
Zayn berjalan kaki menuju butik setelah sampai ia meminta pada salah satu karyawan butik untuk mencarikan pakaian syar'i ia hanya menunggu sembari duduk.
Bayangan kegiatan panas tadi membuatnya tersenyum sendiri. Bagaimana tidak anin yang pemalu bisa begitu liar saat sedang berdua dengannya. Anin tak malu untuk belajar hal hal baru tentang urusan ranjang. Zayn akui tubuh anin bagaikan candu untuknya.
"Maaf tuan anda ingin yang warna apa" Karyawan butik mambuyarkan lamunannya. Ia menoleh dan mendapati karyawan wanita itu membawa sekitar empat stel pakaian syar'i. Pilihannya terpaku pada gamis simpel tapi elegant
"Aku ingin yang warna maroon."
"Ukurannya apa tuan?"
"Yang kau pegang itu saja"
"Baiklah tuan silahkan ke kasir saya siapkan pakaiannya". Zayn hanya mengangguk.
Setelah berganti pakaian mereka berdua memutuskan untuk makan malam romantis disalah satu cafe. Banyak hal yang mereka berdua lakukan. Zayn ingin menikmati waktu berdua dengan istri sirinya itu.
Sampai kini zayn belum juga mengurus perceraiannnya dengan gadis. Entah apa yang ia tunggu tapi anin mencoba untuk mengerti.
Hari hari dilalui dengan kebahagiaan. Tak sekalipun zayn menyakiti hati anin. Anin begitu mempercayai suaminya itu.
Mereka berdua sepakat untuk tak menunda momongan sebab arletta juga yang sudah berumur 6 tahun membuat zayn memutuskan untuk memiliki anak dengan anin.
Empat bulan sudah semenjak pertama mereka melakukan penyatuan pagi ini tiba tiba anin mengalami pusing dan badannya terasa demam
"Sayang kita kedokter ya aku gak mau kamu kenapa napa"
"Tapi gendong". Sudah beberapa hari ini anin begitu manja padanya, zayn sebenarnya bingung dengan perubahan sikap anin yang kadang manjanya tak melihat situasi dan kondisi.
Sampai dirumah sakit dokter yang semula memerikasa justru menyarankannya untuk ke dokter obgyn. Meski sempat bingung tapi anin dan zayn tetap menurutinya.
"Selamat siang ibu ada yang bisa saya bantu". Sapa seorang dokter wanita paruh baya
"Begini dok, istri saya mengalami pusing dan demam tapi dokter umum menyarankan saya untuk memeriksanya disini. Kira kira istri saya kenapa ya dok"
Dokter tersebut tersenyum
__ADS_1
"Baiklah mari kita periksa dulu"
Anin dipersilahkan berbaring. Dokter mengoleskan gel ke perut anin dan segera memutar transducer. Terdengar detak jantung dan dokter menunjukkan titik hitam dilayar monitor
"Selamat buk anda akan menjadi seorang ibu. Anda lihat titik hitam dilayar itu adalah calon janin anda. Usianya kira kira 8 minggu.
Anin menangis bahagia begitupun zayn pria itu bahagia mendapati dirinya yang akan menjadi papa untuk yang kedua kalinya.
"Tolong istrinya lebih diperhatikan ya pak, jangan terlalu lelah, dan jangan terlalu sering melakukan hubungan dulu pada trimester pertama ini".
Anin merona mendengar penuturan dokter sedang zayn pria itu biasa saja sebab dulu pun ia pernah mengalami ini.
Setelah pemeriksaan mereka langsung pulang dan memberitahukan kepada seluruh anggota keluarga.
Semuanya menyambut bahagia terutama arletta gadis kecil berumur 6 tahun itu begitu antusias mengetahui jika ia akan memiliki adik.
Berita bahagia ini juga disampaikan pada abah dan umi, mereka sangat bahagia karna akan memilki cucu lagi. Apalagi ini adalah cucu pertama mereka.
Banyak larangan saat anin hamil, terutama masalah cafe sepenuhnya menjadi tanggung jawab dika.
