Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Bahagia (saling menerima)


__ADS_3

Sepulang dari pasar, Dona di buat melongo. Pintu dan jendela rumah tertutup rapat padahal matahari masih bertengger di atas sana.


"mbak Mika sama mas Jaka pergi kali ya, kok rumah sepi banget." ucap Ajeng si gadis polos tak tau apapun.


Dona berdecak, wanita itu lebih peka. Sendal keduanya tergeletak di halaman rumah, sudah pasti sang empunya ada di dalam rumah. "aku pulang ke rumah kamu aja deh.." ia tak mau menyaksikan kemesraan kakak ipar yang belum sepenuhnya ia anggap. Mereka pengantin baru yang belum berpengalaman banyak. Tentu sedang asik asiknya bermain di kamar untuk bereksperimen.


Barang belanjaan ia taruh di meja yang terdapat di teras sebelum ikut Ajeng pulang. Kemudian segera pergi.


Di dalam sana, Jaka dan Mikaela baru saja menyelesaikan kegiatannya. Mereka berpelukan di bawah selimut yang sama.


Mikaela senyum-senyum sendiri, ia masih mengingat betapa dekatnya dengan sang suami.


"kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Jaka.


Mikaela menggeleng lalu membenamkan wajahnya di dada sang suami. Malu rasanya mengakui kalau debaran jantungnya masih bertalu-talu.


Jaka mengulum senyum seolah tahu kalau sang istri ini tengah berbunga-bunga. Ia pun mengecup pucuk kepala Mikaela sambil membisikkan kalimat, "saya mencintai mu.."


Mikaela menepuk dada Jaka. "sudah meniduri ku masih aja bicara kaku! Panggil yang mesra dong mas." pintanya.


Jaka terkekeh, "iya istriku.." kecupan ia daratkan berulang kali.


Mikaela semakin mengeratkan pelukannya. Tak mau melepas barang sejenak pun.


"sayang, kita bersih-bersih yuk?" samar-samar tadi Jaka mendengar suara adiknya yang berteriak. Mereka harus segera membersihkan diri. Hari masih siang, aktivitas harus berlanjut lagi. Tidak mungkin mengurung Mikaela sampai malam tiba, meskipun ingin.


"iya mas, padahal tadi aku udah mandi.." ucapnya dengan bibir mengerucut.


"mau mas mandiin?"


"ish! Gak ah malu aku."


Wajah Mikaela sangat menggemaskan jika sedang merajuk, Jaka tak bisa menahan senyumannya. "yaudah kalau gak mau. Gantian aja mandinya. Kamu dulu apa mas yang mandi duluan?"

__ADS_1


"aku dulu deh.. Lengket banget ini, bau asem!" ia segera berlari menuju kamar mandi.


"pakai selimutnya!" teriak Jaka. Pasalnya Mikaela ini pergi dengan tubuh yang polos. Untung semua pintu dan jendela ia tutup rapat-rapat.


"tanggung!" balas Mikaela dengan berteriak.


Jaka geleng-geleng kepala. Sebelumnya Mikaela mengatakan malu, tetapi ini.. Ia malah mengumbarnya, bikin ingin saja! Huh! "tenang Jaka, masih ada banyak waktu..."


***


"bisa gak sih kalian biasa aja, gak usah gelendotan terus!" sejak siang hingga malam hari, Mikaela terus menempel pada Jaka. Dona kesal melihatnya.


"dih, sirik aja Lo!" Mikaela menjulurkan lidah, meledek Dona. "namanya juga pengantin baru, ya maklum lah pengin nempel terus."


"mas, besok aku pulang deh. Aku gak betah tinggal di sini." Dona berpamitan. Ia pikir tinggal di kampung akan mengurangi beban pikirannya yang terasa berat. Tetapi malah semakin parah melihat musuhnya berakhir bahagia. Dona iri melihat kebahagiaan Mikaela yang bisa mendapatkan pria sebaik kakaknya.


"kamu yakin? Katanya mau tinggal sebulan di sini." ucap Jaka.


"makanya hindari rasa iri dan dengki, hati jadi tenang." sembur Mikaela.


