Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Menemui Gio


__ADS_3

Mikaela berulang kali mengabaikan panggilan dari Gio. Ia malas berurusan dengan Gio yang ternyata suka memaksa. Mikaela sudah mengatakan kalau ia tidak mau bertemu, dan meminta Gio agar tidak lagi menghubunginya.


"hape kamu dari tadi bunyi terus, nggak di angkat?" Jaka menghampiri istrinya usai membenahi tanaman bersama ayah mertuanya. Ia melirik layar ponsel Mikaela yang muncul nama Tami. Jaka teringat dengan nama itu, kebetulan sekali. "Tami itu siapa?" ia pura-pura bertanya untuk memastikan sesuatu.


"hah? bukan siapa siapa, cuma temen jauh ku." jawab Mikaela, lalu segera menyimpan ponselnya.


"Perempuan atau laki-laki?" tanya Jaka.


Mikaela tersenyum. "perempuan lah, namanya aja Tami."


Jaka mengangguk saja. Sangat disayangkan, istrinya tidak jujur padanya. Padahal Jaka ingat jelas pemilik nama itu berusara laki-laki. Apa istrinya ini sedang menyembunyikan sesuatu?


"hari ini aku mau keluar. Papa minta aku cariin pupuk."


"yaudah, tapi aku gak ikut ya."


"iya, aku bisa sendiri." Jaka lalu pergi.


Mikaela merasa ada yang aneh pada suaminya, kenapa Jaka jutek padanya? biasanya Jaka selalu menebar senyum.


Di perjalanan Jaka melamun. Ia memikirkan Mikaela yang terlihat belum sepenuhnya menerima dirinya, terbukti Mikaela tidak jujur.


Dua puluh menit Jaka sampai di toko penjual pupuk. Jaka membeli pupuk yang berkualitas.


Usai membayar, Jaka berniat pulang tetapi ia mendapat pesan dari Dona.

__ADS_1


Kening Jaka berkerut, ia membaca pesan Dona yang meminta bantuan. Karena khawatir Jaka pun balik menghubungi Dona, namun sayang panggilan tidak tersambung. Jaka segera menuju tempat dimana Dona sempat memberitahu lokasinya berada.


Hotel Cendana, Jaka tiba di sana. Baru saja memarkirkan mobil di basement, ia melihat Dona sedang berlari.


"Dona!" Jaka memanggil dengan berteriak.


"Mas!" melihat keberadaan Jaka, Dona lega. "Mas, tolong aku mas!"


"kamu kenapa?" tanya Jaka.


Belum sempat Dona menjawab, sosok pria yang membuat Dona lari ketakutan muncul.


"Oh, lo mau jadi pahlawan kesiangan pecunn ini!" rupanya Roy yang tengah mengejar Dona. wajahnya nampak bingung kenapa Dona bisa mengenal laki-laki kampung ini?


Roy mengangguk mengerti. "Jadi sekarang lo ngincer cowok kampungan ini? makanya lo gak mau lagi ama gue?" ucapnya menatap benci Dona. Roy saat ini dalam keadaan setengah mabuk. "ayo! balik lagi ke kamar, temen gue udah nungguin!"


Dari pembicaraan keduanya, Jaka mengerti seng sendirinya apa yang sudah terjadi pada Dona.


"halahh!! jangan sok suci lo! lo juga bakal nikmatin permainan kita. Dasar pelacurr!!" ucap Roy. Sekali pukulan sudah berhasil membuat tubuh pria mabuk itu tersungkur.


"Jangan ganggu Dona lagi! dasar bajingann!" Jaka mengumpat.


Roy tertawa. "Wah wah.. ada apa kalian? apa Mika tahu kalo suaminya ini belain musuhnya?"


"mas, udah jangan di ladenin lagi. Kita pergi aja." Dona menarik lengan Jaka untuk segera pergi. Meladeni Roy akan membuat emosi saja.

__ADS_1


***


Di tempat lain, Mikaela menemui Gio. Setelah dipikir-pikir, ia harus menemui Gio karena pria itu terus saja mengganggu. Mikaela harus berbicara langsung untuk menegur Gio supaya menjauh.


"Ada apa? cepetan aku gak punya banyak waktu!" Mikaela berbicara ketus, ia harus secepatnya menyelesaikan urusannya dengan Gio sebelum Jaka pulang lebih dulu.


"kenapa kamu jadi jutek sama aku? nggak bales chat sama nggak nerima panggilan dari ku?" Gio merasa diabaikan. Padahal sebelumnya mereka sudah saling dekat, berbalas pesan sampai larut malam. Gio sudah berharap lebih dengan Mikaela.


"aku sibuk." balas Mikaela.


"Mika, aku cinta sama kamu. Aku ingin bukan sekedar berteman. Kamu mau kan jadi pacar aku?" Gio langsung mengutarakan isi hatinya. Mungkin salahnya karena terlalu lama mengulur waktu untuk menyatakan perasaan. Gio tidak mau kehilangan Mika yang sudah mulai menjauhinya.


Inilah yang Mikaela takuti. "aku nggak bisa. Aku nggak mau pacaran!" lidah Mikaela seakan kelu untuk mengakui statusnya saat ini, yang sudah menjadi istri.


"kenapa gak bisa? bukannya kita udah saling cocok?"


"aku gak mau pacaran!"


"jangan bilang kamu maunya hubungan serius? kamu masih mudah. Gak mungkin kan mau cepet cepet nikah?" banyak wanita yang beralasan serupa saat menolak pria. Itu hanya sebuah alasan klise.


"memang kenapa kalau nikah muda? kalo kamu pengin main main, kamu salah orang! silahkan cari cewek lain diuar sana." kebetulan sekali, sepertinya Gio tipe pria yang masih ingin bebas. Dia pasti mundur dengan sendirinya.


Gio terdiam, ia menyukai Mikaela tetapi kalau harus menikahinya dalam waktu dekat, Gio merasa keberatan. Dia belum siap.


"Sudahlah, aku pulang. Jangan hubungi aku lagi!" Mikaela beranjak dan segera pergi.

__ADS_1


***


maaf ya teman-teman, baru bisa up date 🙏


__ADS_2