
Zayn masuk kekamar anin dan duduk tepat disebelah ranjang. Dapat ia lihat wajah yang begitu pucat dengan mata terpejam, tubuh yang terlihat lebih kurus serta terdapat lingkaran hitam dibawah mata tanda bahwa wanita dihadapannya ini tak bisa tidur.
Ia melihat sudah hampir 7 botol bekas infus yang masih tergeletak dipojok ruangan
Ia lantas mengelus kepala anin dengan pelan berharap sang sahabat tak terbangun tapi itu hanya sia sia sebab mata anin langsung terbuka
"Zayn". Gerak mulut terlihat tapi tanpa ada suara
"Ya ini aku". Zayn berusaha untuk tak meneteskan air mata melihat kondisi sang sahabat
"Apa kau menginginkan seauatu aku akan mengabulkannya untukmu"
Anin hanya menggeleng dan berusaha tersenyum
"Aku membawakanmu boneka kelinci kecil. Aku tak akan merebutnya lagi darimu seperti dulu". Zayn berusaha menghibur anin
"Terimakasih". Hanya itu yang keluar dari mulutnya tanpa ada suara
"Kau cepatlah sembuh aku ingin mengajakmu jalan jalan". Rayu zayn
Anin hanya mengangguk. Tak banyak respon yang siberikan anin.
"Apa kau mau buah aku akan mengupasnya untukmu". Zayn masih berusaha mengajak anin bicara
"Tidak usah. Aku hanya ingin istirahat, kau boleh pulang". Anin sedikit mengusir zayn dengan nada yag begitu pelan
"Tidak, aku akan menemanimu disini".
"Tak baik calon pengantin berada diluar rumah terlalu lama. Pulanglah aku pasti sembuh kau tak perlu khawatir".
"Aku ingin disini sebentar saja".
belum sempat anin menjawab abah, dan umi datang bersama seorang dokter wanita hampir seusia sang bunda
"Waahhh mbak anin ada yang nemenin". Sang dokter berusaha membuat anin bahagia
"Mbak harus sembuh kasian temennya sedih tuh liat kondisi mbak"
Anin hanya tersenyum sebagai respon
"Masnya keluar dulu ya soalnya saya mau periksa mbak anin dulu"
"Iya dok"
Serangkaian pemeriksaan dilakukan setelah selesai dokter mengajak ayah mansyur untuk bicara diluar
Zayn yang kebetulan dari toilet mendengar ucapan sang dokter
"Begini pak kondisi anin semakin lemah kita harus segera membawanya kerumah sakit agar saya bisa terus memantau. Jika sampai besok kondisinya tak setabil anin juga harus berkonsultasi dengan psikiater agar mentalnya bisa segera di atasi. Kalau ia bisa menceritakan segala keluh kesahnya mudah mudahan beban fikirannya berkurang itu dapat memicu anin untuk segera sembuh".
"Lakukan aapun yang terbaik dok untuk putriku". Abah berusaha untuk tegar
__ADS_1
"Pasti pak". Dokter lantas pamit pulang.
Zayn mendengar semuanya ia tak menyangka jika sang sahabat sampai seperti ini karna dirinya. Ia segera menuju kamar anin
"Anin kau tak ingin mengatakan apapun padaku. ku mohon bicaralah"
Umi langsung menyela
"Zayn umi mohon jangan membuat anin semakin tertekan"
"Tak apa umi biarkan zayn bicara". Jawab anin
"Apa kau yakin nak". Anin hanya mengangguk umi hanya mampu terdiam lantas ia duduk disofa kamar anin
"Apa yang ingin kau tau zayn?"
"Kenapa kau bisa sampai sakit seperti ini"
"Aku hanya kelelahan. Terlalu banyak pikiran sebab aku begitu sibuk kuliah dan mengurus cafe"
"Kau bohong. Tidak biasanya fisikmu selemah ini. Aku mohon katakan apapun itu aku akan mendengarnya. aku akan mengabulkan apapun itu asal kau bisa sembuh".
anin tersenyum "Aku tak ingin apapun zayn sekrang aku hanya ingin istirahat kau pulanglah. Aku pasti sembuh kau tak perlu khawatir fokuslah pada acaramu bukankah tak lama lagi kau akan menikah aku tak ingin sahabatku terlihat jelek dihari pernikahannya".
