Melepasmu Ku Ikhlas

Melepasmu Ku Ikhlas
Sabar


__ADS_3

Dengan penuh kesabaran anin merawatku, tak sekalipun terdengar ia mengeluh. Ia juga membuatkanku makanan sehat untuk mempercepat roses penyembuhanku, bahkan zelama aku sakit tak sekalipun ia berangkat ke cafe


Setiap pagi ia membantuku ke kamar mandi, dan dengan cekatan ia menyiapkan semua kebutuhanku. Setitik rasa hadir kala mendapat perlakuan manis darinya.


Sekalipun aku kerap dengan sengaja membuatnya kesal tapi tak pernah ia marah atau berbicara lantang padaku.


Hingga aku benar benar pulih setelah seminggu berbaring dirumah


"Sarapan dulu mas" sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi terhidang dihadapanku.


"Terimakasih." Pertama kalinya aku mengucapkan itu selama setahun kami menikah. Terpaku, anin menghentikan kegiatan tangannya sebentar dan menoleh padaku lantas tersenyum tapi hanya terlihat dari matanya yang menyipit.


Ia mengantarku kedepan membawakan tas serta menuntun arletta


"Papa berangkat ya jangan nakal dirumah sama bunda". Ini juga pertama kali aku memanggilnya dengan panggilan bunda untuk putriku


"Iya papa, papa jangan pulang malam lagi ya bial gak sakit"


"Iya sayang". Aku berpamitan tapi saat hendak berbalik tanganku dicekal oleh anin


"Kenapa?". Tanpa bicara ia meraih tanganku dan menciumnya dengan takzim


"Assalamualaikum mas"


"Wa'alaikum salam". Rupanya ia mencium tanganku dan mengucap salam karna tadi aku lupa tak mengatakannya.


Hatiku berdesir. Beginikah rasanya memiliki istri sholeha, sebahagia inikah hati kita ketika memiliki istri yang berbakti. Sepanjang jalan bibirku melengkungkan senyum. Teringat kala anin mencium tanganku, menyiapkan sarapan, bahkan semua kebutuhanku sudah tersedia dengan rapi dan wangi.


Sampai dikantor aku membalas semua sapaan karyawan. Ada yang heran ada juga yang biasa saja. Kegiatan dikantor terasa begitu mudah bahkan pekerjaan yang biasanya sampai menumpuk kini bisa kuselesaikan bahkan sebelum jam makan siang.


tok tok tokkk


"Masuk".


"Maaf tuan ada nyonya anin dan nona arletta"


"Suruh mereka masuk".


Kenapa anin tak langsung masuk, sebab dulu aku pernah membentaknya saat ia datang untuk mengantar makan siang, dan aku mengatakan jika ia ingin mengantar makan siang maka harus bertanya pada sekretarisku dulu apa aku mau menemuinya atau tidak.


Sejak saat itu ia akan datang dan meminta sekretarisku untuk bertanya padaku terlebih dahulu. Kini aku berfikir kenapa dulu aku begitu kasar padanya padahal tak sekalipun ia membuat kesalahan.

__ADS_1


"Papa" putri kecilku berlari dan memelukku erat


"Papa makan siang ya al bawa makanan. Enak pa bunda yang masak"


"Iya sayang". Tanpa bicara anin meraih tanganku dan mengucap salam setelahnya ia hanya duduk dan menyaksikan intetaksi antara aku dan arletta. Setelah hampir lima belas menit aku bercanda dengan arletta


"Sayang udah dulu mainnya, papa biar makan siang dulu kasian papanya nak"


"Aku juga mau bunda." Putiku begitu manja padanya tapi ia dengan sabar menghadapinya.


Menu makan siang dengan sop iga, sambal goreng kentang dan udang goreng tepung terasa begitu nikamat. Memang masakan dari tangannya tak pernah mengecewakan.


Tak ada yang terjadi setelah acara makan siang itu. anin tetap perhatian mengurus kebutuhanku hanya saja ia membuat jarak antara kami berdua.


Sore hari aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Saat sampai rumah


"Ar mana bik"


"Nona sedang pergi bersama nyonya besar tuan". Setelah mengangguk aku memutuskan untuk kekamar badan terasa begitu lengket. Saat membuka pintu tak kudapati siapapun, mungkin anin ikut bunda, aku melangkah masuk meletakkan tas dan menuju kamar mandi. Tapi saat hendak membuka pintu kamar mandi


"Astaghfirullahal azim". Anin setengan memekik Ternyata ia berada dikamar mandi. Aku terkejut melihatnya untuk pertama kali tanpa penutup kepala dan hanya mengenakan handuk kimono.


