
Kehidupan terus berjalan, Mikaela mulai terbiasa dengan lingkungan desa ini. Meskipun acap kali Mikaela ingin sekali kembali ke ibu kota. Tetapi ada Ajeng dan Jaka yang selalu menghiburnya sampai Mikaela melupakan keinginannya itu.
“Mbak, udah tahu belum? kalo si Putri mau nikah. Undangan udah di sebar, seminggu lagi mereka menikah.” Ajeng mulai bergosip. Kedua perempuan itu sedang duduk di teras rumah, menikmati semilirnya angis di sore hari.
“Maksud kamu si Puput mantannya mas Jaka?” tanyanya. “Baguslah kalo cepet nikah, biar gak galau mikirin suami orang terus.”
“Tapi kayaknya Putri terpaksa menerima lamaran mas Gilang. Dia masih cinta sama mas Jaka,” meneurut gosip yang beredar, Putri di paksa menerima lamaran dari Gilang. Merreka di jodohkan.
Mikaela tidak suka mendengarnya. “Yang penting mas Jaka udah move on! ada aku yang lebih cantik!” Mikaela yakin sekali kalau mas Jaka perlahan sudah mulai melupakan mantannya itu. Lebih memilih dirinya.
“Yang namanya cinta pertama pasti susah ngelupainnya. Mas Jaka bisa aja nutupin perasaannya dari mbak Mika. Biar mbak Mika gak cemburu.” ujar Ajeng.
“Ish.. kamu kok ngomong gitu sih!” sungut Mikaela kesal. “Kamu lebih pro sama si Puput itu ketimbang aku?”
“Ya abisnya mbak Mikaela galak banget sama mas Jaka, aku suka gak tega ngeliatnya.” Ajeng sering melihat Mikaela berbicara ketus pada Jaka, sering juga mengatai pekerjaan Jaka yang hanya seorang petani.
“Mas Jaka aja yang suka bikin aku kesel!” elaknya. Di mata Mikaela, Jaka selalu terlihat salah, apapun yang di lakukan Jaka terutama kebaikan tidak pernah terlihat.
“Jangan judes judes mbak, nanti mas Jaka kabur malah berabe!” seru Ajeng memperingati. Bukankah cinta bisa berasal dari rasa benci?
“Ish ngomong apa sih!” Mikaela pura-pura tidak mendengar.
“Yaudah mbak, aku pulang dulu besok main lagi, eh.. besok pagi jadi ikut kan ke pasar?”
__ADS_1
“Jadi dong, aku mau ikut kamu ke pasar, ada yang mau aku beli.”
“Oke, jangan bangun kesiangan ntar aku tinggal.”
“Iya bawel!”
Ajeng pulang ke rumah karena hari sudah mulai petang, sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Bertepatan Mikaela hendak menutup pintu, Jaka pulang dari sawah. Penampilan pria itu sangat lusuh, tanah berlumuran di pakaiannya, hal ini yang selalu membuat Mikaela kesal. Suaminya hanya seorang petani. Yah, meskipun mereka hanya menikah sandiwara. Tapi tetap saja Jaka tidak bisa di pamerkan kepada teman-temannya, terutama Dona dan Roy. Mikaela tidak bisa menunjukan kalau dirinya bisa mendaptakan pria yang melebihi Roy.
“Assalamualaikum..” Jaka mengucap salam sesampainya di rumah.
“Walaikumsalam.” balas Mikaela.
Jaka masuk lewat pintu belakang, ia akan membersihkan diri sebelum masuk ke rumah. Untuk sementara, Jaka tinggal di rumah eyang Sucipto sesuai permintaan ayah mertuanya. Sedangkan bibi Nenti tetap tinggal di rumahnya, wanita paruh baya itu enggan meninggalkan ruamh.
“Sini biar aku yang masak.” Mikaela hanya basa-basi, “Kalo cuma tumis menumis sih aku juga bisa.”
“Gak usah kamu duduk aja.” Jaka menolak, lebih baik ia lakukan sendiri. Terakhir dan pertama kalinya Mikaela memasak, dapur menjadi gelap gulita lantaran asap yang mengepul. Jaka kerepotan harus membersihkannya.
“Yaudah kalo kamu nolak, yang penting aku udah berbaik hati menawarkan diri.” ucap Mikaela, lalu duduk di kursi meja makan yang terbuat dari anyaman bambu. Melihat kegiatan Jaka dalam masak memasak. Meskipun lelaki, Jaka pandai memasak. Mikaela akui masakan Jaka sangat pas di lidahnya.
“Emmm aku denger, mantan kamu si Puput itu mau nikah. Kamu patah hati gak?” iseng, Mikaela bertanya perasaan Jaka melihat mantan kekasih yang katanya cinta pertamanya itu akan menikah dengan lelaki lain.
“Biasa aja.” balas Jaka.
__ADS_1
“Yakin?” Mikaela mulai memancing.
“Nanti kalo saya jawab jujur kamu pasti ngambek.”
“Dih pede banget kamu ya! mana ada aku cemburu!”
“Saya bilang ngambek, bukan cemburu.”
“Tinggal bilang aja sih, kalo kamu patah hati! ngaku aja kali, gak bakalan ngaruh sama aku!”
“Jujur sih, sedikit..” jawab Jaka. Tidak mudah menghilangkan rasa yang sudah cukup lama tertanam di hatinya.
“Maksud kamu sedikit patah hati? sedikit gak rela, gitu?” Ia pikir Jaka laki-laki soleh yang akan menyingkirkan nama wanita di hatinya setelah memiliki istri. Namun sama saja!
Jaka mengangguk, mengiyakan ucapan Mikaela.
“Dih, kamu tuh jadi lelaki gak pinter banget milih cewek! apa coba yang bagus dari mantan mu itu!” sungut Mikaela kesal. “Harusnya tuh kamu buka mata lebar-lebar, suka kok sama cewek kucel kaya dia! uwekkk.. pake patah hati segala! dih.. jijay!”
“Iya iya saya tahu kalau kamu yang paling cantik, gak ada yang ngalahin kamu.” ujar Jaka.
Mikaela mendadak bergidik, “Kamu lagi gombalin aku? gak bakal mempan ya!” serunya seraya pergi meninggalkan Jaka.
Jaka menghela, berurusan dengan Mikaela serba salah!
__ADS_1