
Mereka berpindah tempat, mencari supermarket lainnya. Berharap tidak ada lagi gangguan, seperti kedatangan orang yang tidak diharapkan.
"kamu masih marah?" Jaka memecah keheningan diantara mereka. Istrinya ini hobi sekali ngambek, dikit dikit cemberut, padahal Jaka hanya menasihatinya. "Jangan ngambek lagi, nanti cantiknya ilang." bujuknya. Konon seorang gadis akan luluh jika mendengar kata-kata manis.
"Ish apa sih!" Mikaela sedikit melunak, terlihat dari garis senyum di wajahnya.
Jaka mengelus kepala Mikaela, lalu mengecup keningnya. "Maaf tadi udah bentak kamu."
Di perlakukan manis begitu, Mikaela semakin manja. "Janji gak bakal ulangi lagi. Jangan bentak aku lagi ya?" bibirnya mengerucut imut. Ingin sekali menyatukannya.
"Iya.." Jaka berjanji.
Sangat sayang melewatkannya, Jaka yang sudah tidak pandai mengendalikan diri pun tergoda untuk merasakan manisnya bibir Mikaela. Pria itu mulai mendekat, lalu memaguttnya.
Manis! seperti gulali yang semakin disesap manisnya begitu kentara.
Mikaela tersipu malu saat ciuman terlepas. Jaka ini nakal sekali, tiba-tiba saja menciumnya tanpa permisi.
"Gini kan cantik.." Jaka mengusap sudut bibir Mikaela yang basah. "Kita belanja sekarang ya, jangan ngambek lagi."
"Iya.." hati Mikaela yang tadinya suram mendadak berbunga bunga.
Mereka bergandengan tangan, menyusuri lorong rak yang dipenuhi berbagai macam kebutuhan dapur, karena memang mereka membeli apa saja yang mama Sekar butuhkan.
"Nanti aku mau belajar masak deh sama mama." ucapnya sambil mengambil botol kecap asin di rak. Ia teringat jika dirinya sama sekali belum pernah memasak untuk suaminya. "Kamu sejak kapan bisa masak, mas?"
"Saya dulu nge-kost," tinggal sendirian mengharuskan Jaka melakukan apapun sendiri.
"Emang kamu sekolah dimana? gak di kampung?" ia pikir Jaka sekolah di kampung, seharusnya tidak perlu ngekost, berjauhan dengan keluarga. "Eh, kamu lulusan apa? Smp? Sma?"
__ADS_1
Jaka terdiam, ia enggan menjawab. Mikaela menyadari pertanyaannya, yang mungkin saja membuat Jaka tersinggung. "Hehe aku cuma tanya, gak bermaksud lain."
"Tinggal sayuran.." Jaka mendorong troli mencari letak sayur sayuran berada.
"Mas! maaf, aku gak bermaksud apa apa, sumpah!" Mikaela cemas Jaka tersinggung dengan pertanyaannya.
"Saya gak papa. Jangan khawatir.." Jaka tersenyum tipis. "Kita lanjut belanjanya ya, udah kelamaan takut mama nungguin."
"Iya mas, abis ini kita makan dulu ya, aku laper!"
***
"liburan besok, mama sama papa mau ke vila. Kebetulan teman papa ingin bersilaturahmi." ucap papa Danu. Ia bermaksud untuk mengajak anak dan menantunya. "Kalian ikut ya, nanti papa kenalkan pada mereka."
Jaka yang memang tidak memiliki kegiatan apapun tidak menolak. "Iya pah."
"Kamu belum pernah ketemu. Dia kawan lama ketika di kampus dulu." jawab papa Danu.
"Oh.." Mikaela menyauti dengan membulatkan bibirnya.
Makan malam selesai dengan diakhiri obrolan singkat. Sekar dan Danu kembali ke kamarnya.
Sedangkan Mikaela dan Jaka menonton, sebenarnya tidak benar-benar menonton karena layar televisi dibiarkan menyala tetapi keduanya asik berbincang.
"Coklat panas untuk mu.." Jaka kembali dari dapur, membawa secangkir coklat hangat untuk Mikaela.
"Punya kamu?" Mikaeal menerima coklat hangat kesukaannya.
"punya saya kopi hitam." jawabnya sambil duduk di samping Mikaela.
__ADS_1
Layar televisi menayangkan sinema kartun. Baik Mikaela dan Jaka tidak serius menikmati tontonan tersebut. Sibuk dengan detak jantung yang bertalu-talu. Mereka masih gugup saat berduaan.
"Mas, aku kangen sama bibi Nenti." tiba-tiba saja Mikaela merindukan sosok paruh baya yang baik hati. "kangen orangnya, kangen juga peyek nya. Hihihi..."
Jaka tersenyum, mengelus kepala sang istri. "Kalo kangen, kapan kamu mau pulang ke kampung?"
Mikaela diam sejenak. Ia memang merindukan orang-orang di kampung, tetapi ia juga enggan meninggalkan hiruk pikuk kota ini. "Bentar lagi ya, aku masih belum puas di sini." entah belum puas atau memang dirinya tidak mau kembali tinggal lama di kampung. Mikaela masih bingung dengan perasaannya.
"iya saya sabar nungguin kamu. Tapi kalo memang masih lama. Saya harus pulang dulu, nanti saya jemput kalau kamu udah pengin pulang." kata Jaka. Bagaimana pun mata pencahariannya berada di kampung, Jaka tidak mungkin berlama-lama di kota.
"Iya mas.." Mikaela memeluk Jaka malu-malu. Jaka menyambut pelukan Mikaela dengan senang hati.
Berdekatan begini, seketika hawa terasa panas. Padahal pendingin di ruangan ini menyela.
"Mika, saya belum bisa ya?" tanya Jaka. Sebelum ia bertindak lebih jauh, ia harus bertanya lebih dulu agar tidak berakhir menyedihkan.
"hah? belum bisa apa maksudnya?" Mikaela mendongakkan kepala, dari posisi ini Jaka masih saja terlihat tampan. Dagunya yang sedikit terbelah, hidung mancungnya, bibirnya, semua itu mendekati sempurna.
Bagaimana bisa begini? padahal dulu Jaka terlihat sangat jelek di matanya. Lalu kenapa bisa berubah? berbanding balik! Apa semua ini karena virus? Virus cinta yang sudah menyebar di segala penjuru hatinya.
Jaka menggaruk tengkuknya. Masa istrinya ini tidak tahu sih apa maksud dari ucapannya. Jaka terlalu malu mengatakannya, takut di kira pria mesum yang selalu menanyakan hal tersebut.
"Emm itu, maksud saya.. kamu udah selesai datang bulan? saya mau mengajak kamu mencari pahala." ucapnya. Ia rasa kalimat itu cukup membuat Mikaela mengerti dan tidak terdengar vulgarr.
Ya ampun! Mikaela salah tingkah. Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Terlalu malu bertatap muka.
Dalam dekapan, Jaka bisa merasakan anggukan kepala istrinya.
Hatinya bersorak! akhirnya tiba juga malam ini. "Kita shalat dulu yuk?"
__ADS_1