
"Apa maksud kamu berbicara seperti itu? ini sangat merugikan saya!" di dalam kamar, Jaka tak segan mengomeli sikap Mikaela yang ceroboh. "Karena ucapan kamu, saya terlihat seperti laki-laki bajingann." katanya. Pria itu memang marah, tetapi tidak sampai bersuara tinggi, ia masih bisa mengontrol emosinya.
"Maaf, tapi ini cara satu-satunya supaya aku terhindar dari mantan pacar aku yang gila!" entah bagaimana Mikaela bisa menemukan ide tersebut. Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya. Ia tahu kalau Roy ini sangat menginginkan kegadisannya sedari dulu, ia baru menyadari kalau mungkin saja Roy tidak tulus mencintainya. Hanya ingin menginginkan sesuatu dalam dirinya saja.
"Tapi gak seharusnya kamu melibatkan saya!" ucapnya tegas.
"Iya aku tahu aku salah! aku kan udah minta maaf!" seru Mikaela.
Jaka menghela, "Yasudah, jelaskan semuanya pada mereka. Katakan kalau semua tuduhan mu gak benar!"
Mikaela menggeleng cepat. "Gak! aku gak mau!" kalau ia berkata jujur saat ini, kemungkinan besar Roy akan terus mengejarnya. Mikaela tidak mau berurusan dengan pria itu.
"Kamu jangan keterlaluan! melibatkan saya dalam masalah mu! kamu pikir saya tidak memiliki kehidupan sendiri?" hati pria itu masih berkabung atas berakhirnya hubungannya dengan sang kekasih. Jaka tidak mau terlibat masalah lainnya. "Bagaimana kalau orang tua mu menuntut saya untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang sama sekali gak saya lakukan?"
__ADS_1
Mikaela terdiam, ia baru menyadari. Yang dikatakan Jaka ada benarnya, mungkin saja kedua orangtuanya akan menuntut pertanggungjawaban pada Jaka.
"Emm, mereka gak bakal nuntut apapun ke kamu." jawabnya tak yakin. "Toh, jaman sekarang banyak kan gadis yang udah gak perawan. Itu gak masalah."
"astaghfirullah..." Jaka mengelus dada. Bisa-bisanya ada seorang gadis mengumbar aibnya sendiri tanpa malu. Kehormatan seorang gadis harusnya dijaga baik-baik. Meskipun sudah terlanjur rusak, sebaiknya tidak diumbar.
"Udahlah jangan lebay! aku juga gak mau dinikahi kamu! jangan kepedean ya!" katanya. Mikaela tidak pernah berpikir ingin dinikahi Jaka. Ia hanya mencari alasan agar Roy menjauhinya. Dan kebetulan sekali tanpa sadar dirinya membawa nama Jaka.
"Tapi kalau orang tua mbak Mika beneran minta tanggung jawab sama mas Jaka gimana?" Ajeng yang sedari tadi diam ikut menyela.
Ajeng menyengir. "Abisnya aku kasihan sama mbak Mika kalo balikan lagi sama lelaki tadi." kilahnya. "Gimana mbak? kalo mereka minta mas Jaka tanggung jawab?"
"Yaudah lah nikah nikah aja." balas Mikaela santai.
__ADS_1
"Loh kok jadi nikah segala? katanya tadi gak bakal minta tanggung jawab dari saya." Jaka geleng-geleng kepala, baru saja Mikaela mengatakan jika tidak sudi menikah dengannya, lalu kenapa sekarang berbeda lagi ucapannya? "Pokoknya kamu harus jelasin sejelas-jelasnya! kalau saya gak ngapa-ngapain kamu!"
"Jangan GeEr dulu!" Mikaela pikir tidak ada salahnya kalau ia menikah dengan Jaka. Jika sudah menikah, pasti Roy tidak akan mengganggunya lagi. Mantan kekasihnya itu tipe orang yang akan nekat jika menginginkan sesuatu. "Kita nikah, tapi nikah bohongan! Eman bulan atau setahun kita bisa cerai."
"Astaghfirullah...." lagi-lagi Jaka mengelus dada. "Pernikahan bukan untuk di permainkan. Saat ijab qobul terucap, sebagai laki-laki saya sudah berjanji pada Allah. Saya gak mau---"
"Mas Jaka bisa sekalian buktiin kalo bisa move on dari mbak Putri. Biar mas Jaka dan bibi Nenti gak dituduh terus sama pak Narto." celetuk Ajeng. Gadis itu mulai banyak bicara. Ia mencoba membujuk Jaka agar mau menikah dengan Mikaela kalau nantinya Sekar dan Danu meminta Jaka untuk bertanggung jawab.
"Iya bener itu!" Mikaela setuju dengan ucapan Ajeng. "Kita sama-sama diuntungkan kalo begitu.. kamu bisa buktiin sama keluarga mantan pacar kamu. Kalo petani seperti kamu yang udah mereka hina bisa nikahin gadis secantik aku." ucapnya bersemangat! "Bisa pingsan itu mantan kamu, karena kamu dapetin pengganti lebih segalanya dari si Puput itu!" ia membanggakan diri. Menganggap dirinya lebih segalanya dari mantan kekasih Jaka.
Jaka mendesis, narsis sekali gadis ini!
"Putri mbak! bukan Puput!" Ajeng mengoreksi.
__ADS_1
"Iya pokoknya itulah..."
"Kalian ini udah gak waras!" Jaka tetap menolak, Pria itu bergegas keluar. Jika Mikaela tidak mau menjelaskan kebenarannya. Jaka sendiri yang akan berbicara pada kedua orang tua Mikaela. Menyelesaikan kesalahpahaman ini.