Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Pandai merayu


__ADS_3

"Mika, bangun." Jaka berbisik seraya membangunkan istrinya yang masih nyaman bergelung di bawah selimut. Di kecup, di belai pipi Mikaela dengan lembut. Manis sekali. Jaka makin gemas dengan istri cantiknya ini.


"Hemm.." Mikaela hanya menggeliat, tak benar-benar mau bangun, ia masih lelah butuh istirahat yang cukup.


"bangun yuk, kita shalat bareng." ajaknya. Jaka sendiri sudah membersihkan diri, siap untuk menjadi imam bagi Mikaela. "ayo bangun. Nanti bisa tidur lagi." lanjutnya.


Mikaela perlahan membuka mata. Tatapan mereka saling bertemu.


"bangun yuk?" Jaka bersuara kembali dengan lembut.


Mikaela tersipu malu, ia malah menutup wajahnya dengan selimut. "jangan liatin aku kayak gitu." ia salah tingkah. Apalagi saat menyadari kalau dirinya tidak memakai apapun selain selimut yang menutupi tubuhnya. Kilasan kegiatan semalam muncul kembali. Sumpah demi apapun! Mikaela sangat malu! mereka sudah melakukannya? saling lihat dan saling menyentuh? Oh ya ampun! benar-benar memalukan, tapi mengenakkan, bagaimana ini?!


Jaka menyingkap selimut itu. Lalu mengecup pipi Mikaela dengan gemas. "mau aku gendong sama aku mandiin?"


Mikaela melotot, lalu menepuk lengan Jaka. "Ish mesum!"


Jaka terkekeh. "nggak papa kalau saya mesumnya ke kamu. Udah halal."


"mas!" rengeknya.


"aduh! saya udah mandi, jangan dulu minta lagi." Jaka semakin menggoda saat selimut itu melorot, sampai buah ranum Mikaela terlihat.

__ADS_1


Mikaela cepat cepat membenarkan selimutnya. "mas, kamu kok jadi pinter merayu, gak kalem lagi."


"kamu yang buat saya begini..."


"ish kok aku sih?!"


"abisnya kamu gemesin. Saya gak tahan kalau liat kamu begini. Bangun tidur aja kamu tetep keliatan cantik. Saya pikir cantiknya karena pakai bedak. Eh gak tahunya istri saya ini cantik beneran." Jaka mulai pintar membuat hati Mikaela berbunga-bunga. Entahlah keahlian itu muncul dengan sendirinya.


"mas!" Mikaela memeluk Jaka, menenggelamkan kepalanya di sana. Ia senyum senyum sendiri, wanita mana yang tidak bahagia jika di puji suaminya.


Jaka meneguk ludah, ia harus bisa menahan hasrattnya yang tiba-tiba muncul lagi. "saya bisa khilaf, kamu mandi dulu ya?"


"Iya mas." Mikaela mengurai pelukan. Ia memegang erat simpul selimut agar tidak terlepas saat berjalan menuju kamar mandi.


Mikaela menggeleng cepat. "aku bisa sendiri kok."


"Jangan lama-lama ya, keburu waktu subuh abis."


"Iya mas."


Usai shalat subuh, Mikaela tidur lagi. Sedangkan Jaka berbincang dengan ayah mertuanya sambil membersihkan taman di halaman rumah.

__ADS_1


***


"Jam sembilan kok baru bangun! udah punya suami tuh bangun pagi, siapin kopi, sarapan!" mama Sekar menegur putrinya yang bangun terlalu siang. "Jaka dari tadi udah bantuin papa. Kamu malah asik tidur!" semburnya.


"Iya mah, iya!"


"Tuh suami kamu! buatin kopi gih.. tadi mama mau bikinin gak mau!"


Jaka datang ke dapur dari arah halaman rumah.


Mikaela menoleh, "mas, mau aku bikinin kopi?"


"boleh.. gulanya dikit ya." pinta Jaka. Pria itu mengambil segelas air putih untuk mengurangi rasa dahaganya.


"Mika, kamu abis jatuh? kok jalannya begitu?" mama Sekar tak sengaja memperhatikan cara jalan Mikaela yang aneh.


Jaka yang sedang minum tersedak. "uhuk.. uhuk..!"


"emm, iya mah. Tadi kepleset di kamar mandi. " jawabnya berbohong. Mana mungkin ia mengakui kalau semua ulah dari suaminya semalam. "mas hati-hati kalo minum." ucapnya pada Jaka.


Jaka menggaruk tengkuknya, ia salah tingkah. "saya mau bersihin rumput lagi."

__ADS_1


"iya, nanti aku anterin kopinya."


Rasa penasarannya mengenai siapa itu Tami terlupakan. Jaka yang memang selalu berfikir positif tidak begitu mempersalahkan. Mungkin nanti ia akan tanyakan kalau waktunya pas.


__ADS_2