Melepasmu Ku Ikhlas

Melepasmu Ku Ikhlas
Akad


__ADS_3

Iqbal diantar oleh keluarganya menuju masjid, para tetangga juga ikut menjadi saksi pernikahan mereka.


Didalam masjid sudah ada abah mansyur umi beserta kerabatnya, sedangkan anin menunggu diserambi wanita mereka berdua akan dipertemukan setelah sah menjadi suami istri.


"Bagaimana apa mempelai sudah siap". Tanya penghulu


"Insyaallah saya siap"


"Baik, mari kita mulai ijab qobulnya". Dan abah dituntun untuk melakukan ijab


"Iqbal ammani bin burhan ammani saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya anindya chalista mahara binti mansyur affandi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai satu milyar sembilanratus sembilanpuluh satu dibayar tunai


"Saya terima nikah dan kawinnya Anindya chalista mahara binti mansyur affandi dengan mas kawin tersebut tunai".


"Bagaimana para saksi sah"


"Sahh...". Semua orang menjawab serentak. Berjuta kata syukur iqbal ucapkan karna apa yang menjadi tujuannya dapat berjalan lancar tanpa halangan suatu apapun.


"Silahkan mempelai wanita dibawa kesini". Anin dituntun oleh beberapa keponakannya dan juga indah, sedang rafka bocah gembul itu berada dipangkuan mama iqbal yang kini dipanggilnya oma. Iqbal gugup bukan main kala telapak tangan itu untuk pertama kalinya bersentuhan. Anin mencium tangannya dengan takzim


"Bener kan mas iqbal ini istrinya". Penghulu sengaja menggoda iqbal


"Benar pak". Lantas saja disambut gelak tawa orang yang ada di dalam masjid


"Kalau istrinya jangan gugup. Dicium dong istrinya". Anin merona sedangkan iqbal wajahnya sudah seperti kepiting rebus


Cukup lama iqbal mencium pucuk kepala istrinya itu, hal itu lagi lagi menjadi bahan ledekan orang orang


"Udah dulu mas iqbal dilanjut nanti malam aja. Sekarang tanda tanga surat surat ini". Mereka bedua tanda tangan dan iqbal membacakan sighat taklik. Setelah itu melakukan sungkeman kepada para orang tua. Banyak petuah yang iqbal terima terutama abah yang menitipkan anaknya untuk dijaga dan disayangi sepenuh hati.


Serangkaian acara telah selesai, sejak tadi iqbal tak melepaskan pegangan tangannya


"Abang lepas dulu ih gak enak diliatin tetangga". Anin bergumam


"Biarin aja". Iqbal tak perduli seakan ingin menunjukkan pada dunia kalau kini anin adalah miliknya.


Untuk beberapa hari mereka berdua memutuskan tinggal dirumah abah dan setelahnya barulah iqbal memboyong anak istrinya untuk pindah kerumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah anin.

__ADS_1


Sampai rumah masih banyak keluarga yang berkumpul anin berpamitan untuk mengganti pakaian


"Ya udah sana ajak iqbal kasian dia juga capek". Kata umi


"Bang sabar ya masih siang". justru keponakan anin yang mengatakan itu mendapat pukulan dari ibunya dan orang orang justru menertawakannya.


Sampai dikamar pintu segera dikunci oleh iqbal


"Bang ngapain dikunci". Tanya anin gugup


"Katanya mau ganti baju. Lagian takutnya kalau bunda lagi buka cadar ada yang masuk". Dasar kutu kupret modus aja terus kerjaannya


Tak menjawab anin justru menuju lemari dan mengambil gamis


"Tunggu dulu sayang". Tiba tiba iqbal memeluknya dari belakang


"Buka dulu cadarnya abang penge liat"


"Anin malu bang"


"Jangan malu lah abang kan suami kamu". Perlahan lahan iqbal melepas hijab besar yang selalu menutupi mahkota hitam milik istrinya itu. Rambut hitam yang masih tergelung rapi dan terakhir iqbal membuka pengait cadarnya


Iqbal mengelus pipi istrinya dengan penuh cinta


"Kamu cantik banget. Abang bahagia karna cuma abang yang bisa lihat ini semua". Iqbal mencium lama dahi istrinya, dipandangnya lagi wajah cantik itu ia mengelus pelan bibir tipis yang sejak tadi menggodanya perlahan lahan bibir itu saling memagut. Iqbal ******* pelan dengan penuh cinta menikmati bibir manis itu tanpa nafsu yang menggebu.


