Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Saya suka yang halal


__ADS_3

Mikaela senyum-senyum sendiri sambil rebahan di kasur. Perempuan itu tengah berbalas pesan dengan Gio, teman pria yang baru ia kenal tadi siang. Gio lumayan tampan meskipun tidak sekaya Roy, tetapi pria itu lebih keren di bandingkan Jaka, suaminya yang hanya orang kampung. Mikaela tidak akan malu kalau nantinya memperkenalkan Gio sebagia kekasih atau calon suaminya kelak pada teman-temannya.


Jaka memperhatikan istrinya yang begitu abai, ia masuk ke kamar punseakan tidak terlihat. Jaka mulai berpikir tak seharusnya ia berlama-lama di sini. "Mika, saya ingin bicara." Jaka bersuara, Mika baru menyadari suami kontraknya itu sudah ada di kamar.


"Ngomong aja." balasnya santai, Mikaela sama sekali tidak berniat menyudahi kegiatannya berbalas pesan. Jemarinya mengetik, kedau matanya pun melihat layar ponsel, hanya telinganya saja yang ia siapkan untuk mendengar Jaka berbicara.


Jaka menghela, begitukah sikap Mikaela padanya? terlalu acuh. "Saya mau pulang kampung besok sore. Pabrik gak bisa di tinggal lama-lama." kata Jaka.


"Oh, yaudah gak papa. Tapi aku masih betah di sini. Gak papa kan mas, kamu pulang sendiri?" tak masalah jika Jaka ingin cepat cepat pulang yang penting dirinya masih di sini. "Tapi mas bilang ke mama sama papa ya,  kalo mas ngijinin aku masih stay di sini."


"Iya, nanti saya bilang." Mikaela sudah setuju. Tak ada pembicaraan lain yang penting. Jaka ke kamar mandi sebelum bersiap tidur.


Ponsel Jaka berdering. Mikaela mengabaikannya karena merasa tidak penting dan bukan urusannya juga. Tetapi si pemanggil gigih, berulang kali menghubungi Jaka. Mikaela yang terganggu dengan dering ponsel milik suaminya pun berniat ingin menerima panggilan tersebut dan mengatakan jika Jaka sedang berada di kamar mandi.


[Hallo mas Jaka, pertimbangkan permintaan ku tadi. Aku tunggu jawaban dari mas Jaka] suara perempuan di sebrang sana terdengar sebelum Mikaela berbicara apapun.


Dengan kesal Mikaela mematikan panggilan tersebut. "Sialan siapa dia?"


Satu pesan kembali diterima. Mikaela bisa membaca pesan itu.


[Mas, ini Dona. Kenapa telfonnya di matiin. Mas Jaka gak save nomor aku?]


Makin marah lah Mikaela membaca pesan tersebut. Ia tidak rela Jaka kembali di rebut Dona sialan itu. Bagaimana bisa Dona memiliki nomor ponsel Jaka?


"Mas Jaka!" seru Mikaela tepat di depan pintu kamar mandi. "Mas!"


"Ada apa teriak teriak?" Jaka keluar dengan wajah yang basah.


"Kenapa bisa Dona punya nomor telpon kamu?" Mikaela menunut penjelasan.


"Oh, tadi saya ke minimarket depan. Gak sengaja ketemu Dona." Jaka berkata jujur. Ia memang sempat ke minimarket dekat rumah, lalu tidak sengaja bertemu Dona di sana.

__ADS_1


"Terus kamu kasih gitu aja nomor kamu?"


Jaka mengangguk. "Iya."


"Kenapa sih kamu main kasih kasih aja nomor ke dia! jangan mau di deketin dia!" jelas Mikaela tidak senag dengan Dona. Perempuan itu adalah musuh bebuyutannya.


"Gak masalah, saya kan besok mau pulang kampung." balasnya santai.


"Ishh!" Mikaela menghentakkan sebelah kakinya tak suka, lalu mengembalikan ponsel Jaka. "Aku gak suka kamu deket deket dia!"