Rambutnya hitam panjang dan terlihat begitu halus, kulitnya putih mulus aku memandanginya tanpa berkedip. Aku terpesona dan tiba tiba gelora itu muncul. Aku pria normal apalagi sudah pernah merasakan penyatuan, hanya dengan melihatnya seperti itupun aku sudah ber***h.


Aku terkejut memdapati zayn sudah berada didepan pintu kamar mandi, sedangkan aku hanya mengenakan handuk. Malu sudah pasti tapi apa mau dikata aku tak tau jika ia akan pulang secepat ini, tak biasanya ia sudah berada dirumah sedang hari masih sore. Tak ada niat untuk menggodanya.


Tatapannya membuatku takut. Bukan marah, aku tak tau ekspresi apa itu tapi yang pasti ia memandangiku tanpa berkedip. Segera aku menuju walk in closet menghindari dirinya. Aku tak mau jika dianggap aku menggodanya nanti.


POV End.


Segera zayn masuk kekamar mandi. Sekuat tenaga menahan hasrat meski pada akhirnya sabun mandilah penawarnya.


Malam hari keduanya terlihat canggung setelah kejadian tadi. Sedangkan dimeja makan hanya ada mereka berdua karna bunda ayah dan arletta sedang pergi keluar.


Tapi anin berusaha untuk biasa saja. Dengan cekatan ia mengambilkan nasi dan lauk untuk zayn


"Silahkan mas"


"Terimakasih". Acara makan berjalan lancar, setelah selesai anin membersihkan sisa makanan dan membereskan piring kotor sedangkan zayn memutuskan untuk istirahat dikamar.


Anin menuju kamar. Lagi lagi suasana canggung tercipta diruangan yang tak terlalu luas itu. Anin berusaha menetralkan detak jantungnya dengan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isya'

__ADS_1


Seluruh aktifitas telah selesai anin berbaring disebelah zayn dengan memunggungi pria itu


"Anin" Deg jantung anin berdetak kencang ada apa, tak biasanay zayn memanggilnya dengan lembut. Hening tak ada jawaban dari wanita itu


"Kau sudah tidur". Perlahan tangan zayn menyentuh pundaknya. Anin terkejut dan langsung duduk


"Ya ada apa?". Sebenarnya zayn pun merasakan desiran aneh kala menyentuh istri sirinya itu


"Maafkan aku. Maafkan atas sikapku selama ini. Tak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu"


Hati anin bagai disiram ribuan bunga. Anin tersenyum tulus. Senyum yang kelak akan sangat ia rindukan.


"Iya. Aku juga minta maaf selama ini belum bisa menjadi istri yang baik untukmu mas"


Perasaan zayn menghangat. Dengan perasaan ragu zayn memegang kedua tangan anin


"Izinkan aku untuk belajar mencintaimu". Anin mengangguk pasti


"Kau sabar untuk menanti bukan?"


"Ya, aku akan sabar menanti sampai mas bisa memcintaiku".


Zayn memeluk anin untuk pertama kalinya. Tubuh yang begitu menenangkan jiwa, memeluknya membuat zayn begitu nyaman. Entah keberanian dari mana zayn mencium kening anin dan beralih ke pipi. Wajah anin merona, untuk pertama kalinya sang suami memperlakukan dirinya layaknya istri sesungguhnya.


Hasratnya menggebu menuntut lebih tapi ia masih menahannya sebab itu akan terasa terlalu cepat.


Tok tok tokkkk


"Bunda buka pintunya". Tiba tiba arletta datang. Anin buru buru membuka pintu


"Bunda ayo temenin al tidul"


"Ayo sayang". Kedua wanita beda generasi itu menuju kamar yang ada disebelah ruangan itu. Zayn terdiam dikamar dan menunggu sang istri tapi hingga jam setengah sepuluh malam anin tak kunjung membali, akhirnya zayn menyusul. Saat membuka pintu ia mendapati anin dan arletta tidur dengan saling memeluk, lebih tepatnya arletta yang memeluk anin


"Anin ayo bangun". Zayn menggoyang pelan bahunya


"ehhmmmm" anin menggeliat, dengan sedikit terkejut


"Ada apa mas"


"Pindah yuk kekamar kita"

__ADS_1


Anin yang belum sepenuhnya sadar hanya melongo akhirnya zayn yang sudah tak sabar langsung menggendong anin ala bridal


__ADS_2