"Tapi anin aku.." belum selesai zayn bicara anin sudah menyela
"Pulanglah aku pasti sembuh".
Umi menarik lembut tangan zayn
"Pulanglah jangan membuat putriku semakin tak nyaman karna adanya dirimu". Ini pertama kali umi berbicara kasar padanya. Setelah itu umi langsung masuk ke kamar anin dan menutup pintunya.
Zayn terdiam didepan pintu tapi ia samar samar masih bisa mendengar suara tangisan yang ia yakini itu adalah anin.
Zayn pulang dengan pandangan kosong. Setiap harinya zayn akan datang kerumah anin berharap diizinkan bertemu dengan anin tapi itu semua hanya angan. Setiap ia datang abah pasti akan menghindar dan umi tak pernah mau mengizinkan.
Nina dan dika hari ini menjenguk anin lebih tepatnya dika hanya mengantar setelah itu ia langsung menuju cafe.
Nina hampir setiap hari datang meskipun hanya sebentar hari ini ia memiliki banyak waktu luang ia ingin mengajak sang sahabat menenangkan hati
"Sssalamualaikum". Nina dan dika mengucap salam bersama
"Waalaikum salam ehh kalian mari masuk". umi mempersilahkan duduk
"Gimana kabar anin umi?" tanya dika
"Masih sama". jawab umi lesu
"Gini umi hari ini kan nina gak ada kegiatan rencananya nina mau ngajak anin jalan jalan boleh gak umi".
"Tentu boleh siapa tau dengan begitu anin bisa lebih baik. Ya udah ayo kita kekam7ar anin".
__ADS_1
"Dika gak ikut umi soalnya mau langsung ke cafe".
"Ohh gitu ya udah gak apa apa hati hati di jalan nak"
"Iya umi". Dika lantas mencium tangan umi aida
"Sayang aku berangkat ya kamu hati hati kalau ajak anin"
"Siap hubby". Dika mencium kening nina lantas pergi meninggalkan rumah.
Saat dikamar anin.
"Beb jalan jalan yuk cari suasana seger gitu. Gak suntuk apa kamu dikamar mulu".
Anin terdiam sambil berfikir
"Boleh deh aku juga capek disini terus"
Anin berganti pakaian dibantu sang umi, nina mendandaninya agar tak terlalu pucat. Mereka berdua menuju ke taman bermain anak anak yang ada dikomplek sekitar rumah anin menggunakan mobil
Anin turun perlahan dan duduk disalah satu kursi yang tersedia
"Kau tau anin, saat aku sedih aku akan melihat anak anak seperti ini"
"Kenapa begitu?"
"Ya, coba kau lihat betapa bahagianya hidup mereka, tak ada masalah. Kau lihat dua anak itu". nina menunjuk dua anak yang sedang bertengkar "Sekarang mereka bertengkar bahkan salah satunya pasti menangis tapi tak lama lagi mereka akan segera berbaikan dan bermain bersama lagi, hidup mereka simpel bukan ?"
"Ya kau benar"
"Hanya kita orang dewasa yang terlalu berfikir rumit". Imbuh nina.
"Kau ingin melihat yang lain?",
"Apa ?" tanya anin
"Syo ikut aku".
Nina mengajak anin kesalah satu panti asuhan.
"Kau lihat, mereka hidup tanpa tau siapa orang tuanya tapi itu tak membuat mereka sedih bahkan mereka bisa hidup rukun layaknya saudara di tempat ini tanpa tau latar belakang masing masing".
Anin terdiam lama ia berfikir akhirnya ia tersadar bahwa hidupnya masih harus terus berlanjut. masih banyak hal yang ingin ia capai salah satunya membahagiakan orang tuanya.
Sejak hari dimana nina mengajaknya ke panti anin bertekat untuk sembuh ia tak ingin terpuruk bahkan pada hal hal yang menurutnya tidak penting.
Nina berusaha memperbaiki diri agar lebih dekat kepada sang pencipta, mulai saat ini ia juga menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan.
Ia akan berusaha menerima pernikahan zayn dan gadis.
Saat ini ia membuka satu cabang cafenya didaerah lembang bandung tak jauh dari villa milik keluarganya agar lebih sibuk dan tak memikirkan zayn.....
__ADS_1
lope lope semuanya...😗