
Indah berjalan kearah kamar dengan wajah murung. Anin dan iqbal saling pandang
"Biar bunda yang coba bicara". Anin mengikuti langkah indah, sampai dikamar indah diam diam menangis dan anin menghampirinya. Tanpa bicara anin memeluk sayang putri sambungnya itu, meski sempat terkejut tapi akhirnya indah membalas pelukan bundanya. Setelah sedikit tenang
"Kamu kenapa ? cerita sama bunda". Anin menangkup kedua sisi pipi indah
"Indah gak papa bund". Tapi lagi lagi air mata menetes
"Cerita sama bunda ada apa, katanya kakak gak akan nutupin apapun dari bunda hem?". Lagi lagi indah memeluknya, dalam pelukan anin ia mencurahkan kegundahan hatinya
"Indah takut kalau nanti bunda punya anak bunda gak sayang lagi sama indah". Indah berkata dengan sesegukkan dan anin mengelus kepalanya
"Emang siapa yang bilang gitu?"
"Indah kan bukan anak kandung bunda. Indah takut, indah gak mau kalau bunda gak sayang lagi sama indah"
"Dengerin bunda baik baik, indah, rafka dan juga adik yang dalam perut bunda semuanya akan bunda sayangi, gak ada yang namanya anak kandung atau anak tiri dalam hidup bunda, baik kamu ataupun anak anak bunda yang lain kalian semua akan sama dimata bunda. Bunda gak mau janji apapun sama indah tapi bunda akan berusaha selalu ada buat indah sesibuk apapun itu. Jadi indah jangan ada fikiran bahwa bunda bakalan beda bedain kalian".
"Beneran bund?. Kata kata bunda gak cuma buat nenangin indah kan?"
"Ya enggak lah buat apa bunda pura pura?. Emang selama ini indah gak bisa ngerasain kasih sayang bunda ?"
"Ngerasain lah bund"
"Makanya jangan berfikiran yang enggak enggak. Emang selama ini bunda pernah mukulin indah?"
"Enggak bund. Kalaupun bunda marah itu juga pasti karna indah yang salah". Indah menunduk mendengar penuturan bundanya
"Nah..sekarang jangan sedih lagi, apapun keadaannya bunda bakalan tetep sayang sama kamu sama seperti bunda sayang keadik adik kamu"
"Makasih ya bund"
"Sama sama sayang, ya udah kamu siap siap gih nanti kesiangan". Indah mengangguk dan anin mencium kedua pipinya
__ADS_1
"Ya udah bunda juga mau siap siap buat kedokter" anin berdiri hendak melangkah
"Tunggu bund". Indah menunduk dan mengelus perut anin dengan sayang
"Selamat datang dikeluarga kita adik bayi, selalu sehat diperut bunda ya jangan buat bunda susah". Indah lantas mencium perut anin
"Bunda hati hati kalau mau ngapain aja bilang sama indah nanti indah bantuin". Seulas senyum terukir dibibirnya
"Iya sayang. Ya udah bunda keluar dulu ya". indah mengangguk, tepat setelah menutup pintu ada lengan kekar melingkar diperutnya, anin sudah tau tangan siapa itu karna dari aroma tubuhnya yang membuat anin begitu candu
"Makasih ya sayang udah nerima indah seperti anak kandung kamu sendiri". Iqbal meletakkan dagunya dipundak anin
"Iya bang sama sama. Ya udah anin mau siap siap dulu nanti telat lagi sampai kedokternya"
"Cium dulu dong"
"Malu bang nanti ada yang lihat". Wajah anin bersemu merah
"Bund yang sebelah iri minta dicium juga". Iqbal sengaja menjahili istrinya
"Ayah ih malu tau". Tapi tak urung anin juga mencium pipi sebelah kanan iqbal dan buru buru kabur dari hadapan pria itu
"Jangan lari bund". Iqbal khawatir melihat anin yang berjalan dengan setengah berlari. Ucapan iqbal hanya diacungi jempol oleh anin.
