Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Pemain baru


__ADS_3

Dona menyipitkan pandangannya, kedua sejoli ini saling melempar senyum. Pemandangan yang memuakkan bagi Dona. Mereka tengah menikmati makan malam, Dona jadi tidak berselera. Ia serasa jadi nyamuk pengganggu.


"kalian udah baikan?" celetuk Dona. Sepertinya tebakannya ini benar. Kalau tidak mana mungkin wajah kakak iparnya itu sumringah. Begitu juga dengan Jaka, tak jauh beda. Binar binar cinta terlihat terpancar.


Mikaela tersenyum lebar. "iya dong! mana mungkin mas Jaka bisa lama diemin gue!"


Dona berdecak. "gue belum siap jadi adik ipar Lo!"


"Kalian ini sudah sama-sama dewasa, harus saling menerima dan memaafkan." Jaka menyela, ia ingin kedua wanita itu berbaikan. Melupakan masa lalu yang melukiskan kisah buruk.


Dona dan Mikaela saling melempar pandangan ke sembarang. Belum siap berbaikan.


"Mikaela istri ku dan Dona itu adik ku. Kalian akan selalu hidup berdampingan karena kita sudah menjadi keluarga."


"iya mas.." iyakan saja. Mikaela tak ingin hubungan yang sudah membaik kembali renggang gara-gara Dona.


Jaka tersenyum seraya mengusap pipi Mikaela lembut. Perlakuan manis yang Mikaela rindukan. Mikaela semakin manja saja di perlakuan seperti itu.


"ish!" Dona mendesis jengkel. "mas, aku mau ke kamar aja! males liat kalian." ia beranjak pergi ke kamar yang sudah di siapkan.


"aku bantuin ya, mas." makan malam sudah selesai. Mikaela membantu Jaka membersihkan meja makan. Menaruh piring kotor ke wadah cuci.


"kamu makannya dikit, lagi diet?" Jaka memperhatikan kalau istrinya ini makan hanya sedikit. "atau makanannya gak enak? jadi gak selera?" tanyanya. Maklum saja makanan yang terhidang sangat sederhana mengingat mereka belum berbelanja.


Mikaela menggeleng cepat. "aku memang lagi diet mas. Berat badan ku naik dua kilo.. hihi.."


"gak usah diet kalau buat kamu tersiksa. Toh cuma dua kilo gak kelihatan." ujarnya.


"aku udah biasa, sama sekali gak tersiksa."

__ADS_1


Jaka mengangguk mengerti. Biarkan saja selagi hal yang dilakukan istrinya wajar. Wanita memang selalu ingin terlihat sempurna. Padahal berisi sedikit tidaklah masalah. Malah akan terlihat semakin menggemaskan.


Keduanya sama-sama canggung. Jam masih menunjukkan pukul delapan malam. Jaka ingin mengajak Mikaela masuk ke kamar tetapi malu mengatakannya. Padahal Mikaela pun menginginkan hal yang sama.


"mas?"


"Mika?"


Keduanya bersuara bersamaan. Mereka pun tersenyum bersama, menertawakan kecanggungan yang ada.


"mas mau ngomong apa?"


"itu.. mas mau..." ucapnya ragu.


"mau apa mas?"


Jaka menggenggam tangan Mikaela. "ke kamar yuk?" ajaknya.


Masuk ke kamar dan tidak lupa mengunci pintu rapat-rapat. Jaka menggiring sang istri untuk duduk di tepian ranjang. Ia membelai wajah cantik istrinya. "mas kangen sama kamu.." ungkapan yang jujur dalam lubuk hatinya.


"aku juga kangen sama mas." balasnya.


Jaka mendekatkan wajah, mengecup bibir semanis Cherry milik Mikaela. Bibir yang selama beberapa malam ini ia inginkan.


Mikaela mulai terbuai oleh sentuhan sang suami. Kecanggungan mereka melebur sudah. Jaka yang pendiam kembali beraksi dengan liar.


Jaka tak lagi ragu untuk menguasai miliknya. Menikmati haknya dengan menggebu-gebu.


***

__ADS_1


Pagi yang cerah telah menyambut lembaran baru. Wajah sepasang suami istri itu terlihat berseri-seri.


"Adik ipar ku yang baik, tolong ya kamu pergi ke pasar sama Ajeng. Beli kebutuhan dapur." kata Mikaela yang sudah mulai berani. Tidak ada salahnya menganggap Dona sebagai adik iparnya. Ini menguntungkan baginya.


"dih ogah!" jelas Dona menolak. Mana mau dia pergi ke pasar tradisional yang sudah pasti kumuh. "tampilan gue gak level pergi ke pasar. Lo aja sonoh!"


"kalo mau numpang itu harus bantu-bantu. Aku masih capek, pengin lanjutin tidur!" jelas tidur Mikaela itu berkurang. Semalam suaminya terus meminta jatah.


"jadi istri itu jangan malas-malasan! baru aja suami pamit kerja, Lo malah mau tidur lagi!"


"gue capek juga karena kakak Lo! semalem minta jatah terus gak mau berhenti!" semburnya kesal. Sudah bicara baik-baik, Dona malah lebih galak.


"dih norak banget sih! gituan aja pake di pamerin!" Dona bergidik. Masih ingat betul desahann Mikaela semalam. Sepertinya Mikaela ini sengaja sekali agar ia mendengarnya. Memamerkan kemesraannya. Untung Dona langsung berinisiatif memakai earphone. Jadi tidak mendengar aksi mereka selanjutnya.


"mbak!! jadi ikut ke pasar gak!??" suara Ajeng sudah terdengar di luar sana.


"tuh Ajeng udah nungguin. Buruan! kalo gak mau, nanti kita makan telor sama mie lagi!"


"CK! nyebelin banget si Lo!" meskipun menggerutu Dona tetap menurut, pergi ke pasar bersama Ajeng.


Rumah sudah sepi, Mikaela kembali ke kamarnya lagi untuk melanjutkan tidurnya yang kurang. Tetapi tidak lama kemudian Mikaela terbangun lagi.


"mas? kok udah pulang?" Mikaela melirik jam dinding. Ia baru saja tidur satu jam setengah tetapi sudah bangun. Masih kurang tidurnya.


"itu, emm.." ucapnya terbata.


Mikaela mengerutkan keningnya. "apa?"


"mas mau lagi."

__ADS_1


"heh?"


Dasar pemain baru! sekalinya merasakan enak, ingin lagi dan lagi!


__ADS_2