Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Di tuduh (pelet?)


__ADS_3

Sayup-sayup Jaka mendengar suara teriakan seseorang. Jaka lekas melebarkan langkahnya, sumber suara itu dari tempat tinggalnya.


"Bilangin ponakan kamu supaya lupain anak saya! saya gak sudi punya menantu seperti Jaka!" rupanya Narto datang ke rumah Jaka. Pria tua itu memperingati bibi Nenti, untuk menjauhkan Jaka dari Putri.


"Anak saya lupa diri! sampai gak mau makan dan minum. Gara-gara mikirin Jaka terus. Saya curiga kalau Jaka pakai pelet!" tuduhnya.


Sejak hubungannya di tentang, Putri mengurung diri. Tidak mau keluar kamar untuk makan ataupun beraktivitas. Terlebih Jaka tidak pernah membalas panggilan dan pesan dari Putri, itu semakin membuat gadis itu patah hati.


"Jaka gak mungkin ngelakuin hal musyrik kayak gitu." bibi Nenti yang tahu jelas siapa itu keponakannya tentu tidak terima atas tuduhan Narto. Jaka pria yang taat beribadah, jelas tidak mungkin menggunakan ilmu hitam untuk memikat seseorang.


"Pokoknya saya gak mau tahu! kalau sampai terjadi apa apa sama Putri, kalian akan dapat akibatnya!"


Bibi Nenti tertunduk dan menangis. Suara lantang pak Narto begitu menakutkan. Para tetangga tidak ada yang membantunya, mereka hanya sibuk menonton kekacauan ini.


"Ada apa ini?" Jaka menerobos masuk. Ada beberapa ibu-ibu yang berdiri menghalangi pintu.


Narto berkacak pinggang. Ia menatap bengis Jaka yang baru saja masuk. "Ini dia biang keroknya!" serunya.


"Ada apa bapak marah marah di rumah saya?" sekuat tenaga Jaka menahan amarahnya. Bibi Nenti sudah berlinang air mata. Pasti karena ulah lelaki ini.


"Jangan pura pura gak tahu kamu! anak saya jadi kacau karena pelet kamu! lepaskan Putri! sampai kapanpun saya gak akan pernah menerima mu sebagai menantu saya!"


Jaka tersentak, keji sekali orang tua ini, menuduhnya memakai pelet. Jaka menggeleng, "Bapak jangan asal nuduh, saya sama sekali tidak melakukan apapun pada Putri. Lebih baik sekarang bapak keluar dari rumah ini." Jaka tidak mau masalah semakin melebar. Ini harus di hentikan demi kebaikan semuanya. "Saya berjanji tidak akan menggangu putri bapak lagi. Hubungan kami sudah berakhir."


"Baguslah!" Narto pun pergi, ia tidak perduli kedatangannya sudah membuat onar tetangga sekitar.

__ADS_1


Ajeng dan Mikaela menyaksikan semua itu. Tak habis pikir, masih ada orang kolot seperti itu. Menuduh seseorang melakukan ilmu pemikat.


"Bi, bibi..." Jaka mendekati bibi Nenti, menenangkan wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


"Gak papa Jak, bibi cuma kaget aja tiba-tiba Narto datang mengamuk." ucapnya sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Jak, bibi minta kamu lupain Putri. Masih banyak gadis di luar sana yang lebih baik darinya."


"Iya bi." jawab Jaka patuh.


"Ajeng??" bibi Nenti baru menyadari kehadiran Ajeng.


"Iya bi. Aku kesini di suruh ibu buat anterin sayuran hasil panen kemarin." Ajeng meletakkan tas dari anyaman berisi sayuran di meja.


"Terimakasih ya, bilangin ibu kamu lain kali gak perlu repot-repot nganterin. Sayangkan, jualannya jadi berkurang." katanya.


"Hehe.. gak kok bi."


"Ini mbak Mika bi, cucunya eyang Sucipto. Anaknya budhe Sekar." Ajeng memperkenalkan Mikaela. Gadis kota itu pun tersenyum manis pada bibi Nenti.


"Jak, bikinin minum buat cah ayu."


"Gak usah repot-repot bi, kita mau langsung pulang aja."


"Loh jangan dulu, kamu udah jarang main. Sini dulu temenin bibi." bibi Nenti menahan Ajeng dan Mikaela agar tidak cepat pulang. "Nih, bibi tadi lagi bikin peyek kacang sama ebi. Sini, cicipin dulu." seketika kesedihan bibi Nenti terlupakan.


"Iya bi." Ajeng mana mau menolak, peyek buatan bibi Nenti ini terkenal enak dan renyah. Lumayan bisa icip-icip sedikit, tak perlu membeli.

__ADS_1


Kedua gadis itu di ajak ke dapur sederhana di rumah itu. Dapur yang masih menggunakan tungku dan kayu bakar untuk memasak.


"Jeng, aku kebelet pipis." bisik Mikaela.


"Yaudah pipis aja, kamar mandinya di belakang."


"Temenin." kata Mikaela.


"Bi, mbak Mika mau numpang pipis." Ajeng menyampaikannya pada pemilik rumah.


"Kamar mandinya ada di belakang, tapi maaf gak sebagus punya mbak Mika." katanya. Penampilan Mikaela tidak seperti gadis kampung pada umumnya. Kulitnya putih mulus, tubuhnya wangi, pakainya pun terlihat modern seperti para gadis yang ia lihat ada di televisi.


"Panggil Mika aja bi." sela Mika.


"Iya, Mika." bibi Nenti tersenyum. Lalu wanita itu memanggil keponakannya. "Jaka! Jak! pompain air buat Mika." teriaknya.


"Iya bi!" Jaka menyaut.


Mika bersama Jaka pergi ke kamar mandi yang terpisah dari rumah, berada di belakang.


Mikaela celingukan, kamar mandinya hanya setengah yang tertutup, tidak ada atapnya, hanya sebatas dada orang dewasa. "Jangan ngintip!" seru Mika.


"Saya gak bakal ngintip!" ucap Jaka sambil mengayuh tangan. Pasalnya pompa airnya ini manual. Butuh tenaga untuk mengoperasikannya.


"Jangan tinggalin aku!" teriak Mikaela ketika melihat Jaka hendak pergi. Gadis itu takut, di belakangnya banyak pohon bambu. "Tapi jangan ngintip juga! tutup mata kamu!"

__ADS_1


"Iya! -- Cerewet!"


__ADS_2