
"jangan menghina ibu saya!" Jaka berseru dengan kilatan marah. Ia sudah berusaha menahan diri menjaga sikap dengan pria angkuh di hadapannya ini. Tapi, mendengar ibunya di hina tentu saja ia tidak terima.
"pah!" Sarah menggeleng, seolah mengatakan jangan memperburuk suasana.
"anak ini memang harus di ajar! Supaya tahu sopan santun terhadap orang tua!" seru Sultan sambil berkacak pinggang. "tidak bersyukur! Papa jauh-jauh sekolahin kamu ke Ausie, malah milih jadi petani ngikutin ibunya." Sultan begitu kecewa saat putranya memilih kembali ke kampung halaman sang ibu. Harusnya Jaka ini sudah mulai bekerja di perusahaan sebagai penerusnya.
"pah! Mas Jaka begitu karena papa terus menekannya. Mas Jaka punya pilihannya sendiri pah." Dona menyela pembicaraan.
"pilihan apa yang menurutnya bagus? Jadi petani gak jelas?" Sultan tertawa remeh. Anaknya ini lucu sekali, lebih memilih berkutat dengan tanah seharian daripada duduk manis di depan layar canggih. "kembali ke rumah! Jangan bikin papa semakin marah. Sudah cukup kamu bermain-main dengan hobi kampungan mu itu!"
Jaka menghela, lalu berkata "saya sama sekali tidak berminat!" jawabnya sambil berlalu pergi.
__ADS_1
"kurang ajar anak ini!" suara Sultan terdengar samar-samar menemani langkah Jaka yang semakin menjauh.
Tujuannya saat ini adalah kembali ke rumah mertuanya, menemui Mikaela. Jaka sedikit menyesal telah mengabaikan Mikaela. Harusnya ia menjelaskan yang sebenarnya terjadi, atau mengajaknya turut serta mengantar Dona ke rumah sakit. Jaka akui ia memang sakit hati karena Mikaela menemui laki-laki lain tanpa sepengetahuannya. Tapi semua itu bisa di selesaikan dengan mendengar penjelasan dari Mikaela.
***
"pergi kamu! Aku gak mau liat muka kamu lagi" kedatangan Jaka di sambut dengan amarah Mikaela. "kamu sama aja! Cowok tukang selingkuh!" seru Mikaela yang menatap Jaka penuh kebencian.
"gak mah! Mas Jaka bener-bener selingkuh! Aku liat sendiri mah, dia pergi sama Dona!" seru Mikaela.
"saya gak selingkuh. Saya hanya menolong Dona, mengantarnya ke rumah sakit." ucap Jaka tetap tenang. "saya juga butuh penjelasan dari kamu. Kenapa kamu bertemu dengan pria lain tanpa seijin dari saya!" Jaka meminta penjelasan. "sebelumnya saya tahu kalau kamu sering berhubungan dengan lelaki itu. Bisa jelaskan, Mika?"
__ADS_1
Mikaela tersentak, ia baru menyadari kesalahannya. "kita cuma berteman! Lagian bertemu karena ada yang penting dan di tempat umum." tentu Mikaela tidak mau disalahakan. Lagipula ia memang ingin Gio menjauhi kehidupannya. "gak kaya kamu yang sampai peluk peluk Dona!"
"kamu sama aja kaya Roy! Kalian emang laki-laki brengsekk." Mikaela tidak terima, untuk kedua kalinya pria terdekatnya selingkuh dengan Dona. "aku mau kita pisah!" Mikaela berucap tanpa berpikir secara matang. Ia melupakan amarahnya begitu saja.
"Mika!!" Sekar menegur. "jaga ucapan mu! Pernikahan bukan buat mainan."
"Nggak mah! Sedari awal juga aku gak mau nikah sama mas Jaka yang cuma seorang petani! Ditambah dia tukang selingkuh! Aku gak mau punya suami kayak gitu." Mikaela lupa siapa yang pertama kalinya memaksa agar pernikahan mereka terjadi. Jaka hanya menuruti keinginan Mikaela.
Terus menerus di hina, rasa sakit kian menumpuk. Belum lama di hina ayahnya sendiri, sekarang istri yang mulai ia cintai pun ikut menghinanya. Jaka tertunduk sambil berkata, "saya gak maksa, apapun yang kamu mau. Lakukanlah.." ia siap kalau memang Mikaela lebih ingin bercerai dengannya. Sesuatu yang dipaksakan tidak akan berjalan mudah kedepannya. Sampai saat ini Mikaela pun tidak menunjukkan perasaan yang tulus untuk dirinya. Untuk apa di pertahanankan?
"saya pamit.." ucap Jaka.
__ADS_1