Setelah terlepas iqbal mengusap pelan salifa yang menempel dibibir istrinya.


"Mandilah nanti kita sholat ashar berjama'ah". Anin mengagguk patuh. Saat anin mandi iqbal sengaja memanggil anak anaknya untuk diajak sholat bersama


"Wah berarti mulai sekarang rafka udah beneran punya ayah". Bocah kecil itu begitu antusias kala sang kakak bercerita


"Iya dong, sekarang rafka punya ayah, kak indah punya bunda"


"Horeee...jadi kita bakalan tinggal dirumah yang sama"


"Iya adek...", tiba tiba iqbal muncul

__ADS_1


"Halo anak anak ayah kita sholat jama'ah yuk dikamar bunda ma ayah,"


"Ayo yah". Rafka begitu antusias ia meminta untuk digendong


"Bunda mana yah?" tanya indah


"Bunda lagi mandi. Kita tunggu bunda selesai baru sholat sama sama ya". Mereka berdua mengangguk


Sampai dikamar anin sudah menata sajadah ia sedikit terkejut kala melihat anak anaknya ikut masuk tapi sedetik kemudian ia tersenyum dalam hati bersyukur memiliki suami yang tidak hanya menerima dirinya tapi juga putranya.


"Ayo ambil wudhu terus kita sholat". Iqbal menggiring anak anak menuju kamar mandi, dengan telaten iqbal mengajari rafka cara berwudhu dan do'a setelahnya.


Sholat pertama mereka begitu khusyu anin beberapa kali meneteskan air mata kala iqbal melantunkan doa. Dipernikahan sebelumnya tak pernah ia merasakan indahnya beribadah bersama suami dan tak sekalipun ia merasakan kedamaian. Tapi sekarang ia begitu bahagia dan merasa dicintai serta dihargai layaknya istri sesungguhnya.


Setelah selesai anin memutuskan kedapur untuk membuatkan suami serta anak anaknya minuman. Iqbal dengan segelas kopi pahit tanpa gula, rafka susu coklat sedang ia dan indah teh hangat


Mereka menghabiskan waktu dibalkon kamar sekedar bermain dan bercerita tentang banyak hal agar semakin mendekatkan emosional masing masing.


Hingga malam menjelang anin dimeja makan dengan cekatan melayani iqbal, rafka dan indah. Ia menuruti semua kerusuhan suami serta anak anaknya. Hal itu menjadi pemandangan menyejukkan hati bagi abah dan umi karna akhirnya putrinya menemukan orang yang tepat setelah selama ini tersakiti hatinya.


Acara makan malam selesai mereka semua memutuskan untuk istirahat karna acara hari ini cukup melelahkan


"Rafka mau bobok sama ayah dan bunda". Bocah kecil itu sejak tadi merengek pada eyangnya


Umi menjadi tak enak pada iqbal. Tapi iqbal segera menengahi ia sadar saat ini harus lebih dewasa dalam menyikapi hal apapun sebab mereka sudah memilki anak


"Ayo sayang kalau mau tidur sama ayah"


"Beneran yah boleh"


"Boleh dong masa anaknya mau tidur ma ayah dan bunda gak boleh".


rafka bersorak gembira sedang umi tersenyum ia begitu lega ternyata menantunya begitu tulus menerima rafka


"Nak iqbal terimakasih ya sudah mau menerima rafka dan maaf dia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti dengan situasinya"


"Tak apa umi. Iqbal memutuskan untuk menikah dengan anin berati juga harus menerima kehadiran rafka. Umi tak perlu minta maaf ini bukan sebuah kesalahan"

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih ya nak. Semoga rumah tangga kalian selalu bahagia"


"Amin terima kasih umi.


__ADS_2