
Mama Sekar memerhatikan tingkah anak dan menantunya yang terlihat semakin mesra. Ia senang karena keduanya sudah saling menerima satu sama lain. Terutama putrinya yang selalu bersikap jutek pada Jaka kini sudah sedikit manis.
"Jaka, sore ini kamu jadi pulang ke kampung?" mama Sekar menanyakan kepulangan Jaka sore nanti, kemarin menantunya itu sempat berpamitan padanya.
"gak jadi mah, mas Jaka masih betah di sini." Mikaela menyahut.
Mama Sekar mengulum senyum. "pasti kamu gak mau di tinggal ya?" terkanya.
Mikaela jadi salah tingkah. "Gak kok, ini kemauan mas Jaka sendiri. Iya kan mas?" Mikaela meminta dukungan dari Jaka.
"Iya mah, saya gak jadi pulang masih betah di sini." kata Jaka.
Tidak mau menunggu lama lagi, Jaka dan Mikaela segera pergi ke supermarket untuk berbelanja. Jika terus di rumah, mamanya itu akan terus menggodanya.
"mas, kenapa sih liatian aku terus. Aku kan jadi malu." Mikaela gugup, berulang kali Jaka curi curi pandang ke arahnya.
Jaka mengulum senyum, "Abisnya kamu cantik. Saya pengin terus liatian kamu." Jaka ini terlalu jujur.
Mikaela dibuat salah tingkah, ia senang sekaligus malu. "mas lagi gombal?"
"Saya gak printer gombal. Saya bicara jujur." balasnya.
Ponsel Mikaela berdering nyaring. Sebuah panggilan masuk tetapi Mikaela mengabaikannya setelah tahu siapa yang menghubunginya.
"kok gak di angkat?" Jaka penasaran siapa yang melakukan panggilan tersebut.
"gak papa, bukan hal penting kok." Mikaela mana mungkin menerima panggilan dari Gio, ia tidak mau Jaka tahu mengenai pria itu. Hubungannya sudah mulai membaik saat ini.
***
__ADS_1
Tiba di pusat perbelanjaan, Mikaela dan Jaka mengisi troli sesuai dengan catatan yang mama Sekar berikan.
"mas Jaka!" baru saja mereka mengambil satu barang, Dona yang ada di sana memanggil Jaka. Seperti sudah kenal saja!
"Lo! ngapain panggil panggil!" jelas Mikaela marah, ia tidak suka dengan Dona yang sok akrab.
"gue gak ada urusan sama lo! gue ada perlu ama mas Jaka!" balas Dona tak kalah sewot.
Mikaela yang tadinya berdiri sedikit jauh dari Jaka segera mendekat, lalu merangkul lengan Jaka. "Jangan ganggu dia! lo gak puas sama Roy?" enak saja si Dona ini! bosan dengan Roy mau beralih pada Jaka.
"kenapa lo sewot? mas Jaka aja gak keberatan kok." balas Dona.
Mikaela menatap Jaka. "mas, kamu sering chat sama dia? kamu save nomor cewek sialan ini?" jika benar, Mikaela marah sekali. Teganya Jaka saling berhubungan dengan Dona.
"Saya memang punya nomor Dona. Tapi hanya beberapa kali membalas pesannya." Jaka akui ia memang sempat berbalas pesan dengan Dona tapi sama sekali tidak ada niatan untuk berpaling.
Mikaela cemberut, lalu melepas rangkulannya dari lengan Jaka.
Mikaela melotot. "bukan urusan lo!" ia belum berani berkata jujur tentang status Jaka yang memang sudah menjadi suaminya.
"Sudah jangan ribut, malu di latin banyak orang." Jaka melerai.
"aku udah gak mood lagi!" Mikaela merajuk. Ia meninggalkan troli yang masih kosong.
Jaka menghela, "Jangan ganggu Mika lagi. Dia gampang ngambek."
"Mas Jaka ini kenapa sih gak tinggalin aja si Mika. Dia itu masih belum ngakuin kamu mas!"
"Bukan urusan kamu. Saya mau nyusul Mika.." Jaka berpamitan.
__ADS_1
Tetapi Dona tidak menyerah. Wanita itu malah mengekori Jaka. "Aku ikut mas!" ia bergegas agar tidak tertinggal.
Jaka segera menghentikan langkahnya, lalu berbalik "Kalau ada kamu, Mika pasti tambah marah. Lebih baik kamu pulang.."
"Aku ke sini sama mama. Mas Jaka gak mau ketemu?"
Jaka menggeleng. "Lain kali aja. Salam buat tante Sarah..." setelah itu Jaka pun segera pergi.
Mikaela sudah berada di mobil, untungnya kunci mobil ada di dalam tasnya.
"kamu ada apa sih sama Dona? kok bisa kenal deket padahal kalian baru sekali ketemu!" Jaka baru saja masuk ke mobil, Mikaela langsung berceloteh. "kamu tertarik sama Dona?" tuduhnya.
"kenapa kamu bisa bilang begitu?" kata Jaka. Mikaela ini terlihat sekali tengah menuduhnya.
"cowok mana yang gak suka sama cewek macam Dona. Dada sama bokongnyaa idaman para cowok mesum. Roy selingkuh juga karena itu, jangan jangan kamu salah satu dari mereka." Mikaela akui Dona memiliki tubuh yang bagus nan menggoda. Tidak seperti dirinya yang biasa biasa saja.
"Astagfirullah.. jangan samakan semua pria dengan mantan pacar kamu."
"tapi Dona pintar merayu. Cowok kalem kayak kamu juga pasti tergoda sama dia. Dia kan pelacurr handal!"
"Mika!! jaga mulut kamu!" seru Jaka marah.
Mikaela terkesiap, baru kali ini Jaka membentaknya. "Kamu bentak aku? gara gara Dona?" kedua mata Mikaela berkaca-kaca, sakit sekali di bentak seperti ini.
"Maaf.." Jaka mengontrol diri. "Saya cuma gak mau kamu bicara asal. Jangan menilai kelakuan orang."
"Tapi emang bener. Dona itu...."
"Mika!" sekali lagi Jaka memperingati Mikaela agar menjaga lisannya, tetapi dengan suara yang rendah.
__ADS_1
Mikaela melengos, ia tidak suka dengan Jaka yang lebih membela Dona. Mungkin niatnya memang benar agar dirinya tidak berbicara buruk mengenai orang. Tapi ini Dona, musuh dan perebut calon suaminya dulu. Jika orang lain, mungkin Mikaela bisa menahan mulutnya.