
Jaka membawa Mikaela ke warung bakso langganannya.
"Ehh mas Jaka." sapa si pemilik warung. "Siapa ini? cantik banget.. tumben gak sama..."
Mikaela mendengus kesal. "Kamu bawa aku ke tempat yang biasanya kamu pergi sama Puput?"
"Di sini baksonya enak." balas Jaka.
"Tapi aku gak mau makan bakso!"
"Mau makan apa? tadi di tawarin soto gak mau, makan di warteg juga gak mau! ada ayam goreng juga gak mau! maunya apa sih?" Jaka kesal. Ia sudah berkeliling mencari tempat yang sekiranya Mikaela minat. Tetapi selalu berakhir penolakan. Alhasil ia membawanya ke warung ini.
"Makan soto aja deh.."
"Balik lagi juah! udah di sini aja." Jaka sudah mendudukkan diri di bangku berbahan plastik, lalu memesan semangkuk bakso.
"Aku gak mau!" seru Mikaela menolak.
"Di luar panas, kamu gak takut kulit kamu kebakar matahari?" Jaka menemukan alasan tepat. Pasalnya sepanjang perjalanan tadi, Mikaela terus mengoceh kalau cuaca begitu panas dan takut kulitnya yang seputih susu menggelap lantaran lupa mengolesi tabir Surya.
Mikaela diam. Terpaksa menurut, lalu duduk di samping Jaka.
"Baksonya mau pakai mie apa gak? pedes?"
"Gak pakai mie, gak pedes juga." jawabnya jutek.
"Kamu gak suka pedes?"
__ADS_1
Mikaela melirik kesal. "Yaudah pake dikit!"
Dua mangkuk bakso sudah di sajikan. Jaka menikmatinya dengan lahap, tetapi tidak dengan Mikaela, baru menyeruput kuah beberapa sendok saja sudah kepedesan.
"Kamu masukin sambelnya kebanyakan! ini pedes!"
"Tadi saya tanya mau berapa sendok sambelnya, kamu bilang satu. Yaudah saya masukin satu sendok kecil." Jaka mengehentikan kegiatan makannya, dilihat wajah Mikaela sudah memerah karena kepedesan. "Ganti aja ya, kuahnya."
"Iya!"
Merepotkan! Jaka seperti sedang mengasuh anak kecil saja. Apapun harus di layani.
"Nih.. beningan aja, kasih kecap aja ya."
Kali ini Mikaela baru menikmatinya. "Enak juga."
Semakin siang, pengunjung warung bakso semakin ramai.
Jaka terkesiap, suara itu tidak asing baginya.
"Mas, es jeruknya aku mau nambah lagi." kata Mikaela. Padahal ia bisa memesannya sendiri tanpa harus menyuruh Jaka.
Jaka mengangguk lalu memesankan minuman untuk Mikaela. Saat ia berbalik, ia bersitatap dengan gadis yang ia kenali. Putri, mantan kekasihnya ada di sini, bersama temannya.
Sama halnya dengan Jaka, Putri yang masih memiliki rasa pada Jaka menatap lekat pria itu.
"Mas! buruan pesen!" Mikaela mengguncang bahu Jaka.
__ADS_1
"Eh, iya." balas Jaka gugup.
Kedua mata Putri berkaca-kaca. Ia melihat sendiri mas Jaka sedang bersama seorang gadis. Gosip yang ia dengar ternyata benar adanya, Jaka akan segera menikah dengan gadis lain.
"Mas, aku gerah!" Mikaela mengibas-ngibaskan rambut panjangnya. Manja sekali gadis ini.
"Udah selesai kan, kita pulang."
"Tunggu dulu, aku baru selesai makan, butuh kekuatan penuh buat naik motor kamu yang butut itu!" gadis itu mulai mendramatisir.
Tempat yang sangat sempit, mengharuskan Putri dan temannya duduk tidak berjauhan dengan Jaka. Mereka bisa melihat satu sama lain.
Tetapi di sini Mikaela tidak menyadari kehadiran mantan kekasih calon suaminya.
"Put, itu kayaknya calonnya mas Jaka." bisik temannya bernama Sulis.
Putri terdiam, ia mengakui kecantikan gadis yang bersama mas Jaka. Pantas mas Jaka mudah sekali melupakannya. Rupanya sudah memiliki pengganti yang lebih cantik darinya.
Mikaela menyadari dua perempuan di hadapannya ini tengah menatap Jaka. "Mbak! kenapa liat liat! naksir? dia calon suami saya!"
"Mika apa apaan sih!" Jaka terkesiap, tidak menyangka mulut Mikaela sebar-bar itu. Terlebih pada Putri.
Mikaela malah tertawa cekikikan. "Hihi.. abisnya ngeliatin kamu gitu amat. Kayak gak pernah liat cowok ganteng aja! kalau tahu kamu cuma petani pasti bakalan mundur teratur."
Jaka menghela, lagi-lagi Mikaela memandang rendah pekerjaannya. Anehnya, sudah tahu ia seorang petani, masih saja memaksanya untuk menikah!
"Mas! mas Jaka tunggu!" teriaknya. Jaka pergi meninggalkan Mika setelah membayar. "Jalannya jangan cepet cepet napa!" Mikaela harus berlari kecil mengejar Jaka.
__ADS_1
"Buruan naik!"
"Iya! baper banget sih!"