Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Ikut ke sawah


__ADS_3

Mikaela tidak bisa tidur, waktu sudah menujukan pukul dua dini hari. Gadis yang telah resmi di persunting oleh pria sederhana seperti Jaka itu berulang kali membolak balikan badan gelisah, apalagi suara nyamuk yang mengganggu. Rasanya ia ingin secepatnya pulang saja. Di rumah suaminya ia benar-benar tidak betah.


Gadis itu beranjak dari tempat tidur, lalu keluar kamar. Di sana, ia melihat Jaka tengah meringuk di sebuah alas berbahan anyaman. Kasihan.


"Mas, mas Jaka." Mikaela mengguncang bahu Jaka. "Mas aku gak bisa tidur." ia mengadu pada orang yang masih memejamkan matanya. "Mas!" serunya kesal lantaran susah sekali membangunkan Jaka.


Jaka lekas membuka mata karena terkejut. "Ada apa?" suaranya terdengar serak. Jaka masih setengah sadar. Perlahan ia duduk dan mengucek kedua matanya. "Ada apa sih? ini masih malem." diliriknya jam dinding yang masih menujukan waktu tengah malam. Mengganggu saja!


"Aku gak bisa tidur.. pengin pulang." bibirnya mengerucut, ia mengadu seperti anak kecil.


Terdengar helaan nafas kasar. "Kamu liat kan, ini jam berapa!"


"Tapi aku gak bisa tidur, gak betah, banyak nyamuk."


"Pakai lotion anti nyamuk makanya.." Jaka meraih botol lotion anti nyamuk di atas meja, sebelum tidur ia pun memakainya. "Sini!" ia menyambar lengan Mikaela. Halus dan lembut! Jaka menghentikan kegiatannya. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu. Kulit seputih susu dan sehalus kapas bisa ia rasakan sendiri. Pikirannya mendadak melalang buana, memikirkan yang tidak tidak. "Pakai sendiri.." Jaka menghempaskan lengan Mikaela untuk menjaga kewarasannya.

__ADS_1


"Ishh.. sakit!" Mikaela menggerutu. Kasar sekali Jaka ini.


Jaka memalingkan wajah, lalu berkata. "Lain kali pakai celana panjang biar gak di gigitin nyamuk." sebenarnya bukan hanya itu, Jaka bisa khilaf kalau melihat Mikaela berpakaian mini.


"Iya, bawel!"


Malam itu, keduanya tidur di ruang depan. Mikaela enggan kembali ke kamar. Gadis itu tanpa sadar memeluk Jaka saat tidur, nyaman sekali.


***


Pagi harinya Jaka beraktifitas seperti biasanya, ia pergi ke sawah melihat tanaman padi dan tebunya yang siap panen.


"Kamu mau kemana?" tanya Mikaela dengan wajah kucalnya. Meskipun begitu ia tetap terlhat cantik.


"Mau kerja." jawabnya singkat.

__ADS_1


"Loh kamu gak ambil cuti?" sepertinya Mikaela lupa suaminya itu bukan pria pekerja kantoran atau pegawai negri yang bisa mengambil cuti pasca menikah.


"Saya cuma petani, gak ada cuti!" Balasnya malas. "Saya mau ke sawah sama empang. Kamu mau ikut?" ia sengaja mengajak istrinya ini karena sudah pasti akan menolak, mengingat Mikaela tipe gadis kota yang enggan main di tempat yang kotor.


Mikaela diam sejenak, "Boleh deh.. aku penasaran pengin liat kamu kerja. Tunggu ya!"


"Gak usah mandi! kelamaan, nanti saya tinggal." seru Jaka. Menyesal, harusnya ia tidak perlu berbasa-basi mengajak Mikaela, pasti merepotkan!


"Iya!" ia mengurungkan niatnya setelah mengingat kamar mandi semi terbuka. Mikaela akan mandi di rumah eyangnya saja nanti.


Keduanya jalan beriringan melewati jalan setapak menuju sawah. Di jalan mereka berpapsan dengan warga.


"Jaka dapet durian runtuh punya istri kaya bidadari."


"Pengantin baru kok udah ke sawah aja, bukannya ngerem di kamar."

__ADS_1


"Cie.. cie.. Jaka dapetin yang lebih fresh!!"


Banyak sekali komentar yang Mikaela dengar, ia senyum-senyum sendiri lantaran semua orang memuji kecantikannya. Tetapi ada yang Mikaela tidak suka saat salah satu dari mereka mengatakan. "Jaka di cariin Putri! nitip salam gak buat doi kaya biasanya!" nyinyir sekali mulut yang mengatakan itu seakan tidak mengharagai dirinya yang sudah menjadi istri sah Jaka. Yah.. meskipun mereka menikah bohongan! tapi kan mereka tidak tahu kebenarannya, harusnya lebih dijaga lisannya.


__ADS_2