Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Pulang ke kota


__ADS_3

Pagi-paginya, Mikaela dan Jaka sudah siap pergi ke stasiun. Mereka akan pergi ke Jakarta hari ini. Mikaela sangat antusias sekali. Akhirnya bisa kembali ke kota.


Perjalanan kali ini lebih nyaman dan menyengkan karena mereka menggunakan transportasi yang lebih mumpuni dari pada bus, tidak akan terjebak macet. Apalagi Jaka khusus memilih kelas executive demi kenyamanan istrinya.


"Mas, bibi Nenti kasihan harusnya kita ajak aja." Mikaela melihat jelas raut kesedihan sekaligus kecemasan saat Jaka berpamitan.


"Lain kali kita ajak kalo ke Jakarta lagi." ucap Jaka. Sebenarnya Jaka juga enggan pergi ke Jakarta, tetapi mau bagaimana lagi? istrinya terus merengek ingin pulang.


Mikaela mengangguk. "Aku laper mas," ada saja tingkah gadis ini. Tadi sebelum masuk ke kereta, Mikaela lama sekali di toilet, mereka nyaris tertinggal jika Jaka tak memaksa masuk ke dalam toilet wanita. Memanggil istrinya yang sibuk di bilik. Katanya sih, perutnya mulas.


"tunggu sebentar, nanti kan dapat jatah makan." kata Jaka.


Mikaela mengerucutkan bibirnya, lalu melepas tangannya yang menaut di lengan Jaka. "Yaudah deh.."


"Minum dulu buat ganjal perut." Jaka menyodorkan sebotol air mineral.


"Aku laper kok di suruh minum. Dasar pelit!" seru Mikaela.


Bukannya pelit, sebelumnya Jaka sudah memesannya, tinggal menunggu di antar. Kereta baru saja meluncur, Mikaela sudah meributkan makanan.


Jaka mendegus, "Iya tunggu sini.." perhatian sekali pria ini. Harusnya Mikaela bersyukur sudah mempunyai suami sebaik Jaka, perhatian lagi!


Perjalanan di tempuh selama enam jam lebih. Mikaela sampai ke rumah orang tuamya menjelang sore. Kedatangan mereka di sambut baik oleh Danu dan Sekar.

__ADS_1


"Mama, papa!!" Mikaela menghambur ke pelukan Sekar dan Danu. Rindu sekali dengan mereka.


"Alhamdulillah, akhirnya nyampe juga." saat menerima kabar jika putrinya akan datang, Sekar menunggu dan cemas. Perasaannya lega setelah anak dan menantunya tiba.


"Bagaimana kabar kalian? Apa Mika merepotkan mu?" Danu beralih pada Jaka.


Jaka dengan sopan mencium punggung tangan Sekar dan Danu dengan takzim. "Alhamdulillah, kami baik pah." jawab Jaka.


"Kalian mau istirahat apa makan dulu?" Sekar sudah memasak masakan kesukaan Mikaela. Dari pagi wanita itu sibuk di dapur.


"Aku mau bersih-bersih dulu deh mah, badan ku lengket."


"Yasudah ajak Jaka sekalian. Kamar kamu udah di beresin sama mbok Darmi."


Jaka pura-pura tidak tahu apa yang sedang Mikaela cemaskan. Pria itu mengekori Mikaela sampai masuk ke sebuah kamar. Kamar bernuansa merah muda, banyak boneka berjejer di atas tempat tidur, jangan lupakan deretan tas dan sepatu yang menghiasi lemari kaca. Jaka bisa menebak kehidupan Mikaela selama ini. Benar-benar di manjakan.


"Sebelumnya kamu kerja apa?" Jaka penasaran. Baru bertanya begitu saja, Mikaela sudah melototinya.


"Kenapa emang?" balasnya sinis.


"Saya cuma tanya, gak ada maksud apa-apa."


"Kepo banget!!" Mikaela hanya malu saja, tidak mau berkata jujur. Dia memang lulusan sarjana tetapi hanya beberapa kali bekerja. Katanya sih tidak betah! memang dasarnya pemalas dan manja. Di bentak bos nya sedikit sudah ciut, lalu resign.

__ADS_1


"Saya mau mandi. Kamar mandinya dimana?" lebih baik lupakan saja rasa penasarannya, Mikaela sangat tidak bersahabat di ajak bicara.


"Tuh.." Mikaela menunjuk pintu di dalam kamar dengan sedikit mengangkat dagunya. "Kalo di sini aman, gak kayak di rumah kamu." sindirnya. Lalu melengos, berjalan menuju lemarinya.


"Iya saya tahu kamu orang berada." Jaka sadar dengan sindiran Mikaela.


Malam harinya Jaka terlibat obrolan dengan papa Danu, entah apa yang mereka bicarakan, terlihat sangat akrab sekali. "Dih caper!" Mikaela menggerutu, rupanya Jaka berniat ingin mencari perhatian pada papa Danu. "Gak bakal ngaruh. Gue tetep gak lama jadi istrinya."


"Ehem.." mama Sekar berdeham lalu ikut duduk di samping Mikaela yang sedang menonton televisi. "ini kamu yang nontonin tivi apa tivi yang nontonin kamu?" tanya Sekar, lalu pandangannya beralih pada suami dan menantunya yang tampak akrab. "kamu cinta banget ya sama Jaka? sampe diliatin begitu?" mama Sekar tersenyum, senang melihat putrinya sudah move on dari Roy. "Eh mama baru tahu loh.. ternyata Jaka itu pinter.."


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Mikaela sudah menyela. "Mama ngomong apaan sih. Biasa aja kali, gak usah muji muji gitu, Aku lebi keren dari dia yang cuma petani!"


Sekar geleng-geleng kepala. "Jangan gitu, walopun cuma petani yang penting bisa nyukupin kehidupan kamu, sayang sama kamu, hidup gak mesti harus banyak uang. Banyak yang punya suami kaya raya tapi di selingkuhin, ada juga yang kdrt. Harusnya kamu bersyukur bisa bebas dari Roy yang pemaksa." nasihat mama Sekar. Akhir-akhir ini ia baru menyadari jika Roy tidak sebaik dan seseopan saat menyandang calon menaantunya.


"Tapi hidup butuh uang mah!" seru Mikaela.


"Iya, tapi ketenangan dan kenyamanan lebih utama. Uang bisa di cari apalagi Jaka tipe pria pekerja keras, gak males malesan kaya kamu."


"Maksud mama apa? kok bandingin aku sih.."


"Kamu lulusan Sarjana, tapi belum pernah tuh kerja dapetin hasil. Kamu paling lama kerja dua bulan, terus keluar, gak betah." entah mirip siapa putrinya ini. Perasaan ia dan suaminya saat muda getol sekali bekerja, tidak malas malasan seperti Mikaela.


"Kok mama gitu? malah belain mas Jaka?!" Mikaela kesal, ia pun beranjak lalu pergi ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2