
Tak ada yang dapat dilakukan oleh zayn selain pasrah dan menerima takdirnya. Kini ia berusaha untuk membimbing anak anaknya agar lebih mengenal ilmu agama. Meskipun ia sendiri tak yakin jika anggika adalah putrinya tapi zayn berusaha mengasuhnya dengan baik. Jika kelak ada seseorang yang mengaku sebagai ayah dari anggika maka zayn akan mengikhlaskannya. Setidaknya tak ada dendam yang akan tercipta dikemudian hari.
Kini ia ingin berusaha untuk memperjuangkan anin apapun yang terjadi. Siang ini ia sengaja menghubungi anin berulang kali tapi tak kunjung dijawab. Hingga ia menunggu sekitar 15 menit dan menghubungi lagi
"Halo assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam papa". Ternyata yang mengangkat adalah putranya
"Lagi apa sayang kenapa dari tadi ditelpon kok gak diangkat"
"Lagi main pa". sedang dirumah rafka baru saja selesai belajar menggambar dengan indah
"Emang bunda kemana".
"Bunda tadi lagi pergi katanya mau ke minimarket". Obrolan berlanjut hingga terdengar suara anin mengucap salam
"Itu bunda ya"
"Iya pa. Bunda papa telpon"
"Ya udah diajak ngobrol dulu". Tapi tiba tiba terdengar suara
"Assalamualaikum kesayangan ayah"
"Wa'alaikumsalam". Indah, anin, dan rafka menjawab kompak. Zayn penasaran suara siapa itu, mengapa ada suara laki laki yang tak ia kenali dan dipanggil ayah oleh rafka. Ingin bertanya tapi sudah tak ada yang berbicara lagi dengannya rafka ternyata meninggalkan ponsel itu begitu saja tanpa mematikan sambungan telponnya.
Bocah kacil itu terlalu semangat saat ayahnya pulang dari kantor
"Hore ayah pulang.." Rafka menempel padanya begitu iqbal sampai
"Udah dulu nak ayah biar mandi kan masih kotor habis pulang kerja". Zayn mendengar suara yang begitu ia kenali
Pikirannya berkecamuk tak mungkin anin sudah menikah sedangkan yang ia tau anin begitu mencintainya
"Ayah mandi dulu sana bau asem tau".
"Enak aja ayah tetep wangi tau bund". Terdengar gelak tawa kala iqbal dengan sengaja mengusap ketiaknya dan ditempelkan dihidung anin yang kebetulan sedang tak memakai cadar
"Ayah jorok tau". Anin kesal menutupi wajahnya
"Haha bunda dapet parfum alami ayah". Saut indah
"Kakak juga mau ternyata sini".
"Enggaaaakkkkk...". Indah berlari menuju kamar untuk menghindar. Kini terakhir adalah rafka, iqbal memgejar bocah kecil itu dan mengangkatnya tinggi tinggi
"Hayoo..mau kabur juga kamu ya"
"Ampun ayah rafka gak mau bau ketiak ayah." rafka meronta dan akhirnya terlepas. Bocah itu juga berlari kearah kamar
"Sekarang giliran bunda"
__ADS_1
"Udah ayah bau tau"
"Tapi bunda suka kan"
"ihh pd banget. Buruan sana mandi"
"Mandi bareng yuk bund".
"Gak mau, itu mah modus ayah aja ujung ujungnya juga...." Anin menggantung perkataannya
"Biarin udah halal juga, lagian kita kan harus buatin rafka adik". Tanpa basa basi iqbal menggendong anin menuju kamar. Tanpa sadar semua itu didengar oleh zayn
"Gak, gak mungkin anin udah nikah lagi, dia kan cinta banget sama aku gak mungkin secepat itu ia perpaling. Anin milikku gak boleh ada yang ngambil
Zayn yang frustasi memutuskan untuk segera menyusul anin. Keesokan paginya ia berangkat. Bunda yang mendengar jika zayn ingin memperjuangkan anin tentu saja setuju sebab ia belum tau jika anin sudah memiliki suami
Zayn tiba dibandara Sultan Mahmud Badarrudin II sekutar pukul 11 siang, ia segera menuju hotel dan nanti ia akan menghubungi nomor anin untuk menanyakan alamat rumahnya.
Ia beristirahar sejenak dan kemudian keluar untuk sekedar menikmati suasana sekitar dan mencicipi makanan khas yang dijual di beberapa kedai.
Sekitar pukul 3 zayn menghubungi anin dan kebetulan yang mengangkat adalah umi karna handphone anin tertinggal tadi
"Halo assalamualaikum"
"W wa'alaikumsalam umi". Sebenarnya ia masih takut untuk bertemu orang tua anin tapi keadaan lah yang memaksanya
"Iya ada apa zayn".
