Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
First Kiss


__ADS_3

"Mas, kamu beneran kan gak marah sama aku?" di lihat-lihat Jaka ini masih saja diam. "Katanya tadi gak marah, kok masih cemberut." Mikaela berbicara sambil berbaring di kasur, melihat Jaka yang berada di sofa. Pria itu bersiap tidur.


"Saya gak marah." balasnya.


"Ck, tapi muka kamu jutek sama aku."


"Muka saya memang dari dulu kayak gini." Jaka membalikan badan, memunggungi Mikaela.


Mikaela mendengus karena Jaka mengabaikannya. "Mas.. kamu belum tidur kan?" Jaka tetap diam, pura-pura sudah tertidur. "Aduhhh, mas!! perut aku sakit!!" Mikaela tiba-tiba berteriak sambil memegangi perutnya.


Jaka berbalik dan segera bangkit. "Kamu kenapa?" tanyanya panik. Pria itu langsung mendekati Mikaela di kasur. "Apanya yang sakit?" begitu perhatian pria itu. Berteriak sedikit sudah membuatnya panik.


Mikaela menyengir, "Hehehe.. aku gak papa." Ia hanya bercanda, ingin mendapat perhatian dari Jaka. "Abisnya kamu diemin aku."


Jaka menghela, mengusap wajahnya kasar. Ia memang tidak bisa mengabaikan Mikaela meskipun suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. "Ngagetin! lain kali jangan begitu." Jaka hendak kembali ke sofa tetapi Mikaela mencegahnya.


"Maafin aku, jangan marah lagi ya?" pintanya dengan wajah yang memelas.

__ADS_1


"Saya gak marah sama kamu. Cuma capek ingin istirahat." tetap! Jaka tidak mau mengakui kekesalannya pada Mikaela.


Mikaela lantas bangun. "Yaudah, aku pijitin sini.." ia sudah mendudukan Jaka di kasur, bersiap memijat bahu laki-laki itu.


"Eh?" tentu saja Jaka terkejut, pasalnya Mikaela tidak pernah seperti ini.


"Sebagai tanda maaf ku, aku pijitin kamu biar capeknya ilang." ia mulai memijat kedua bahu Jaka.


Bukannya menikmati, Jaka malah merasa geli dan salah tingkah. Baru kali ini ia berdekatan dengan Mikaela. Jantungnya berdebar-debar saat Mikaela mendekatkan wajahnya lalu bertanya, "Enak gak pijitan aku?" Mikaela ini tidak menyadari jika wajah mereka saling dekat dan hal ini tidak bagus untuk detak jantung Jaka yang terus bertalu-talu, sedikit saja ia bergerak -menoleh, bibir mereka akan bertemu.


Jaka mengangguk pelan, kemudian memalingkan wajah ke arah lain.


Jaka tersipu malu. Siapa sih yang tidak senang di puji ganteng? terlebih yang mengatakan istri sendiri. Apa istrinya ini mulai menyukainya? Hati Jaka kembali berbunga-bunga.


"Pantesan juga si puput itu gagal move on dari kamu." Mikaela kembali membahas mantan. "Kamu dulu cinta benget ya sama si puput? gimana ceritanya kamu bisa pacaran sama dia?" Mikaela penasaran. "Terus gaya pacaran kalian kayak apa? kekinian atau..."


Jaka menyambar, "Kamu sendiri dulu gimana sama mantan kamu?" Jaka balik bertanya. Menjawab pertanyaan Mikaela mengenai mantan, pasti berujung ngambek.

__ADS_1


"ish! kamu kenapa tanya gitu?" Mikaela menepuk bahu Jaka sebagai ungkapan protes.


Sendirinya saja tidak mau ditanya perihal mantan, tapi kalau bertanya harus di jawab. Huh!


"Kamu dulu kiss bibir si puput ya? iuhhhh... geli banget! bibir item begitu!" ia mencela kembali. Mikaela akui, bibir Jaka ini berwarna segar di bandingkan si mantan. Mungkin karena Jaka bukan perokok.


"Kamu sendiri bagaimana? jangan mencela orang lain!"


Mikaela mengerucutkan bibirnya. Ia sadar harus segera membungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan kalimat yang tidak mengenakkan. Baru minta maaf jangan berbuat ulah lagi.


"Awas ya, jangan kiss aku. Aku gak mau bekas si puput!" namun mulutnya terasa gatal jika tidak bersuara, sementara hatinya masih menggerutu. "Udah ah, aku males!" ia menyudahi pijat memijatnya.


Baru saja ingin menjauh, Jaka tiba-tiba menarik tangan Mikaela untuk mendekat. Mikaela mendelik, wajah Jaka berada di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Mikaela terkesiap saat Jaka tiba-tiba menempelkan bibirnya.


"Saya gak pernah mencium siapa pun, kecuali barusan."


Mikaela membatu, berkali-kali ia mengerjapkan matanya. Jaka masih sedekat ini. "ini bukan ciuman." kata Mikaela. Bibir mereka hanya saling menempel, belum bisa di katakan sebuah ciuman.

__ADS_1


Merasa Mikaela tidak menolak tindakannya, Jaka kembali menautkan bibirnya. Kali ini ia melummatnya lembut. Terlepas saat napas keduanya tersengal. Mikaela tersipu malu, sedangkan Jaka masih setia memandangi wajah Mikaela yang sudah memerah. Pria itu juga tidak menduga bisa menyentuh bibir yang selama ini menjadi pusat perhatiannya selama Mikaela mengoceh.


Keduanya menjadi canggung. Baik Jaka dan Mikaela kembali ke posisi semula. Mikaela bersembunyi di balik selimut, sedangkan Jaka sudah berbaring di sofa -memunggungi Mikaela.


__ADS_2