Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Satu ranjang


__ADS_3

Bibir keduanya bertemu, saling melummat lembut. Nikmat sekali. Jaka mulai berani, pria itu bergerak semakin menggebu. Maklum jiwa mudanya masih membara serta merasa Mikaela ini halal baginya. Mendorong Jaka ingin melakukan lebih dari sekedar ciuman.


Mikaela memejamkan matanya saat Jaka membaringkannya di sofa. Tidak ada lagi pikiran jika yang sedang menyentuhnya ini Jaka, seorang petani. Mikaela terlalu larut dalam nikmat yang Jaka suguhkan. Meskipun Jaka amatir, sentuhannya bisa meluluh lantahkan jiwa raga Mikaela.


"Mas!" Mikaela melenguh manja. Terdengar sangat indah di telinga Jaka.


Sekarang, Jaka tidak seperti suaminya yang lugu dan pendiam. Jaka seperti pria nakal yang sudah mahir merayunya dengan sentuhan liar.


Sesuai khyalan Jaka selama ini. Tubuh istrinya benar-benar indah. Jaka heran, kenapa istrinya bisa memilki tubuh halus nan lembut. Apa semua ini karena uang? jika benar, Jaka akan semakin giat bekerja mengumpulkan banyak uang agar Mikaela bisa terus merawat dirinya dengan produk produk yang tentunya tidaklah murah.


Mikaela tersipu malu, ia pun memalingkan wajah saat Jaka menatapnya. Jaka mengulum senyum, tak menyangka ia bisa sejauh ini menyentuh istrinya. Sudah sejak lama Jaka menginginkannya tetapi ia tahan karena belum berani mengutarakan keinginannya.

__ADS_1


"Mas jangan ngliatin aku kayak gitu!" rengeknya manja sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Kamu cantik!" pujian yang tulus dari hati. Istrinya ini memanglah sangat jelita.


Mikaela semakin malu saat Jaka membuka kaosnya lalu kembali mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Jaka mulai menyentuhnya lagi.


"Boleh?" Jaka menghentikan kegiatannya, lalu bertanya. Pria itu ingin melaksanakan tugasnya sebagai seorang suami. Sudah dekat begini, Jaka mulai berani.


"Mas, aku lagi halangan." lirih Mikaela. Perempuan itu berkata jujur, ia sedang mendapat tamu bulanan.


Jaka mengakhiri kemesraan ini. "Pakai lagi baju mu." ia meraih piyama Mikaela yang tergeletak di lantai, lalu membantu Mikaela mengenakannya. Jaka harus menghentikannya sebelum ia benar-benar lepas kendali dan berakhir dengan kepalanya yang pening.

__ADS_1


Duduk berdampingan, mereka sama-sama canggung. Jaka salah tingkah. "Emm, kamu gak tidur?" jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Biasanya keduanya sudah tidur di tempatnya masing-masing.


Mikaela mengangguk, "Iya.." Mikaela beranjak, melangkah menuju ranjang.


Sebenarnya Jaka tidak rela istrinya pergi menjauh. Ia ingin terus berdekatan dengan Mikaela. Takut jika besok Mikaela kembali lagi mengabaikannya seperti yang sudah sudah.


"Mas.." Mikaela memanggil suaminya. Jaka yang menunduk segera mengangkat kepalanya. Ia mengulum senyum saat Mikaela menepuk ranjang di sampingnya. "Sini mas, tidur di sini aja."


Tanpa pikir panjang, Jaka pun segera mendekat. Merangkak naik menyusul Mikaela yang sudah berbaring. "Saya boleh peluk kamu?" Mikaela mengangguk lalu masuk kedalam pelukan Jaka.


Bukannya segera tidur, Mikaela malah senyum-senyum sendiri. Saat ini Jaka tidak mengenakan kaos. Tubuh liatnya bisa Mikaela peluk sesuka hati. Hangat dan nyaman, Mikaela betah berada di pelukan Jaka. "Mas, besok jadi pulang?" tiba-tiba saja Mikaela tidak rela Jaka pulang.

__ADS_1


"Kita liat besok aja." jawab Jaka. Ia pun sebenarnya tidak ingin pulang tanpa Mikaela, tetapi Jaka sudah terlanjur mengabari pada pegawainya di kampung tentang kepulangannya. "Sudah tidur, besok bisa kesiangan." alasan saja agar Jaka bisa menyingkirkan pikiran kotornya. Terus mengobrol dan saling dekat tanpa jarak, Jaka bisa pusing sendiri lantaran hasrattnya tak kunjung reda.


"iya.." Mikaela memejamkan mata, berusaha untuk tidur. Untuk pertama kalinya, mereka tidur di ranjang yang sama saling berpelukan dalam keadaan sadar.


__ADS_2