
Hari demi hari zayn lalui, pagi sampai sore ia akan bekerja karna bagaimanapun perusahaan itu adalah tanggung jawabnya, setelah pulang kantor ia akan mencari gadis.
Berulang kali ia menghubungi nomor telpon milik sang istri tapi selalu berada diluar jangkauan.
Saat ini hari harinya dihabiskan dengan mencari sang istri hingga bunda akhirnya memutuskan untuk ikut membantu mengasuh arletta. Mau tak mau zayn harus setuju sebab tak ada pilihan lain. Hal itu juga setidaknya bisa membuat ia lebih tenang meninggalkan putrinya.
Anin yang melihat arletta kerap bersama bunda akhirnya memberanikan diri, awalnya hanya menyapa lama kelamaan hatinya terikat dengan gadis kecil itu.
Kedekatan itu semakin terjalin, baby arletta semakin terikat dengan anin, karna saat anin berada dirumahnya ia akan tenang. Zayn menyadari jika anaknya dekat dengan anin tapi ia pun tak bisa berbuat banyak sebab dirinya masih disibukkan dengan urusan kantor dan terutama urusan mencari sang istri, maka dari itu ia membiarkan ia fikir itu buakanlah masalah saat ini.
Hingga tiga tahun berlalu gadis tak juga ditemukan. Ia hilang bak ditelan bumi, dirinya mulai lelah mencari dan akhirnya menyerah. Sudah berbagai cara ia lakukan tapi tak juga berhasil, kini ia hanya bisa pasrah berdo'a semoga sang istri baik baik saja.
Selama tiga tahun ini pula arletta tumbuh menjadi gadis yang cantik dan pintar dalam didikan anin. Gadis kecil itu sudah menghafal beberapa do'a do'a seperti do'a mau makan dan sebelum tidur ia juga mulai meminta hijab kepada sang oma agar seperti anin. Semua dunianya seakan dipenuhi anin bahkan beberapa kali ia memanggil anin dengan sebutan bunda. Hingga akhirnya selepas maghrib zayn memutuskan untuk pulang cepat karna ia merindukan putri kecilnya karna biasanya ia akan pulang saat anaknya sudah tertidur dan akan pergi sebelum sang anak bangun.
"Papa!, oma papa pulang" arletta berlari kearah papanya, pelukan hangat dan ciuman sayang ia dapatkan dari sang papa
"Anak papa wangi sekali" Zayn masih menciumi pipi sang anak
"Siapa yang ngajarin ar pakai jilabab hem?"
"Gak ada, al pengen aja kayak tante anin pakai tutup muka tapi kata oma al belum boleh makanya cuma pakai jilbab." Gadis kecil itu sudah pandai bicara hanya saja ia belum bisa mengucapkan huruf r maka dari itu ia menyebut dirinya al
"Pinter banget". Zayn lantas mengajaknya masuk
"ar disini ya sama mbak, papa mau bersih bersih dulu"
"Iya papa"
zayn lantas menuju kamarnya yang ada dilantai dua. Setelah selesai ia menghampiri arletta
"Oma mana sayang"
"Lagi didapul masak. Papa lapel kita makan yuk"
"Yaudah ayo papa juga lapar" mereka berdua menuju dapur dan melihat bunda yang menghidangkan makanan. Bunda lantas menyuruh salah satu asisten untuk memanggil sang suami sedangkan ia menyiapkan kursi untuk arletta duduk, memasang slabber agar tak belepotan saat makan. Acara makan dilalui dengan celotehan riang dari arletta yang menceritakan tentang anin yang mengajarinya mengaji, menghitung, dan mengenal huruf abjad. Sesekali para orang tua menimpali atau bahkan menertawakan. Setelah makan zayn menuju kekamar karna merasa begitu lelah arletta juga ikut kekamar sang papa dan meminta tidur bersama.
"Pa, mama kemana sih kenapa al gak pelnah liat. Kata tante anin mama kelja. Kalau kelja boleh gak al telpon mama". Ucapan anak polos itu mengoyak hati zayn
"Besok aja ya sayang sekarang kan udah malem kasian mama siapa tau mama lagi istirahat"
__ADS_1
"Kenapa mama halua kelja, kan udah ada papa yang tiap hali kelja".
