mendengar perdebatan itu


"Jangan didengerin ya anin anggap aja iklan lewat". Anin hanya tersenyum

__ADS_1


"Hai rafka kenalin nama aku indah eka saputri Panggil aja kak indah"


"Halah gayamu sok dewasa cik cik". Iqbal lagi lagi menggoda putrinya


"Biarin wleee...oya rafka beneran mau panggil om iqbal ayah"


"Iya. Boleh gak kak"


"Boleh aja sih. Boleh banget tapi kakak mau kasih tau rahasia tapi jangan bilang bilang ya janji",


"Janji". Mereka berdua saling berbisik dan tertawa entah apa yang mereka bicarakan.


"Ya udah sekarang rafka panggil om iqbal ayah oke"


"Oke kak". Para orang tua hanya bingung memandang keduanya.


Akhirnya setelah sedikit perdebatan anin menyetujui keinginan rafka


"Ayah sarapan dirumah rafka yuk. Bunda tadi masak opor ayam, masakan bunda enak bamget tau yah"


"Wah beneran, hemm ayah jadi pengen nyobain masakan bunda". Iqbal udah berasa jadi suami anin kali ya


"Ayo makanya ayah sarapan dirumah rafka"


"Jangan sekarang ya sayang ayah mau berangkat kerja". Anin menyela, sebenarnya ia masih agak risih dengan panggilan ayah yang disematkan putranya pada pria yang baru dikenalnya itu


"Gimana kalau kita sarapan disini saja. Biar bibik yang masak"


"Itu juga boleh yah". Iqbal dan indah jarang sarapan berat. Mereka hanya biasa sarapan dengan segelas susu dan roti panggang oleh karna itu asisten mereka hanya akan memasak untuk makan siang dan malam


"Ya udah let's go kita kemeja makan". Sampai dimeja makan


"Apa aja yang penting kenyang". Bocah gembul itu nyengir


"Bik sum". Anin segera menghentikannya


"Gak usah bang biar anin aja yang masak". Dengan cekatan ia membuat sarapan omlet dan juga nasi goreng spesial serta lalapan.


"Wah bunda masaknya hebat banget, bentar aja udah jadi gak kayak ayah habis masak telur aja dapurnya udah kayak kapal pecah".


Anin terkejut kala indah juga memanggilnya bunda tapi ia berusaha untuk biasa saja.


"Kalau masak itu emang harus perempuan indah jadi wajar kalau ayah gak bisa"


"Kata siapa yah, dicafe bunda yang masak cowok". Rafka menyela, mati kutu sudahlah kau iqbal pakai acara alasan segala sih


"Hehehe...ayah kan gak bisa masak". Iqbal nyengir malu kala alasannya dibantah oleh rafka


"Udah gak bisa masak rasanya gak jelas lagi. Parah banget kan dek". Indah menambahi


"Udah gak usah pada ribut sekarang makan gak baik ribut didepan rezki"


"Iya bunda maaf". Tiga orang manusia itu menjawab kompak. Satu persatu dari mereka mengacungkan piring minta dilayani oleh anin. Dengan telaten anin mengambilkan untuk mereka. Saat piring terakhir ia beru sadar jika itu untuk iqbal


"Eh maaf bang anin refleks"

__ADS_1


"Gak papa, enak juga kali ya punya istri lagi, tiap pagi dimasakin gini. Menurut kamu gimana anin"


"Kok tanya anin bang. Yang mau nikah kan abang"


"Ya kan nikahnya pengennya sama situ". Tapi itu hanya gumaman


"Hehehe...". Iqbal tersenyum, entah mengapa saat bersama anin ia menjadi pria bodoh


Setelah acara sarapan bersama tadi barulah rafka bersedia untuk di ajak pulang. Saat didepan pintu


"Ayah kak indah, rafka pulang dulu ya"


"Iya sayang"


"Oya ayah nanti pulang kantor jam berapa?"


"Mungkin jam 5 ayah baru pulang. Memangnya kenapa". Anin hanya mampu pasrah melihat interaksi keduanya


"Ya udah gak jadi besok aja kalau ayah lagi dirumah aja"


"Beneran"


"Iya ayah..."


"Ya udah kalau gitu nanti ayah usahakan pulang cepat. Oke boy"


"Yeyyy...asik nanti langsung kerumah rafka ya yah"


"Iya..."


"Bang jangan terlalu dimanjain rafkanya"


"Udah gak papa namanya juga anak kecil". Halah dasaar tukang modus cari kesempatan dalam kesempitan


"Ayah berangkat dulu ya bunda. Rafka jangan nakal dirumah"


"Siap ayah". Tiba tiba indah juga menyalimi tangan anin, mereka sudah seperti keluarga harmonis saja. Iqbal tersenyum kala melihat anin kebingungan dengan interaksi barusan.


Mobil alphard putih itu meninggalkan pelataran rumah. Sepanjang jalan iqbal selalu tersenyum dan itu disadari oleh indah


"Ayah masakan bunda enak ya"


"Enak banget lah"


"udah pinter masak, cantik, baik lagi. Uhh...pefect lah buat jadi istrinya om rayyan". Om rayyan adalah kerabat jauh iqbal kebetulan ia juga seorang duda


"Enak aja gak boleh bunda anin itu punya ayah"


"Idihh...pakek segala ngaku ngaku. Emang bunda udah pasti mau ama ayah"


"Tentu dong secara ayah kan ganteng"


"Nasis"


"Biarin. Lagian itu juga kan kenyataan. Terbukti kamu aja cantiknya kayak gini"

__ADS_1


"Indah cantik itu mirip ibu bukan ayah. Ayah mah wajahnya standar standar aja"


Supir yang mengantar mereka hanya tersenyum mendengar perdebatan ini. Baginya ini hal biasa, karna majikannya itu begitu dekat dengan putrinya itu.


__ADS_2