
"Ajeng!" teriak Bu Lastri memanggil putrinya. "Bantuin Jaka bawain sayur ini buat Nenti!" ia meminta putrinya untuk membantu Jaka, mengantar sayuran hasil panen dari kebun. Jaka sendiri sudah membawa satu karung singkong.
"Iya Bu." Ajeng bergegas mendekat. "Mbak, aku ke rumah bibi Nenti dulu ya, di suruh ibu." sebelum pergi ia berpamitan pada Mikaela.
"jauh gak rumahnya?" tanya Mikaela.
"Gak jauh banget sih..."
"Aku ikut deh." daripada di rumah sendirian, lebih baik ia ikut menemani Ajeng ke rumah bibi Nenti.
Ajeng tersenyum menggoda. "Cie.. mau ikut aku apa ikut mas Jaka." selorohnya.
"Ish! kamu ini, aku bosan sendirian. Jangan mikir yang macem-macem!" semburnya.
"iya deh iya."
Ketiganya berjalan beriringan. Jaka banyak diamnya, pria itu terlalu canggung dengan Mikaela. Di sini Ajeng yang terus berceloteh untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
"Mas Jaka udah kenal kan sama mbak Mika? kemaren sempet kenalan loh.." katanya sambil melirik Mikaela yang tengah melototinya. Jaka hanya mengangguk.
"Mbak Mika ini juga baru patah hati, sama kayak mas Jaka. Tapi bedanya, mbak Mika ini di selingkuhi." Ajeng kelepasan, ia menutup mulutnya. "Maaf mas, bukan bermaksud apa apa.. hehe.." gadis itu menyengir tanpa merasa bersalah sudah menyinggung perasaan Jaka.
Mikaela menatap sebal, ternyata Ajeng ini bermulut ember! sudah ia katakan jangan bilang pada siapapun mengenai kisah asmaranya yang berakhir tragis, ini malah membocorkannya pada Jaka, pria yang baru Mikaela kenal.
Jaka tersenyum tipis, ia menatap singkat Mikaela. Gadis secantik itu masih ada saja pria yang tega menyelingkuhi. Kurang apa coba? mungkin karena pasangannya tidak bersyukur!
"Mbak Mika ini batal nikah di hari H loh.. mas Jaka masih mending baru lamaran." ucap Ajeng. Ia seolah ingin mengatakan kalau nasib Jaka tidak terlalu buruk dibandingkan apa yang sudah Mikaela alami. "Jangan terlalu dipikirkan mas, patah hati boleh tapi jangan sampe semangatnya ilang. Hidup terus berlanjut." ucapnya sok bijak.
Mikaela menjitak kepala Ajeng. Seenaknya mengumbar aibnya di depan orang baru. Sedari tadi ia diam, Ajeng malah semakin ngelunjak. "Terus aja beberin aib aku!"
"Gak perlu di ulang juga, Ajeng!!!"
"Iya mbak maaf."
"Emangnya pacar kamu secantik apa sih, kok keliatan gak rela banget di tinggal." Mikaela bertanya, ia penasaran dengan mantan kekasih mas Jaka ini. Terlihat jelas pria ini sangat mencintai kekasihnya.
__ADS_1
Ajeng mencibir. "Cantikan mbak Mika kemana-mana!"
Mikaela mengibaskan rambut panjangnya, ia jumawa mendengar pujian Ajeng "Kalau udah gak di restu orang tua sih lebih baik mundur! gak bakal berkah kalo tetep lanjut nikah. Apalagi sampe kawin lari."
Jaka menghela, ia tak menyangka pendatang baru di desa ini sampai tahu duduk permasalahan yang sedang ia alami. Rupanya gosip sudah menyebar kemana-mana. Mungkin di kampung sebelah juga sudah beredar beritanya.
"Gini aja mbak, mas. Kalian ini kan sama-sama lagi patah hati. Bagaimana kalau kalian jadian aja. Mungkin bisa saling menghibur." Ajeng sangat berharap Mikaela dan Jaka bisa bersama.
"Dih, ogah! masa aku pacaran sama petani! mau di taro mana muka ku!" Mikaela jelas langsung menolak. Jaka memang tampan, tapi untuk apa jika hanya tampan saja? Mikaela ingin hidup berkecukupan.
Ajeng mendelik, seakan memperingati kalau ucapan Mikaela bisa saja melukai hati Jaka. Yang di tatap hanya melengos.
Jaka memang diam, tetapi hatinya tercubit. Apa salah dirinya hanya seorang petani?
"Saya juga belum tentu mau sama situ!" balas Jaka dengan wajah datar. Lalu berjalan lebih cepat dari kedua perempuan itu.
Ajeng menyikut lengan Mikaela. Salahnya juga yang terus menggoda dua manusia itu. "Mbak minta maaf gih.. kayaknya mas Jaka tersinggung."
__ADS_1
"Ish, gak ah."
Ajeng geleng-geleng kepala.