"Oh gitu rumah umi dikomplek xx nomor 265"
"Makasih umi"
"Sama sama". Pikir umi semoga aja gak ketemu biar mampus nyasar nyasar gak jelas
Zayn berkeliling menuruti petunjuk google maps. Ia sengaja menyewa mobil tapi karna ia yang sok sok'an justru membawanya kesebuah gang sempit dipemukiman padat penduduk
Hingga pukul 9 malam ia baru bisa kembali kehotel
"Sial, ternyata mencarinya tak semudah yang aku kira. Sepertinya besok aku naik taksi saja".
Esok harinya sekitar pukul 9 pagi dia menaiki taksi untuk membawanya menuju alamat rumah umi. Ternyata justru alamat tersebut tak jauh dari hotel tempatnya menginap
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam". Umi yang kebetulan membuka pintu terkejut. Meski masih kesal jika mengingat perlakuan zayn pada putrinya dulu tapi ia berusaha untuk biasa saja karna bagaimanapun zayn adalah ayah kandung rafka, cucunya.
"Ehh zayn sini masuk". Zayn mencium tangan umi
"Maaf mengganggu waktunya umi"
"Gak papa. Kapan kamu sampai"
__ADS_1
"Kemarin umi, tapi karna masih ada pekerjaan jadi baru bisa kesini sekarang". Salah satu asisten mengantar minuman dan cemilan
"Ngomong ngomong rafkanya dimana umi"
"Rafka lagi ikut bundanya kesupermarket. Bentar lagi pulang kok. Ayo diminum tehnya"
"Iya umi terimakasih". Terdengar deru mesin mobi
"Itu dia rafkanya pulang". Rafka berlari masuk rumah sambil membawa mainan
"Halo sayang ada papa, salim dulu". Dengan sopan rafka menuruti perintah eyangnya, rafka sangat berbeda dengan arletta dan anggika.
Anin masuk membawa kantong belanja dengan dibantu satpam. Ia terkejut kala mendapati zayn dirumah ini, ia hanya menangkupkan kedua tangannya dan berlalu tanpa bicara. Ia harus memasak sebab siang ini iqbal bilang ingin makan siang dirumah.
Zayn tak berbicara lagi kala anin mengabaikan dirinya, jangankan untuk mengobrol menyapa saja tidak.
Aroma masakan menguar keseluruh penjuru rumah, Ayam bakar kesukaan suaminya, ada udang tempura, steak salmon untuk anak anaknya dan tak lupa salad sayur sebagai penyeimbang.
Indah pulang dari sekolah, menyalami eyang dan zayn. Zayn ingin bertanya tapi diurungkan, mungkin anak dari keluarga umi. Ia melanjutkan bermain dengan rafka. Tapi lagi lagi dikejutkan dengan kedatangan pria tampan dengan tubuh tinggi tegap
"Ayah". Rafka berdiri menyambut iqbal
Deg jantung zayn tak dapat dikondiskan lagi
"Anak ayah lagi main apa".
"Main robot tadi beli sama bunda di mall". Anin menghampiri mencium tangan iqbal dan iqbal mencium keningnya, itu semua terjadi dihadapan zayn
"Ayah kenalin ini zayn papanya rafka. Zayn ini bang iqbal suami anin". Mereka berdua berjabat tangan. Ucapan anin barusan mengoyak hati zayn
"Salam kenal zayn. Tak apa bukan aku memanggilmu nama karna sepertinya kau lebih muda dariku"
"Tidak apa"
"Ya udah rafka main dulu ya sama papa zayn ayah mau bersih bersih dulu"
"Siap ayah"
"Saya tinggal dulu ya zayn"
"Silahkan". Iqbal memeluk pinggang anin posesif. Sampai dikamar
"Kenapa bunda gak ngabarin ayah kalau ada papanya rafka"
"Gimana mau hubungin ayah, bunda aja baru tau pulang dari belanja tadi terus langsung masak. Selesai masak ayah pulang. Gimana dong". Iqbal diam saja
"Jangan ngambek sayang". Anin mencuri ciuman dibibirnya
"Sayang mandi yuk". Anin sengaja menggoda. Mendengar ajakan itu tentu saja tak disia siakan oleh iqbal
"Awas kamu buda". Iqbal mengangkat tubuh anin menuju kamar mandi. Zayn mebdengar gelak tawa dari kamar yang dimasuki iqbal dan anin tadi hatinya begitu pedih
__ADS_1