Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Nikah! Nikah! Nikah!


__ADS_3

Jaka terkejut, saat keluar ia melihat bibi Nenti ada di rumah ini. Cepat sekali gosip menyebar.


"Pak, Bu..." Jaka bermaksud untuk menyampaikan kebenaran pada orang tua Mikaela. Tetapi lagi-lagi Mikaela dan Ajeng menghalangi.


"Mas!" Mikaela mencekal lengan Jaka, menahan pria itu agar tidak bersuara.


"Kalian sudah selesai?" ucap Danu yang kini sudah menegakkan posisi duduknya. Danu dan Sekar malu sekali, masalah keluarga sampai menjadi bahan konsumsi publik warga sekitar. Terlebih aib putrinya kini sudah menyebar.


Danu meminta penjelasan pada Jaka dan Mikaela, terlihat jelas dari sorot mata pria paruh baya itu.


"Jelaskan pada kami semua nak, apa maksud ucapan kamu tadi?" Sekar menyela, ia menunggu anaknya bersuara. Bukan hanya Danu dan Sekar, warga yang masih berkumpul di teras rumah pun tak sabar mendengar penjelasan lebih dari dua insan itu.


"Jaka, bibi udah denger semuanya. Apa bener kamu..?" ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Lidahnya kelu mengatakan hal tabu. Pasalnya ia ragu kalau keponakannya ini melakukan hal sembrono. Tetapi para warga yang menjemputnya di rumah mengatakan hal buruk mengenai Jaka.


"Bi jangan percaya omongan orang. Aku gak nglakuin apapun!" Jaka menjelaskan, tetapi ucapannya membuat Danu marah.


"Jadi kamu menuduh putri ku berbohong?hah! kamu gak mau mengakui perbuatan mu? mau lari dari tanggung jawab hah!" sentak Danu sambil berkacak pinggang.


Bibi Nenti ketakutan mendengar suara Danu yang menggelegar. "Pak maafkan ponakan saya. Jaka pasti bertanggung jawab atas kesalahannya." bibi Nenti membungkuk seraya meminta maaf.


"Bi, aku gak salah!" tentu Jaka menolak untuk dipersalahkan. Ini semua hanya sandiwara Mikaela.

__ADS_1


Bibi Nenti menatap tajam Jaka. "Kamu diem aja!"


Jaka pasrah, situasi semakin menyudutkannya saat para warga ikut-ikutan menuntutnya untuk bertanggung jawab. Yang menyebalkan, Mikaela hanya diam saja, tidak mengatakan apapun. Seolah gadis itu senang dengan keadaan ini.


Seberapa keras Jaka mengelak, ia tetap kalah. Satu lawan puluhan orang tentu tidak akan menang.


"Saya sebenarnya gak rela menikahkan Mika dengan mu. Tapi sudah terlanjur, kamu harus bertanggungjawab." sedikit tidak ikhlas jika putrinya dinikahi pria miskin seperti Jaka. Tapi mau bagaimana lagi, aib putrinya sudah menyebar kemana-mana. Danu menyingkirkan egonya sejenak demi nama baik putrinya.


Jaka duduk pasrah saat keputusan mengharuskannya menikahi Mikaela dua hari lagi. Mungkin ini sudah takdirnya menerima pernikahan tidak terduga. Harusnya ia menikahi Putri, sang kekasih. Kini ia malah harus menikahi gadis yang baru saja di kenal.


***


Pagi-paginya Jaka pergi ke pasar, membeli cincin untuk pelengkap pernikahan dadakan ini. Ia pergi bersama Mikaela.


"Saya kan cuma petani, gak bisa beli barang bagus bagus. Masih ada waktu kalau kamu mau batalin pernikahan ini." jawab Jaka santai.


"Ishh!! pernikahan kita gak bakal batal ya!" pernikahan pertamanya gagal menjelang hari H. Mikaela tidak mau gagal untuk kedua kalinya. Meskipun pernikahan ini tidak sungguhan.


Mikaela semakin yakin untuk menjalani pernikahan ini. Pasalnya semalam Roy menteror dirinya dengan banyak ancaman. Mau melakukan apa saja untuk membalas Mikaela. Jika ia menikah sungguhan dengan Jaka, Mikaela bisa bersembunyi lebih lama di kampung ini. Tanpa harus mendengar ocehan orang tuanya yang meminta untuk segera pulang.


Tiba di toko perhiasan, Mikaela memilih cincin yang ia sukai.

__ADS_1


"Kamu punya duit?" ia ragu untuk memilih, takutnya Jaka tidak memiliki uang untuk membelinya.


"Pilih aja yang kamu mau." kata Jaka.


"Boleh yang mana aja nih??"


"Hemm..."


"Oke!" Mikaela sibuk memilih cincin yang pas buatnya. "Aku pilih ini.. ini juga kayaknya cocok buat kamu." ia memilih cincin couple.


Jaka menurut saja, ia lekas membayar semuanya.


"Mas, aku laper sama aus. Kita makan dulu yuk?" lihatlah, gadis ini bersikap biasa, seolah semuanya baik-baik saja. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun pada Jaka.


"Mika, masih bisa buat batalin semaunya. Pernikahan bukan buat main-main." kata Jaka.


"Ish, mas Jaka bahas itu mulu! kita udah beli cincin loh mas, masa mau di batalin!! oh.. mas masih mau nungguin si Puput itu? gagal move on??"


"Bukan itu juga..." balasnya.


"Udah si mas, tinggal nikah aja. Gak usah banyak mikir!"

__ADS_1


Gampang sekali mengatakannya. Dikira menjalani pernikahan itu mudah apa!


"Nikah! nikah! nikah! pokoknya kita nikah! titik!"


__ADS_2