
"Mbak Mika, kata Ajeng mbak Mika lagi hamil?" pagi-pagi sekali, sepulang dari warung bu Lastri sudah datang ke rumah menanyakan kehamilan Mikaela. Tentu kabar itu pasti di dapatkan dari mulut Ajeng yang suka sekali bergosip.
"Gak bu, gak bener! jangan dengerin kata Ajeng!" serunya.
"Oalah.. piye iki, aku pikir beneran hamil." rupaya putrinya yang mengada-ada. Padahal tadi di warung ia bersemangat, sudah bergosip mengenai Mikaela yang tengah berbadan dua.
"Gak bu, aku gak hamil kok. Baru kemaren dapet."
"Si Ajeng ini kalo ngomong asal aja!" bu Lastri bergegas pulang."
Mikaela kembali masuk, ia melihat Jaka yang baru saja selesai berberes rumah."awas lantainya masih licin!" seru Jaka memperingati istrinya agar berjalan pelan, ia baru saja mengepel, lantai masih basah belum sepenuhnya kering.
Mikaela melongo melihat Jaka yang bertelanjang dada, kekar sekali tubuh suaminya ini, otot-ototnya menonjol di bagian yang seharusnya, besarnaya pun tidak berlebihan. Belum lagi perutnya yang terdapat empat kotak. Woww seksi sekali!
Mikaela sampai tidak mendengarkan peringatan dari Jaka, gadis itu malu setelah menyadari dirinya terpana dengan tubuh Jaka. Hingga gadis itu berlari menuju kamar.
Brugghhhh...
"Mika!!!" seru Jaka.
Mikaela terpeleset, mengaduh kesakitan. "Sakit!!"
"Saya udah bilang hati hati jalannya." Jaka membantu Mikaela berdiri. Memeriksa kedua kaki istrinya, takut ada yang terluka. "Mana yang sakit?"
"Ini.." Mikaela menunjuk lengannya dan bokonggnya, karena ia jatuih terduduk dengan satu lengan untuk menyangga.
"Saya panggilin tukang urut ya?" Jaka menggendong tubuh Mikaela untuk di baringkan ke kasur. Mikaela sampai memejamkan matanya karena tidak mau melihat tubuh kekar Jaka dalam jarak yang sangat dekat. Bisa kotor pikirannya nanti. "tunggu di sini, aku panggilin nini Santer." Jaka menyebut nama salah satu tukang urut yang sudah tersohor di desa ini. Tangannya ajaib sekali, seolah di berikan kelebihan dari Sang Pencipta, pasiennya akan sembuh ketika ia memijatnya.
__ADS_1
Mikaela memukuli kepalanya sendiri setelah Jaka pergi, bisa-bisanya ia terkesima dengan tubuh Jaka. "dasar mesuum!" ia merutuki sikapnya yang begitu nakal memikirkan Jaka.
Lima belas menit kemudian, Jaka kembali dengan seorang nenek-nenek, yang Mikaela ketahui namanya adalah nini Santer.
Mikaela menurut apa saja yang nini Santer ucapkan. Termasuk untuk membuka pakaian, lalu menggunakan kain sarung saja sebagai pelindung tubuh mulusnya.
Jaka kembali dari dapur dengan secangkir teh hangan. "Ini ni, minumnya." seraya meletakkan cangkir itu di dekat kasur, ada meja kecil di sudut sana.
Mikaela memalingkan wajah saat pandangannya bertemu dengan Jaka, Ia malu karena Jaka melihatnya seperti ini. Punggung dan pahanya terekspos, Mikaela sudah berbaring tengkurap. Nini Santer sudah mulai memijat di bagian yang Mikaela keluhkan.
Susah payah Jaka menelan salivanya. Lagi-lagi Jaka melihat kulit seputih susu milik Mikaela. Karena canggung, Jaka keluar kamar.
"Astagfirullah.." di luar kamar, Jaka mengelus dada. Ia harus tahan dengan godaan ini.
***
"Nanti juga sembuh, kamu tidur aja." Mikaela meminta Jaka untuk beristirahat, tidak perlu menunggunya ataupun mencemaskannya. Demamnya ini pasti akan turun. Tidak perlu khawatir.
"Saya jagain kamu. Kamu tidur aja..." Jaka kekeh ingin menemani Mikaela. Pria itu sampai memboyong kursi ke kamar Mikaela.
"Kepala ku pusing.." rengeknya. Belum lama ia merasa kasihan, tidak mau merepotkan Jaka. Tetapi sekarang malah meminta dipijat kepalanya.
Jaka mengangguk, mengerti apa yang harus ia lakukan. Jaka berpindah duduk di tepian ranjang.
"Pelan-pelan pijitnya, sakit tahu!" pijitan Jaka terlalu kuat, Mikaela memprotes. Sedang sakit tapi mulutnya masih saja cerewet.
"Iya," dengan sabar Jaka menurut.
__ADS_1
Lama kelamaan Mikaela tertidur. Jaka tersenyum saat melihat Mikaela tidur dengan mulut yang terbuka, sesekali juga mengigau tidak jelas. "Dasar!" bukannya ilfeel, Jaka malah semakin terkesima melihatnya. Apa semua wanita cantik kalau sedang tidur tetap terlihat menggemaskan??
Karena kelelahan, tanpa sadar Jaka ikut tertidur di ranjang yang sama dengan Mikaela.
Pagi-pagi...
"Aaarrggghhh!" Mikaela berteriak. Ia terkejut bukan main saat menyadari guling yang ia peluk adalah Jaka.
Teriakan Mikaela membangunkan Jaka. "Ada apa?" tanya Jaka panik dengan muka bantal..
"iiihhkkhhh!" Mikaela menghujani pukulan dengan bantal. "Dasar mesum! kamu ngapain tidur di sini!"
"Eh??" ia baru sadar telah tertidur di ranjang Mikaela. Naasnya ia bangun kesiangan. Biasanya ia bangun pagi saat adzan berkumandang dan harusnya ia sudah pergi sebelum Mikaela bangun. Sungguh sial!
"Pergi!!!"
"Maaf saya gak sadar." Jaka tetap meminta maaf. "saya gak ngapa ngapain kamu kok." ia hanya tertidur, tidak melakukan apapun yang di luar batas.
Mikaela melotot, ia memegangi erat kain sarung yang semalam belum sempat diganti. "kamu pasti sengaja! mencuri kesempatan dalam kesempitan kan? ngaku!" tuduhnya.
Jaka menggeleng cepat. "Gak! saya bener bener gak sengaja ketiduran! gak macem macem sama kamu!" ucapnya jujur. Sebelumnya ia memang tidak berfikir macam macam, tetapi sekarang? setelah melihat bahu dan kaki mulus Mikaela pikirannya mendadak berkelana kemana-mana.
Harusnya semalam ia tidak tertidur, bisa melihat Mikaela dalam keadaan seperti ini sepuasnya.
Jaka menggelengkan kepalanya. Ini tidak benar! Otaknya sudah mulai mesum. Ia harus pergi secepatnya dari kamar ini sebelum kewarasannya menghilang.
"Saya mau mandi dulu! sumpah saya gak ngapa ngapain kamu!" seru Jaka seraya pergi.
__ADS_1