Entah apa yang terjadi beberapa hari lalu ia mengalami pendarahan ringan itulah yang membuatnya harus bed rest.
Hingga kehamilan mulai memasuki trimester 2 zayn menjadi lebih pendiam dan terkesan cuek pada anin. Beberapa kali anin memintanya untuk membelikan makanan saat zayn pulang dari kantor tapi tak pernah lagi diturutinya.
Anin juga beberapa kali berinisiatif mengajak berhubungan tapi zayn seolah menghindar. Bahkan saat anin dengan sengaja menggodanya tak ada tanggapan dari zayn, zayn juga lebih sering pulang lewat tengah malam dengan alasan pekerjaan.
Perubahan sikap zayn itu tentu memberikan tekanan tersendiri bagi anin. Siang ini ia berencana mengantar makanan untuk sang suami dengan harapan bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi ternyata saat sampai kantor
"Maaf bu pak zayn sudah keluar dari satu jam yang lalu". Sang sekretaris memberitahukan begitu anin saampai
"Apa ada jadwal meeting dengan klient diluar atau bagaimana"
"Kalau jadwal klient tidak ada karna sudah hampir satu bulan ini pak zayn selalu meminta jadwal meeting dilakukan pagi hari dan beliau selalu minta untuk mengosongkan jadwal pada jam setelah makan siang karna beliau akan pulang"
Deg pikiran anin jadi tak karuan
__ADS_1
"Baiklah terimakasih". Bergegas ia menuju mobil.
POV Anin
Dimana kamu mas, apa yang membuatmu berubah. Dimana aku harus mencarimu, kau selalu bilang sibuk dengan pekerjaan tapi nyatanya apa, bahkan sekretarismu mengatakan sebaliknya. Apa yang kau sembunyikan dariku mas.
POV End
Anin pulang dengan pikiran kosong, ia mengelus perutnya yang mulai membuncit. Lagi lagi ia mengalami kram di perutnya. Berulang kali mengucap istigfar dan mengelus perutnya. Sopir yang mengantarnya sampai khawatir melihat kondisinya dan memawarkan untuk kerumah sakit tapi anin menolak.
"Antar aku kerumah umi saja pak"
"Baik nona". Mobil berbelok ke arah gerbang rumah orang tuanya
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam" Umi membuka pintu dan mendapati wajah putrinya pucat
"Ya allah nak kamu kenapa". Umi memapah anin masuk
"Abah kemana umi"
"Abah sedang keluar kota ada kunjungan kesalah satu yayasan kita. Ada apa nak cerita sama umi"
"Umi sebanarnya anin gak mau su'uzon tapi bagaimana lagi pikiran anin kacau"
"Apa maksud kamu ngomong yang jelas"
"Sudah satu bulan ini zayn berubah umi. Dia setiap hari pulang malam saat ditanya jawabannya lembur dikantor. Sedangkan tadi anin datang kekantor buat bawain makan siang sekretarisnya bilang sudah satu bulan ini zayn selalu pulang setelah jam makan siang. Anin tanya zayn pergi kemana dia bilang zayn pulang tapi nyatanya gak ada umi"
"Coba kamu hubungi dia. Apa mungkin dia ada masalah cuma gak mau ngasih tau kamu takut dengan kondisi kandungan kamu".
Anin menghubungi zayn berulang kali tapi selalu ditolak.
"Ya udah kamu tenang dulu, ingat kamu sedang hamil apalagi kandungan kamu lemah. Jangan sampai terjadi hal hal buruk nantinya. Tunggu zayn pulang coba tanyakan baik baik sama dia. Jangan langsung emosi, buat dia nyaman untuk cerita. Mungkin masalahnya berat kalau kamu emosi takutnya nanti dia lepas kendali dan menyakiti kamu"
__ADS_1
"Iya umi. Anin pamit pulang ya makasih nasehatnya. Anin khawatir nanti arletta nyariin"
"Iya sayang hati hati, pelan pelan aja jalannya"