Setelah semuanya siap segera mereka berangkat mengantar indah terlebih dahulu kemudian menuju keklinik tempat anin membuat janji temu dengan dokter kandungan.
Ternyata dokter kandungan itu wanita dan usianya seumuran dengan anin sehingga ia nyaman untuk berkonsultasi. saat melakukan USG bayi dalam kandungan anin sudah berusia sekitar 10 minggu, cukup mengejutkan karna selama ini anin tak merasakan tanda tanda kehamilan hanya saja nafsu makannya meningkat beberapa waktu terakhir
"Bunda mana adik bayinya". Rafka bingung kala melihat gambar yang hanya hitam putih itu
"Ini abangnya ya wah pinter sekali udah besar lagi. Abang mau lihat adik bayi?"
"Iya, mana adik bayinya kata bunda ibu dokter bisa nunjukin ke rafka"
__ADS_1
"Adik bayinya masih kecil sekali jadi abang baru bisa lihat kayak gini". Dokter menunjuk titik hitam yang sudah mulai membentuk
"Nanti kalau udah besar kita lihat lagi ya"
"Iya bu dokter". Rafka begitu penurut mendengar penuturan dokter muda itu, dokter itu lantas beralih bicara pada anin dan iqbal
"Selamat ya bu usia kehamilan anda sudah memasuki minggu kesebelas. Apa sebelumnya ibu tidak merasakan tanda tanda kehamilan"
"Tidak dok, hanya saja saya lebih sering merasa lapar malam hari"
"Tidak apa apa, tapi usahakan untuk makan makanan yang sehat saat malam hari seperti roti gandum misalnya atau buah juga tak masalah dan jangan lupa untuk selalu meminum susu hamil ya"
"Iya dok"
"Buat bapak tolong kerja samanya untuk membuat ibu anin nyaman dan tidak stres, usahakan untuk membuat mood ibu hamil selalu bahagia karna itu akan berdampak baik pada janin yang ada dikandungannya. Ini saya kasih resep untuk menguatkan kandungan ibu nanti silahkan ditebus". Dokter menyerahkan selembaran kertas
"Terimakasih dok. Kalau begitu kami permisi dulu"
"Sama sama pak silahkan".
Mereka bertiga lantas menuju apotek dan menebus resep tersebut. Selama kehamilan tak ada kendala serius yang dialami anin, iqbal juga selalu siaga membantu sang istri begitupun juga dengan anak anaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kondisi berbeda dialami oleh zayn, pria itu masih memiliki niat untuk merebut anin tapi pengawasan ayahnya begitu ketat.
Kondisi istrinya yang tak kunjung sembuh membuatnya semakin frustasi. Entah setan mana yng sudah merasukinya, setiap malam ia akan pergi keclub hanya untuk minum dan melepas hasratnya pada wanita penghibur dan akan pulang menjelang subuh dengan kondisi mabuk.
Tubuhnya semakin kurus dan tak terurus, ia kerap kali mengalami demam, sakit kepala dan nyeri dipersendian tapi tak sekalipun ia hiraukan. Ia ceroboh karna tak memperhatikan kesehatannya.
Bunda dan ayah andi sudah berusaha menasehati tapi tak ada dihiraukannya. Ia mengancam jika berani melarangnya bersenang senang maka ia akan menyakiti riska dan ia akan merebut anin bagaimanapun caranya termasuk jika harus menghabisi nyawa seseorang.
Seperti malam ini zayn lagi lagi datang keclub untuk mencari wanita. Ia didekati wanita yang sedang menjadi primadona di club tersebut. Transaksi terjadi dan zayn membawanya kehotel, namun baru saja hendak menyatukan diri lagi lagi ia merasa sakit kepala dan nyeri dipersendiannya tapi tetap saja ia melanjutkan aktifitasnya meski tubuhnya terasa tak mampu, baginya inilah caranya melupakan anin meski untuk sesaat
__ADS_1