Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Terluka


__ADS_3

Suasana begitu sepi, Roy leluasa menarik Mikaela ke tempat yang lebi sepi. Dendam kesumat yang menyelimuti hati pria itu mempengaruhi akal sehatnya. Tidak dapat perawannya, mencicipi sekali seopertinya lebih baik dari pada tidak sama sekali.


"lepas bajingann!!" Mikaela terus meronta.


"Gak akan! lo gak bisa nyakitin gue begini.. lo udah bikin gue malu!" pernikahannya gagal saat undangan sudah menyebar, bahkan tamu undangan sudah hadir di acara. Mikaela kabur dari pelaminan. Itu sangat melukai harga dirinya sebagai laki-laki, terlebih nama keluarga besar tercoreng.


Harusanya Roy menyadari kesalahannya. Jika saja tidak mengkhianati Mikaela, perempuan itu pun tidak mungkin meninggalkan Roy.


"Tolong! tolong!!!" Mikaela berteriak sekencang kencangnya, berharap ada orang yang mendengarnya.


Jaka yang sudah lama mencari Mikaela yang tak kunjung ketemu, kembali ke basment. Samar-samar ia mendengar teriakan. Diikutilah asal suara itu. Dan betapa terkejutnya Jaka melihat istrinya sedang di tarik paksa. Tanpa pikir panjang Jaka segera berlari dan menolong Mikaela.


Bughhh! satu pukulan berhasil Jaka layangkan di wajah Roy. "Kurang ajar"


Bugghh.. Bughhh... dua, tiga kali pukulan berhasil membebaskan cekalan. Roy terjungkal. Ia tidak sempat melawan Jaka lantaran Mikaela pun ikut menghujani pukulan yang tidak bertenaga, tetapi mampu memecahkan konsentrasinya.

__ADS_1


"Sialan!" umpatnya. Baru saja ingin melawan.


Mikaela berteriak memanfaatkan kesempatan ketika melihat beberapa orang datang. "Tolong!!!"


"Awas kalian! gue bakal balik lagi!" Roy kabur, berlari dan bersembunyi.


"Kamu gak papa?" Jaka menanyakan keadaan Mikaela, meneliti kalau kalau ada yang terluka.


"Kamu kemana aja sih!! aku cariin gak ada! harusnya kamu nunggu gak jauh dari mobil!" Bukannya meminta maaf dan menyadari kecerobohannya, Mikaela malah menyalahkan Jaka.


"Udah lah, kita pulang sekarang."


***


Jaka duduk termenung di balkon kamar Mikaela. Pria itu tidak merokok, hanya sebuah minuman kaleng yang menemani kesendiriannya. Kejadian tadi dan sikap Mikaela akhir-akhir ini begitu melukai hatinya. Biasanya Jaka menerima apapun ocehan Mikaela yang menurutnya masih wajar. Tetapi sikap Mikaela hari ini sangat keterlaluan. Menganggapnya hanya sebagai sopir dan selalu menyalahkannya. Kebaikan Jaka selalu salah di mata Mikaela. Jaka baru menyadarinya jika ia memang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Apa semua orang gak pernah menginginkan keberadaan ku?"


Dari dalam kamar, Mikaela bisa melihat Jaka yang menyendiri. Ia merasa bersalah. "Apa aku sangat keterlaluan?"


Hati Mikaela tergerak untuk mendekati Jaka. Mungkin dengan cara mengatakan maaf akan sedikit melegakan haatinya.


"Mas?" Mikaela duduk di samping Jaka. Pria itu menoleh, lalu kembali lagi menatap ke depan. "Mas, aku minta maaf ya. Aku salah, maafin aku." ucapnya tulus.


Rasa senang sedikit menghampiri hati pria itu. Tiba-tiba saja Mikaela meminta maaf. "kamu gak salah, saya yang salah karena sudah lalai menjaga kamu."


"Oh yaudah, aku pikir kamu marah sama aku." rupanya Jaka menyendiri karena merenungi kesalahannya. Bukan memikirkannya yang sudah sangat keterlaluan. Syukurlah. "Lain kali kamu tunggunya di deket mobil aja, biar pas aku pulang tinggal nyamperin kamu. Gak perlu nyariin."


Kebahagiaan Jaka menguar begitu cepat. "Iya."


"Gitu dong!" Mikaela tersenyum lebar lalu merangkul lengan Jaka. "Besok temenin aku lagi ya, soalnya mama gak ngijinin aku pergi kalau gak sama kamu." pintanya begitu manja. Entah terbuat apa hati perempuan ini. Tidak peka sama sekali dengan hati Jaka yang terluka karena tingkahnya. Jaka hanya mengangguk saja.

__ADS_1


__ADS_2