
"kamu lagi ngapain?" tanya Jaka yang memergoki Mikaela sedang berada di dapur, tengah berkutat di depan kompor.
"mau masak. Tapi aku bisanya cuma masak telor. Hehe.." walaupun tidak pandai setidaknya Mikaela ingin mencoba. Ia akan memulai menjadi istri yang bisa melayani suaminya.
"biar saya saja." Jaka ingin mengambil alih. Ia tahu kalau istrinya ini tidak bisa memasak. "itu apinya kebesaran. Nanti malah gosong." ucapnya seraya mendekat lalu mengecilkan api kompor.
"aku bisa kok mas." Mikaela ingin terlihat berguna. Tanpa sengaja ia malah menyentuh wajan yang sudah panas. "auuuhhh.. Panas!!!!"
"mana yang sakit??" dengan panik Jaka meraih jari Mikaela. "saya sudah bilang jangan maksa kalau gak bisa." Jaka mengomel karena khawatir namun mulutnya meniup-niup jari Mikaela.
Mikaela tersenyum, ia senang kalau sang suami begitu mengkhawatirkan dirinya. Jaka sudah mulai menunjukkan perhatiannya kembali. "cuma panas dikit. Gak papa kok." ucapnya.
"tapi tetep berbahaya. Jari kamu bisa melepuh!"
"kamu sayang banget sama aku ya? Sampai khawatir begitu, padahal sakitnya cuma dikit." ucap Mikaela.
Jaka menghentikan kegiatannya, menyadari jika sikapnya memang masih menyayangi Mikaela. Pria itu segera melepas genggamannya. "Biasa aja." elaknya.
Mikaela mencibir, "Em! ngaku aja kali gak usah gengsi gitu." wanita itu melangkah mendekat. Merangkul Jaka dengan mesra. "gak capek apa ngediemin aku terus?" ucapnya setengah merayu.
Jaka memalingkan wajah, tak mau menatap sang istri. Tapi Mikaela yang pantang menyerah segera menangkup kedua pipi Jaka.
"Jangan marah lagi. Aku sayang sama kamu kok. Malah udah cinta banget!" ia mengatakan dengan tulus. Mikaela berjinjit ia mendekatkan wajah, lalu mengecup singkat bibir sang suami seraya berkata. "aku cinta kamu, mas."
__ADS_1
Di lihat dari tatapannya, Mikaela berkata jujur dan Jaka bisa merasakan ketulusan itu.
"mas?" Mikaela mengecup pipi Jaka. "Jangan marah lagi ya?" rayunya.
Jaka salah tingkah, pria itu berdehem. Jauh di lubuk hatinya ia tidak ingin berlama-lama mendiami Mikaela. Tetapi tidak mungkin juga luluh begitu cepat. Istrinya bisa saja mengulangi kesalahan jika mendapatkan maaf dengan mudah.
"mas???" rengek Mikaela karena Jaka tetap masih diam. "mas gak kangen sama aku? Gak pengin peluk cium aku lagi?" biasanya laki-laki akan lemah jika di tawarkan sesuatu yang mengenakan. Mikaela berinisiatif menggoda sang suami agar Jaka luluh kembali.
Bukan tidak mau! Malahan selama ini Jaka menahan mati matian agar tidak menyentuh wanita yang sudah sah ini. Selalu berdekatan, tidur dalam satu ranjang, tentu membuatnya bergairahh. Jaka masih ingat betul betapa nikmatnya malam indah itu. Dan selalu ingin mengulangi lagi.
"jadi gak kangen nih?" Mikaela melepaskan pelukannya. Ia ingin menarik ulur perasaan Jaka saat ini.
"kamu merayu saya?" entah bisa atau tidak dirinya bertahan atas godaan yang memikat dari istrinya.
Jaka mendekat lalu meraih pinggang Mikaela. Mereka berdiri tanpa adanya jarak. Mikaela tersenyum, suaminya mulai goyah dengan pendiriannya.
"sejak kapan kamu pintar menggoda?" kata Jaka.
"Padahal aku gak ngapa-ngapain, cuma nagih nafkah batin. Kamu nya aja yang gampang tergoda." Mikaela menautkan kedua tangannya di leher Jaka.
"itu sama saja!"
"baguslah kalau kamu tergoda." Mikaela tertawa. "itu tandanya kamu masih cinta sama aku. Jadi jangan marah lagi ya?"
__ADS_1
"saya memang cinta sama kamu. Tapi saya ragu kalau kamu juga mencintai saya."
"mas masih gak percaya sama aku?" padahal sudah berulang kali Mikaela jujur mengatakan perasaannya. Masih saja suaminya ini tidak percaya. "kamu akan percaya seiring berjalannya waktu. Setiap hari aku akan menebar cinta untuk mu biar kamu percaya." ia mengelus pipi Jaka. Lalu mengecup bibir sang suami. Ketika ingin melepas tautan, Jaka malah membalas ciuman itu dengan menggebu.
Mikaela menepuk-nepuk bahu Jaka agar melepaskan ciuman, ia kehabisan nafas.
"maaf.." ucap Jaka seraya mengusap sisa saliva di sudut bibir Mikaela.
Mikaela melipat bibirnya, menahan senyum. "jadi kamu maafin aku kan? Gak marah lagi?"
"saya gak benar-benar marah. Hanya kecewa."
"maaf mas. Aku gak bakal ngilangin lagi. Aku terima kamu apa adanya.."
"maafin mas juga atas segalanya." Jaka pun turut meminta maaf atas sikapnya yang mungkin saja berlebihan, dan juga atas kebohongan mengenai keluarganya.
Keduanya sama-sama tersenyum, lalu perlahan mendekatkan kembali wajah mereka. Tapi...
"makanannya udah jadi belum? gue udah laper nih!" teriakan Dona membuyarkan segalanya.
Jaka segera menjauhkan diri. "biar saya yang masak!"
Mikaela mengangguk. "aku temenin ya mas."
__ADS_1