Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Bikin pusing


__ADS_3

Pagi harinya, Jaka terbangun saat mendengar adzan subuh berkumandang. Ia tersenyum melihat Mikaela masih tertidur dalam pelukannya. Gemas sekali dengan istrinya ini, Mikaela tidur dengan mulut yang sedikit terbuka tetapi malah semakin menggemaskan. Perlahan Jaka memindahkan kepala Mikaela ke bantal, ia harus segera membersihkan diri lalu menjalankan ibadah rutinnya.


"Hemm.." Mikaela bergumam saat tidurnya terasa terusik, "Mas, mau kemana?" kedua matanya masih tertutup tapi ia bisa merasa kalau suaminya ini melepaskan pelukannya. Ia tidak rela kehilangan kehangatan.


Jaka tersenyum, lucu sekali mendengar rengekan istrinya. "saya mau mandi, ini udah subuh." katanya.


Mikaela tidak menyaut lagi, perempuan itu kembali tertidur. Sebenarnya jika saja Mikaela tidak sedang datang bulan, Jaka ingin mengajaknya beribadah bersama. Ia ingin menjadi imam bagi istrinya.


Ketakutan Jaka sirna, Mikaela masih bersikap baik padanya bahkan terlihat sangat manja. Ia pikir Mikaela akan melupakan malam romantis semalam, tapi tidak.


"Mas kenapa gak bangunin aku sih, mama jadi ngomelin aku," ia baru saja ke dapur lalu mama Sekar memarahinya lantaran bangun terlalu siang.


"Saya sudah bangunin kamu, tapi kamunya yang gak mau bangun." kata Jaka. Ia beberapa kali membangunkan istrinya tetapi Mikaela susah sekali dibangunkan. Jaka tidak tega, mengira kalau istrinya itu kelelahan.


Mikaela menyengir, "Iya kah?"


"Iya.." Jaka tersenyum, manis sekali. Mikaela tersipu malu melihat senyuman Jaka yang sangat manis, suaminya semakin tampan saja!

__ADS_1


"Aku mandi dulu deh.. mama nyuruh kita belanja bulanan." Mikaela mengambil handuk baru di lemari lalu segera masuk ke kamar mandi. Sedangkan Jaka menunggu di kamar sambil mengirim pesan pada pegawainya kalau kemungkinan ia belum bisa pulang hari ini.


Tengah asik berbalas pesan, Mikaela keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunkan handuk yang melilit di tubuhnya. Sepertinya perempuan itu tidak menyadari keberadaan Jaka di dalam kamar, mengira di dalam kamar itu hanya ada dirinya saja.


Jaka memperhatikan istrinya yang tengah membuka lemari, mencari pakaian ganti. Kedua matanya membelalak seketika saat tiba-tiba Mikaela membuka handuknya. Kini ia bisa melihat jelas keseluruhan tubuh Mikaela berkat penerangan cahaya ilahi. "Astagfirullah, eh MasyaAllah." gumam Jaka, ia di buat bingung harus mengucap apa, hal buruk kan? atau sebaliknya?


Mikaela terpekik kaget saat mendapati Jaka ada di kamar ini, menatapnya begitu intens. "Mas Jaka!!" serunya, buru-buru ia meraih kembali handuk yang sempat ia lempar. "Mas kenapa bisa ada di sini?" tanyanya gugup sekaligus malu.


Jaka masih terbengong, ia masih menikamti pemandangan barusan. "Mulus.." satu kata keluar begitu saja dari mulutnya.


"Mas!" Mikaela semakin malu. Wajahnya sudah memerah. Seumur-umur baru kali ini ada pria yang melihat tubuhnya.


"Ya ampun mas!"


Jaka malah tertawa. "Lain kali jangan begitu, kamu harus tutup gorden dulu takut ada yang lihat. Untung saya yang liat bukan orang lain." istrinya ini ceroboh sekali, bisa saja orang lain melihat keadaan Mikaela yang tanpa pakaian melalui jendela kamar yang terbuka. Meskipun kamar ini berada di lantai dua, tetap saja harus berhati-hati.


"Iya mas!" Mikaela mengambil pakaian ganti lalu masuk ke kamar mandi, ia akan memakainya di sana saja.

__ADS_1


Jaka meleparkan punggungnya ke sandaran sofa, ia mengusap wajahnya kasar. "Astagfirullah!" benar-benar cobaan yang berat. Melihat tapi tidak bisa menyentuh apalagi merasakan sungguh membuatnya sakit kepala.


"Mas, kamu kenapa?" Mikaela sudah selesai berpakaian. Keluar dari kamar mandi ia masih melihat Jaka melamun.


"Kamu bikin saya sakit kepala." jawab Jaka jujur.


"Maksudnya?" Mikaela tak mengerti maksud dari ucapan Jaka. Perasaan ia tidak melakukan kesalahan apapun yang membuat Jaka marah.


Jaka menggeleng, "Bukan apa-apa."


"Mas hari ini jadi pulang kampung?" Mikaela mendekat ia memeluk Jaka, mencoba merayu lelaki itu. "Jangan dulu pulang deh, aku masih pengin di temenin." bujuknya. Mikeala tak tahu saja kalau Jaka memang sudah membatalkan kepulangannya lantaran tidak mau menyudahi kedekatan mereka yang sudah mulai ada kemajuan.


Jaka membalas pelukan itu, merengkuh pinggang ramping istrinya. "Mau di kasih apa emangnya kalau saya gak jadi pulang?"


Mikaela tersipu malu, kemudian wanita itu berjinjit untuk mengecup bibir Jaka. Hanya kecupan singkat. Jaka tidak rela, ia ingin lebih. Pria itu pun menunduk sambil mendekatkan wajah mereka. "Jangan memancing saya, kepala saya makin pusing." bisiknya tepat di bibir Mikaela.


Mikaela membuka mata, ia kira Jaka akan menciumnya. "Ish!" malu rasanya sudah berharap lebih.

__ADS_1


Jaka terkekeh, lalu mencubit gemas hidung Mikaela. Bukannya ia tak mau mencium, tetapi ia harus menahan agar bisa menyelamatkan diri. "Cari pahalanya nanti aja ya, mama udah nungguin kita."


__ADS_2