"baiklah, nanti mas antar ke stasiun." Jaka mengabaikan ucapan istrinya. Ada benarnya juga yang dikatakan Mikaela. Dona harus mulai memperbaiki diri agar hidupnya terasa tenang dan bahagia. Tidak lupa Jaka menasihati Dona agar bisa menjaga diri dari perilaku yang buruk. Menjaga pergaulannya, untuk menghindari kehidupan bebas.


Lagipula Dona memang harus segera kembali mengingat ialah satu-satunya pewaris utama. Jaka sudah memutuskan untuk tidak mengambil alih perusahaan. Ia hanya akan membantu saja.


"awas Lo kalau sia-siain Abang gue lagi! Gue gak segan-segan misahin Lo!" Dona memberi peringatan pada Mikaela agar tidak menyakiti Jaka.


"tenang aja, gak usah Lo suruh juga gue udah sadar. Gak bakal ngilangin kesalahan yang kedua!" kata Mikaela.


Mikaela sudah lama mengumumkan pernikahannya dengan Jaka di media sosialnya. Meskipun tidak langsung, tetapi hal itu sudah menunjukkan jika Mikaela sudah menerima Jaka apa adanya. Mikaela memperkenalkan Jaka sebagai seorang laki-laki biasa, bukan putra dari Sultan Kalingga.


***


Rumah terasa sepi namun mengasikan bagi Jaka dan Mikaela. Sejak Dona kembali ke kota, dua insan itu terus saling berdekatan. Memadu kasih tanpa kenal waktu, lelah, bahkan tempat. Dimana mereka ingin, saat itu juga mereka akan melakukannya.

__ADS_1


"mas, tadi aku ketemu sama si Puput loh..." Mikaela bercerita, saat pergi ke pasar dengan Ajeng. Ia tidak sengaja bertemu dengan mantan kekasih suaminya. "dia masih jutekin aku, padahal udah nikah juga."


"jangan cerita perempuan lain.." masalalu baiknya di lupakan, tidak perlu di bahas lagi.


"abisnya aku kesel!"


Jaka mengelus pipi sang istri lalu mengecupnya. Makin hari, Jaka semakin romantis saja. Hal-hal seperti peluk dan cium sudah menjadi kebiasaan yang tidak terlewatkan. "jangan cemberut lagi, kita jajan yuk di alun-alun.."


"oke! Aku mandi dulu deh.."


"mandi bareng yuk?"


Mikaela tersipu malu, "boleh, tapi gak ngapa ngapain ya, aku capek."


"iya Sayang, mas juga capek."


Keduanya berjalan beriringan masuk ke kamar mandi.


"mas, boleh gak sih kita beli mobil. Aku kan capek kalo jalan terus. Panas juga kalo naik angkot atau motor... Nanti kulit ku kebakar loh.. Mas kan yang rugi.." Mikaela mulai merayu suaminya agar membelikan kendaraan yang ia inginkan.


Jaka mengulum senyum. Istrinya ini bisa saja merayunya. Wanita tetaplah makhluk yang menginginkan kemewahan. Meskipun katanya Mikaela menyanggupi hidup sederhana asal bisa bersamanya. Nyatanya tak semuanya benar. Beberapa hari yang lalu istrinya ini sudah meminta perawatan di klinik kecantikan yang ada di kabupaten. Belum baju, tas dan lainnya. Yah meskipun bukan barang branded. Tetapi Jaka selaku suami yang sudah kecanduan dengan jatah malamnya dengan senang hati memberikan.


"boleh ya?" pintanya.


Jaka mengangguk sembari mengelus kepala sang istri. "nanti mas beliin. Doain mas ya biar rejekinya lancar terus."


Tentu saja Mikaela senang, ia bisa membalas si Putri, memamerkan mobil barunya. Memangnya dia saja yang bisa punya mobil! Huh. Sepertinya Mikaela sudah terkontaminasi dengan ibu ibu di desa ini yang selalu iri dengan kesuksesan saingannya.


"tapi mas minta sekali lagi ya?"


Mikaela mengangguk malu-malu, "iya mas.."


-TAMAT-

__ADS_1


__ADS_2