Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Hanya supir


__ADS_3

Ibunya sendiri yang membuatnya kesal karena sudah membanding bandingkannya dengan Jaka, tetapi Mikaela marahnya pada Jaka yang tidak tahu apa apa. Mikaela terus berbicara ketus waktu Jaka masuk ke kamar. Jam sudah menunjukan pukul sepulu lebih, sudah malam dan waktunya beristirahat. Mau tak mau Jaka harus kembali ke kamar seusai berbincang dengan ayah mertuanya.


"Kamu kenapa sih? tiba-tiba marah sama saya. Saya ada salah sama kamu?" Jaka sudah berbaring di sofa panjang yang ada di kamar itu. Pria itu tahu diri, Mikaela tidak mungkin mengijinkannya tidur di ranjang yang sama. Tanpa di suruh, Jaka mengambil satu bantal lalu melangkah menuju sofa.


"Aku kesel sama kamu!" semburnya. Jaka menaikan satu alisnya, ia heran. Perasaan dirinya tidak memiliki salah apapun. "Kamu tuh ngapain sih caper sama mama papa ku? pengin dianggep jadi menantu idaman gitu?" Mikaela terus saja mengomel. Ia meluapkan apa saja yang mengganggu perasaannya.


Jaka yang semula berbaring, lalu beranjak duduk. "Caper gimana? saya gak ngerti." kata Jaka. Sikapnya terhadap papa Danu dan mama Sekar tidak berlebihan, ia hanya mengobrol biasa saja selayaknya menantu dan mertua.


"Inget ya! kita cuma nikah sampe setahun! jadi jangan baper!" seru Mikaela sambil menarik selimut lalu menutup tubuhnya.


Jaka terdiam, ia hampir melupakan jika pernikahan yang ia jalani hanyalah sandiwara. Jaka terlalu menikmati perannya. "Iya saya ingat kok." tak mau berdebat lagi, Jaka memilih mengalah saja. Berdebat dengan Mikaela hanya akan menimbulkan keributan. Perempuan itu sudah pasti tidak mau mengalah.


***


Keesokan harinya, Mikaela yang sudah rindu dengan suasana kota sudah bertemu janji dengan temannya. Perempuan itu pun sudah berdandan cantik.


Jaka terpikat untuk kesekian kalinya melihat Mikaela saat ini. Istrinya itu sungguh cantik dengan dandanan ala gadis kota pada umumnya. Cantik dan menarik sih, tap Jaka sedikit terganggu dengan rok mini yang Mikaela kenakan. "Kamu mau pergi? pakai rok sependek itu?" memang bukan pertama kalinya bagi Jaka melihat gaya perempuan kota, tetepi ada rasa sedikit tidak rela kalau Mikaela memamerkan paha mulusnya di khalayak umun. Dirinya saja sering kali tergoda, lalu bagaimana pria di luar sana?


"Iya, emang kenapa? baru liat cewek pakai rok mini? di kampung emang gak ada sih.." kalimatnya seakan menyindir. Merasa dirinya paling segala-galanya dari gadis yang ada di desa.


Jaka menghela, harus sabar. "Katanya kamu gak suka panas? takut kulitnya jadi item. Terus kenapa pakai bajunya gak panjang?" Jaka memilih kalimat tepat agar Mikaela tidak tersinggung dan mau mengganti pakaiannya.


"Dih, aku perginya pake mobil ya, bukan naik motor butut kayak punya kamu!" ada saja alasannya. Mikaela pintar sekali menyudutkan Jaka.


"Oh.." Jaka mengangguk pasrah.


"Yaudah, aku pergi ya!" pamitnya.


Di bawah sana, Sekar menegur putrinya yang hendak pergi tanpa mengajak suaminya.


"Kamu kok mau pergi gak ngajak Jaka?"


"Aku mau ketemu temen, gak mau ah ngajak mas Jaka." jawabnya santai.


Sekar menepuk pelan bahu Mikaela. "Kalo mau pergi pergi tuh ijin dulu sama suami."

__ADS_1


"Mas Jaka udah ngijinin." ucap Mikaela. "Pinjem mobil mah, Tiara udah nungguin aku."


Sekar menggeleng. "Mama gak kasih pinjem kal kamu perginya sendiri, ajak suami mu baru mama kasih pinjem!"


Terpaksa, Mikaela mengajak Jaka pergi. Mamanya ini mulai pilih kasih. Terlalu mengutamakan menantu dari pada anak sendiri. Mikaela mengerutkan keningnya saat Jaka masuk ke mobil di bagian pengemudi. Memangnya Jaka bisa menyetir?


Mikaela masuk, duduk di samping Jaka. "Kamu bisa nyetir?"


