Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Berebut


__ADS_3

Menyebalkan sekali mempunyai adik ipar yang tidak tahu malu. Tapi mau bagaimana lagi, suaminya sendiri pun mengijinkan wanita sundel ini ikut pulang ke kampung.


Sepanjang perjalanan kedua wanita itu selalu saja ribut. Hanya beberapa menit bisa diam, lalu kembali ribut. Hal kecil pun menjadi bahan adu mulut. Pusing sendiri Jaka me dengarnya. Sampai-sampai penumpang sebelah mengatakan 'makanya punya istri jangan banyak banyak ribut terus nantinya' sialan! mereka mengira kedua wanita itu adalah istrinya.


"kalian bisa diam gak sih!" seru Jaka.


"mas, Dona dulu yang mulai. Dia ambil botol minum aku!" kata Mikaela membela diri.


"ini minuman punya gue! Punya Lo itu udah abis!" sela Dona tak mau kalah.


Jaka mengusap wajahnya kasar. "nih, punya mas masih ada." Jaka memberikan botol mineral pada Mikaela. "jangan ribut lagi. Malu di liatin orang."


"iya mas." Mikaela menurut. Tetapi begitulah... Baru sepuluh menit mereka kembali bertengkar.


Jaka sampai geleng-geleng kepala, menasihati pun cuma mempan sesaat. Tidak mau kepalanya bertambah pening Jaka memilih tidur saja.


Tiba di stasiun, mereka menaiki mobil carteran. Jaka sudah menyiapkan sebelumnya.


"gue penasaran sama mantan mas Jaka. Pasti cakep, kok bisa ya mas Jaka malah nikah sama..." Dona melirik Mikaela. Jelas sekali sedang menabuh genderang perang!


"heh! Jangan asal bicara ya!" seru Mikaela tidak terima. "aku lebih cantik kemana-mana dari pada mantannya mas Jaka!" Mikaela menoleh pada sang suami, "iya kan mas?" ia meminta dukungan atas pengakuannya.


"hihihi... Mas Jaka diem aja tuh. Itu berarti si mantan susah terlupakan!" sela Dona.


Mikaela mendengus sambil memalingkan wajah. Tega sekali suaminya ini kalau masih mengenang sang mantan kekasih. Apa sih kurangnya? Sampai sampai susah melupakan si Puput itu!

__ADS_1


"mas, nanti aku mau kenalan sama mantan kamu itu ya mas." ucap Dona. Ia tak hentinya memancungkan amarah kakak ipar yang belum ia akui itu.


"buat apa?" sang mantan sudah terlupakan di hatinya dan tergantikan dengan wanita baru tetapi Jaka yang masih kecewa pada Mikaela enggan mengakui, bisa besar kepala nanti istrinya. "Dia sudah bersuami. Kami sudah menjalani kehidupan masing-masing."


"aku cuma..." mulut Dona bungkam tatkala Jaka berseru.


"hentikan Dona. Jangan membahas masalalu."


"iya mas." ucapnya patuh.


Perjalanan panjang telah mereka lalui. Akhirnya sampai juga di rumah bibi Nenti. Wanita paruh baya itu sampai terkejut dengan kepulangan keponakannya. Tidak memberi kabar tiba-tiba datang dengan membawa dua wanita sekaligus.


"Dia Dona, bik." Jaka langsung memperkenalkan Dona pada bibi Nenti yang terlihat penasaran dengan sosok Dona ini.


Dona si wanita liar itu mendadak kalem saat memperkenalkan diri pada bibi Nenti.


"cih!" Mikaela muak melihat Dona yang berpura-pura menjadi perempuan lemah lembut. "bibi gak kangen sama aku?" tak mau kalah, Mikaela menubruk bibi Nenti, memeluknya dengan erat.


"loh..ya kangen lah.." ia pun membalas pelukan itu.


Tegur sapa sudah berlalu. Sekarang mereka bingung membagi kamar. Di rumah ini kamar hanya ada dua. Satu milik sepasang suami istri dan satunya lagi milik bibi Nenti.


"aku mau kamar yang ini aja!" jelas Dona memilih kamar yang lumayan rapih untuk di tempati.


"enak aja! Itu kamar gue!" seru Mikaela.

__ADS_1


"mas?" Dona merengek. Selayaknya Mikaela dulu waktu pertama kali tinggal di kampung ini. Tidak betah dengan suasana rumah sederhana.


"gak! Gak bisa! aku gak mau ngalah sama dia!" buru-buru Mikaela menyela, takut Jaka menuruti keinginan Dona yang ingin menguasai kamarnya.


"maaf ya, rumah bibi gak sebagus rumah kalian di kota." suara bibi Nenti menghentikan perdebatan. Dona dan Mikaela jadi tak enak hati.


"Dona, kamu sudah tahu sendiri di kampung gak seenak yang kamu bayangin. Rumah gak sebagus seperti tempat tinggal kamu." kata Jaka.


"iya! Lagian ngapain ngotot pengin ikut! Nyesel kan?!" Jaka belum selesai bicara, mulut Mikaela terus menyerocos.


"sudah-sudah, jangan ribut. Kalian bisa tempati kamar itu bersama. Biar saya yang tidur di luar." Jaka mengalah.


"apa? Gak bisa! aku gak bisa tidur jauhan sama kamu, mas! Aku gak mau tidur sama dia!"


"dih, gue juga gak Sudi tidur sekasur sama Lo!"


"pokoknya aku gak mau tidur pisah sama kamu!" Mikaela tidak mau tidur berjauhan dengan bantal guling hidupnya. Wanita itu sudah terbiasa tidur dengan memeluk Jaka. Bahkan, Mikaela menantikan malam-malam panas yang sempat ia lakukan bersama Jaka. Tapi sayangnya Jaka tidak memintanya lagi.


"gini aja. Gimana kalau kalian tempati rumah eyang Mika saja? Bukannya bibi ngusir kalian, tapi rumah itu lebih nyaman." bibi Nenti sama sekali tidak masalah jika Jaka tinggal di rumah peninggalan eyang Mikaela. Asal kedua perempuan ini nyaman.


"tapi bi.." Jaka hendak menolak. Tetapi bibi Nenti menasihatinya.


"jangan egois, istri dan adik perempuan mu butuh kenyamanan. Kamu bisa kapan kapan nginep di sini. Nanti sesekali bibi main ke sana."


Jaka memandangi Mikaela dan Dona berganti sebelum mengambil keputusan. "baiklah..."

__ADS_1


__ADS_2