Jaka menaikan sebelah alisnya. "Kamu cemburu?"


Mikaela menggeleng cepat. "Gak! mana mungkin aku cemburu!"


"Oh..." sudah biasa di kecewakan, Jaka sadar diri. Pria itu kembali ke sofa bersiap untuk tidur.


Mikaela mendadak gelisah. Ia tidak mau untuk kedua kalinya laki-laki yang dekat dengannya di ambil oleh Jaka. Berulang kali ia menatap punggung Jaka yang meringkuk.


Jaka yang memang belum tertidur pun berbalik. "Hem?"


"Kamu suka sama Dona?" tanya Mikaela.


"Kenapa tanya gitu?"


"Jawab aja! kamu suka gak sama Dona? aku sama Dona cantikan mana?" Mikaela terus mendesak agar Jaka menjawabnya dengan jujur.


"Saya gak ada alasan buat membenci Dona." jawaban Jaka tidak memuaskan bagi Mikaela.


"Iish kamu nyebelin! di tanya apa jawabannya apa!" gerutunya. "Jawab aja! Cantikan siapa, aku atau Dona?" ia memaksa.


"Semua perempuan cantik!"

__ADS_1


Jaka ini memang menyebalkan! kenapa susah sekali menjawab pertanyaannya. Apa memang Dona itu cantik melebihinya? dulu ketika Jaka ditanya cantikan mana antara Mikaela dan Putri? dan Jaka masih bisa menjawabnya. Tentu jawabannya Mikaela yang tercantik. Tapi sekarang?


Mikaela mendengus, ia kesal. Mendadak ia berkecil hati. Rupanya bukan hanya Roy saja yang terkesima dengan kecantikan Dona. Jaka pun sama saja! Apa karena Dona lebih seksii? huh! dasar pria!


Jaka beralih duduk lalu berkata, "cantik fisik gak ada artinya kalau hatinya gak cantik."


"Kamu nyindir aku?" sembur Mikaela.


Jaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Bukan begitu..'


"Ngaku aja! kamu tertarik kan sama Dona? dia lebih bahenol dari aku?"


Jaka tertawa mendengarnya. "Saya lebih suka yang halal. Sama sekali gak tertarik yang haram buat akun sentuh."


Mikaela tersipu malu. Ia menundukkan kepala, malu rasaya bertatap muka dengan Jaka.


Aduh! gemas sekali. Jaka ingin memeluk istrinya ini. Walaupun Mikaela sering melukai hatinya, perasaan Jaka yang sudah terpaut pada istrinya itu seringkali luluh.


"Mika, boleh saya..." ia ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Takut di tolak dan Mikaela akan marah padanya karena tidak sopan dan tidak tahu diri.


Tiba-tiba saja jantung Mikaela berdegup kencang. Kenapa ia menjadi begini? takut Jaka di miliki wanita lain?


"Boleh saya peluk kamu?" spontan, Jaka mengatakannya begitu cepat.


Permintaan Jaka mampu membuat Mikaela meremang, kedua pipinya sudah memerah, jantungnya pun berdebar-debar. Perlahan Mikaela mengangguk.


Hati Jaka berbunga-bunga, senang bukan main. Pelan-pelan Jaka mulai mendekat. Ragu sekaligus gugup. Tangannya sampai gemetar saat hendak melingkar di bahu Mikaela.


Grep! mereka berdua berpelukan. Keduanya bisa saling mendengar degup jantung satu sama lain. Lama berpelukan. Jaka sampai terbawa suasana. Keinginan hati nuraninya memberanikan Jaka bertindak lebih. Ia mengecup kening istrinya dengan lembut. Lalu berpindah ke pipi.


Saat ingin menyatukan bibir, Jaka menatap Mikaela dalam. Seolah meminta ijin dengan sorot matanya. Mikaela mengangguk.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2