"Bisa, dulu..."


Mikaela menyambar kalimat Jaka yang belum selesai. "Kamu pernah jadi supir?" celetuknya. "Oh pantes!"


Perjalanan menuju pusat perbelanjaan cukup memakan waktu, jalanan terhalang karena banyaknya kendaraan.


"Nanti pas ketemu sama temen aku, jangan bilang kamu suami aku ya! inget surat perjanjian yang tertulis." tiba-tiba Mikaela mengatakan hal yang sedikit menyinggung perasaan Jaka.


Jaka sendiri tidak hapal isi perjanjian yang pernah ia tandatangani. Karena pada dasarnya Jaka menikahi Mikaela tulus karena Allah, menerima Mikaela adalah jodoh yang sudah di berikan oleh Sang Maha Kuasa meskipun dengan jalan yang unik.


"Denger gak?!" penampilan Jaka cukup memalukan kalau dia memperkenalkan Jaka sebagai suaminya. Mikaela ingin suami yang melebihi Roy!


Jaka mengangguk saja. Ia malas untuk berdebat. Marah pun sepertinya tidak berhak di mata Mikaela. Karena perempuan itu tidak menganggapnya sebagai suami.


***


Mikaela terpekik senang ketika berjumpa dengan Tiara.


"Ya ampun, Mik! lama banget gak ketemu. Lo kemana aja?" seru Tiara.


"Biasalah gue hiling biar fress otak gue," mereka sudah duduk bercengkrama di salah satu cafe. Jaka tetap mengikuti, pria itu hanya berdiri di sekitar Mikaela.


Tiara menyadari keberadaan Jaka yang terus mengikuti. "Dia siapa?" tanyanya berbisik.


"Dia supir baru gue." jawabnya begitu santai, sama sekali tidak merasa bersalah menganggap suaminya hanya sebagai seorang supir.


"Ganteng juga, hihi.." Tiara akui pria yang berprofesi sebagai supir temannya memiliki wajah yang rupawan.

__ADS_1


"Apaan sih, gak usah lebay!" dalam hati pun Mikaela mengakui ketampanan Jaka, hanya saja ia enggn menerima kenyataan kalau Jaka hanya seorang petani.


"Mas, duduk sini jangan berdiri aja nanti pegel!" Tiara mempersilahkan Jaka untuk duduk. Kasihan juga kalau harus berdiri. "Eh, namanya siapa?" Tiara genti, ingin berkenalan dengan Jaka.


"Saya Jaka mbak."


"Aku Tiara.."


Belum sempat menjabat tangan Tiara, Mikaela sudah menepis tangan Jaka. "Gak usah jabat tangan segala." Mikaela merogoh tasnya lalu mengambil beberapa lembar uang. "Sana gih, cari tempat lain. Nanti kalo aku mau pulang aku telpon."


"Gak perlu, saya masih ada uang." Jaka pun pergi.


"Mik, lo judes banget sih. Ganteng gitu di cuekin, sayang loh.."


"Ish! gak banget. Tampang doang gak minat gue."


"Kejam! buat gue aja ya.. lumayan lah buat hiburan."


Mikaela melotot, "Gak usah macem-macem!"


Mikaela dan Tiara menyudahi kesenangannya sampai sore hari. Jaka dengan sabar menunggu di parkiran dengan beberapa pria yang memang sedang menunggu para majikannya. Hampir petang namun Mikaela tak kunjung menelpon maupun mengirim pesan.


"Astaghfirullah.." Jaka baru ingat, ia belum saling bertukar nomor ponsel dengan Mikaela. Ia pun bergegas masuk kembali, mencari keberadaan istrinya di tempat yang tadi.


Namun sepertinya Mikaela sudah pergi, Jaka pun berkeliling mengitari semua lantai. Berharap akan menemukan Mikaela.


***


Mikaela yang tidak bisa menghubungi Jaka karena tidak memiliki nomor ponselnya langsung menuju basment. Jaka pasti ada di sana, Mikaela masih mengingat posisi mobilnya terparkir.


"Hai, Mika!"


Langkah Mikaela terhenti, lalu berbalik. "Roy!" kenapa harus secepat ini bertemu dengan lelaki brengsek itu!


Seringaian Roy terlihat sangat menakutkan. "Udah balik lo? mana laki lo?"  Roy melangkah maju.

__ADS_1


Mikaela mengitari sekitar, sepi sekali. Merasa dirinya sedang dalam bahaya, mikaela segera lari. Tapi sayang, Roy lebih cepat menggapai pergelangan tangan mantan kekasihnya. Roy mencekal tangan ringkih itu.


"Lepas bajjingan!"


__ADS_2