"Kan supaya uangnya banyak jadi ar bisa beli boneka yang besar"
"Papa aja yang kelja, mama dilumah aja sama al. Al janji kok gak minta boneka besal"
Gadis kecil itu masih saja merengek menanyakan mamanya
"Iya besok papa bilang sama mama. Sekarang ar tidur ya udah malem"
"iya papa" ar lantas gosok gigi dan mencuci kaki setelah selesai ia menuju ranjang dan berdo'a.
Pagi harinya saat semua orang hendak sarapan
"Pa katanya papa mau telpon mama, ayo pa telpon al pengen dengel suala mama"
Semua orang memandang kearah zayn
"Iya iya sayang" zayn menghubungi nomor gadis tapi masih saja tidak aktif
"Gak bisa sayanh nomor mama gak aktif"
"Udah gak usah nangis nanti kita coba telpon lagi"
"Gak mau al maunya sekalang"
"Tapi gak bisa sayang nomor mama gak aktif"
"Gak mau gak mau, al maunya sekalang!"
"Arletta!" Zayn membentak gadis kecil itu untuk pertama kalinya tentu saja ia terkejut. Ar berlari kekamar mengunci pintu dan menangis. Bunda berusaha mengejar
"Sayang buka pintunya ini oma nak. Ayo buka pintunya ar mau beli ayam goreng sama oma gak". Tak ada jawaban dari dalam hanya terdengar tangisan. Zayn dan ayah andi juga mengikuti
"Sayang maafin papa nak, ayo buka pintunya". Tatap tak ada jawaban
"Ar ini opa ayo buka pintunya, kita main ke timezone yuk sama oma dan opa". Pengasuhnya juga berusaha untu merayu tapi ar tetap tak mau
"Gak mau!". Ia masih tetap tak mau membuka pintu. Zayn mencari kunci cadangan tapi saat kunci diamsukkan dan diputar tidak bisa karna ternyata di dalam kunci masih menempel. Semua orang panik takut jika arletta melakukan hal hal berbahaya.
__ADS_1
"Bunda tau harus apa, tunggu sebentar".
Bunda lantas menelpon anin dan mengatakan apa yang terjadi, anin yang sudah akan berangkat kecafe memutar arah kembali menuju rumah bunda soraya. Sepuluh menit berlalu
"Assalamualaikum, bunda dimana mbok"
"Didalam non". Anin menuju kamar arletta dengan buru buru ia dapat melihat ada bunda, ayah, zayn dan juga pengasuh arletta. Saat anin tiba semua menyingkir
Tok tok tokkk
"Assalamualaikum sayang ini tante anin, buka pintunya nak". Ar yang mendengar suara anin lantas membuka pintu memeluk anin dengan erat. Anin mengajaknya masuk lagi kekamar dan duduk diranjang
"Ar kenapa nangis nanti gak cantik lagi lo"
"Al mau mama"
Degg hati anin mencelos
"Ar anak pintar kan"
ar mengangguk
"Kalau ar anak pintar sekarang ar gak boleh nangis, kalau ar mau mama pulang ar harus rajin sholat do'akan mama semoga urusan mama cepet selesai segera dan bisa pulang kerumah"
"Tapi al mau mama"
"Iya tante tau, emang ar mau mama dimarah sama bosnya karna pulang sebelum pekerjaanya selesai"
"Gak mau"
"Makanya ar gak boleh nangis sekarang doaka mama semoga kerjaanya cepet selesai dan bisa pulang". Arletta akhirnya mengangguk.
"Tante boleh gak al panggil mama sebelum mama al pulang. Al pengen punya mama"
Anin menoleh kearah bunda dan zayn bergantian, bunda mengangguk sedangkan zayn malah memalingkan muka.
"Huff..."Anin membuang nafas pelan
"Mama ar cuma satu yaitu mama gadis, tapi kalau ar mau ar bisa panggil tante denga sebutan bunda, mau ?". Anin mengatakan seperti itu agar tak ada yang merasa kecewa
__ADS_1