
Pagi harinya Mikaela ikut pergi ke pasar dengan Ajeng.
"Mas, aku mau ke pasar sama Ajeng." Mikaela berpamitan pada Jaka. Gadis itu sudah melupakan kekesalannya semalam.
"Mau saya anter?" Jaka dengan senang hati mengantar istrinya. Sekalian ia pun ada yang harus di beli. "saya juga mau ke pasar, beli pupuk."
"Iih aku pergi sama Ajeng, kamu jalan sendiri aja deh.." alih-alih mengajak Jaka pergi bersama, Mikaela lebih suka pergi bersama Ajeng. "Aku udah di tungguin, Daa!" gadis itu bergegas pergi.
Di luar rumah, Ajeng sudah menunggunya. "Kamu lama banget sih! ini udah siang." seru Ajeng, ia menunggu Mikaela bersiap nyaris setengah jam.
"Ini masih jam tujuh, Ajeng!" seru Mikaela sambil memakai sendal jepit.
"Jam tujuh itu udah siang, harusnya kita pergi jam enem."
"Kemaren kemaren juga kita ke pasarnya siang!"
"Udah ah cepetan!"
Mikaela membeli beberapa perlengkapan untuk perawatan tubuh dan kosmetik lainnya. Sedangkan Ajeng membeli titipan dari ibunya. setelah selesai, Ajeng mengajak Mikaela mampir ke warung bakso yang pernah ia kunjungi beberapa kali dengan Jaka. Rupanya warung bakso itu sudah terkenal akan kelezatannya, jadi wajar saja mempunyai pelanggan tetap.
"Jeng, cari tempat lain aja yuk?" ajak Mikaela, gadis itu ingin memakan menu lainnya. Bosan setiap kali berpergian selalu mampir ke tempat ini. Tidak Jaka, tidak Ajeng sama saja!
"Gak ah, aku pengin makan bakso. Ibu ku juga nitip bungkus." tolak Ajeng. Bahkan gadis itu sudah duduk di salah satu bangku di sana.
__ADS_1
Mikaela mendengus kesal, terpaksa ia menurut saja. "Lain kali aku gak mau loh.." walau cemberut, Mikaela tetap duduk di samping Ajeng.
"Yaudah gini aja. Kamu temenin aku makan dulu, abis itu aku temenin kamu." kata Ajeng memberikan sosuli. "Kamu mau makan apa emang?" tanyanya.
"Em, di sini ada gak sih yang jualan makanan Korea? atau semacamnya gitu? yang bukan makanan lokal." lidah Mikaela sudah merindukan cita rasa makanan yang berasal dari lain negara, bosan juga setiap hari Jaka memasak masakan menu rumahan. Sayur itu itu saja!
"Gak ada lah mbak, harus ke kabupaten kalo cari makanan yang aneh-aneh." setaunya makanan yang Mikaela inginkan tidak ada yang menjual di daerah sekitar. "Di kabupaten juga aku gak tahu ada apa gak, aku gak pernah maen ke sana, jarang!"
Tengah berunding, sosok Jaka tiba-tiba muncul menghampiri mereka. "Kamu di sini juga?" kedua gadis itu menoleh. "saya pikir kalian udah pulang." ucapnya seraya ikut duduk di dekat mereka.
"Mas Jaka ke pasar juga?" tanya Ajeng.
"Abis beli pupuk." jawab Jaka, lalu pria itu berseru pada pedagang bakso, menyebutkan pesanannya. "Kalian udah pesen belum?"
"Mbak Mika gak makan ini. Dia pengin makanan lain." sela Ajeng.
Jaka menoleh pada istrinya, wajah cantiknya di penuhi keringat di sekitar dahi. Sepertinya istrinya itu kepanasan dan lelah. "Kamu cari makanan apa?"
Wajah Mikaela cemberut, "Aku pengin yang gak ada di sini."
"Emang apaan? ntar saya cariin." Jaka menyanggupi akan membelikan keinginan Mikaela.
Kedua mata Ajeng membeliak, ia terkejut dengan angannya sendiri. "Mbak Mika lagi nyidam? hamil?" terkanya. Wajar saja Mikaela menginginkan sesuatu begitu menggebu, rupanya wanita itu sedang hamil. "Wah.. selamat yaa.." sontak ucapan Ajeng membuat Jaka dan Mikaela terkesiap. Ajeng tidak tahu saja kalau Mikaela ini sifatnya na'uzubillah kalau sedang menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Kamu ini ngomong apa sih! siapa yang hamil! aku gak hamil kok." Mikaela segera menyanggah tuduhan Ajeng. Mana mungkin ia mengandung? melakukan hubungan suami-istri dengan Jaka pun tidak.
"Siapa tahu mbak, coba periksa. Kalau gak kita beli tespeck dulu baru periksa ke bidan." Ajeng menyarankan Mikaela untuk segera memeriksakan diri, Siapa tahu Mikaela benar-benar hamil.
"Ish! kamu ngaco! aku gak hamil!" seru Mikaela.
"Udah jangan ribut, malu di liatin banyak orang." Jaka melerai. Pria itu tidak banyak bicara lantaran ucapan Ajeng memang tidak akan terbukti. Mikaela tidak akan hamil sebelum dirinya menyentuh sang istri. Jangankan menyentuh dan meminta haknya, mendapat senyuman dari sang istri saja jarang sekali.
***
"Mas, ini udah satu bulan lebih loh.. kamu janji mau bawa aku pulang ke Jakarta!" Mikaela menagih janji suaminya untuk membawanya pulang ke Jakarta setelah satu bulan pernikahan mereka. Tapi sudah satu bulan lebih, Jaka belum juga berniat ke Jakarta.
"Minggu depan ya, dua hari lalu saya baru buka pabrik gula kecil-kecilan. Harus terus di pantau, belum bisa di tinggal." Jaka menjelaskan alasan mengapa ia belum juga membawa Mikaela mengunjungi kedua orang tuanya.
Jaka memilik lahan tebu yang sangat luas, meskipun tidak sampai satu hectar tetapi cukup lumayan menghasilkan tebu dengan kualitas bagus. Sedikit sedikit ia mengumpulkan uang untuk membeli mesin penggiling tebu dan mesin lainnya yang di perlukan. Pabrik yang di dirikan pun tidak besar, hanya ada lima karyawan yang membantu. Pabrik rumahan. Jaka berharap usahanya kali ini akan berkembang.
"kok aku gak tahu?" Mikaela protes kenapa Jaka tidak memberitahunya?
Jaka tertawa mendengarnya. "Kamu gak pernah nanya, gak peduli juga kan?"
"Ish kamu nyebelin!" lagi-lagi jawaban Jaka membuatnya kesal. Bisa tidak, Jaka tidak perlu menyindirnya dengan kaliamt pedas seperti itu.
"Iya iya maaf!" untuk menghidari Mikaela cemberut sepanjang hari, lebih bai Jaka meminta maaf lebih dulu agar aman.
__ADS_1