Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Mereka datang


__ADS_3

Sudah cukup lama Ajeng dan Mikaela berada di rumah Jaka. Mereka ingin pulang, tetapi cuaca tidak mendukung. Diluar turun hujan, udara semakin dingin. Hujan reda ketika adzan Maghrib berkumandang.


Mikaela melirik Jaka yang berpakaian rapih, lengkap dengan sarung, lalu kopiah di kepalanya.


Ajeng menyikut lengan Mikaela yang duduk di sampingnya. "Liat, mas Jaka sholatnya rajin." bisiknya.


Mikaela mendesis, "Jeng pulang yuk, ini udah malem." hujan sudah reda, Mikaela ingin cepat-cepat pulang.


Ajeng mengangguk, lalu ia berpamitan pada bibi Nenti. "Bi, kita mau pulang."


"Eh, tunggu dulu. Biar Jaka anterin kalian, diluar udah gelap..." balas bibi Nenti. Wanita itu mana mungkin membiarkan dua gadis berkeliaran menjelang malam. "Tunggu Jaka selesai sholat dulu ya."


"Iya bi." Ajeng menurut saja. Meskipun belum terlalu malam, tetapi suasana di desa sudah sepi, seram pula. Jadi Ajeng mau menunggu mas Jaka. Lalu di antar pulang. Mikaela tidak bisa protes lagi, ia menurut saja.


Tidak butuh waktu lama, Jaka sudah selesai. Pria itu pun mengantar Ajeng dan Mikaela pulang.


"Jalannya jangan cepet-cepet dong!" Mikaela cukup kesulitan berjalan di tanah yang becek. Ia memegang erat lengan Ajeng agar tidak terjatuh.

__ADS_1


"Iya mbak hati-hati." Ajeng memelankan langkahnya. Tapi tidak dengan Jaka, pria itu sudah berjalan lima langkah di depan mereka.


"Mas Jaka, jangan lewat situ! kita lewat mushola aja ya, yang gak serem." seru Ajeng. Ia tidak mau mengambil jalan pulang lewat jalan yang samping kanan dan kiri masih kebun.


"Iya." Jaka mengiyakan, meski dalam wajahnya terasa enggan lewat jalan yang Ajeng pilih. Pasalnya Jaka akan melewati rumah Putri.


"Maaf ya mas." ucap Ajeng.


"Iya gak papa."


"Kamu kenapa minta maaf?" tanya Mikaela.


"Oh.." ia pikir Ajeng membuat kesalahan apa. Rupanya hanya itu.


"Emang kamu cinta banget apa sama tuh cewek?" tanya Mikaela.


"Sst... kamu jangan ngomong gitu. Nanti mas Jaka tambah galau!" Ajeng memperingati Mikaela agar tidak banyak bicara mengenai Jaka dan mantannya.

__ADS_1


"Iya deh, aku diem."


Tiba di rumah Mikaela.


Halaman rumah eyang Sucipto terdapat dua mobil yang terparkir. Jelas mobil yang tidak asing bagi Mikaela.


"Duh, cepet banget ketahuannya." gumam Mikaela. Niatnya ingin lebih lama bersembunyi, tetapi kedua orangtuanya sudah berhasil menemukannya. Dan sekarang mereka menyusul.


"Banyak tamu di rumah kamu mbak. Jangan jangan ibu kamu." ujar Ajeng.


"Iya, itu emang mama dan papa ku." Mikaela mengajak Ajeng dan Jaka ikut masuk ke dalam rumah. Ia akan menjadikan kedua orang itu menjadi tameng agar kedua orangtuanya tidak marah berlebihan padanya, karena sungkan ada orang lain di sekitar mereka.


"Mika!!" Sekar langsung beranjak, lalu memeluk putrinya dengan erat. "Apa kabar sayang. kamu baik-baik aja kan?" Sekar melepas pelukan, lalu meneliti sekujur tubuh putrinya takut ada yang terluka.


"Mika baik mah." balas Mika. Ia pun merindukan ibunya ini.


"Mika.." terdengar suara seseorang yang tidak ingin Mika dengar. Rupanya Roy ikut bersama orang tuanya.

__ADS_1


"Ngapain kamu dateng ke sini?" sinis Mikaela. "Mah, pah, kenapa sih kalian ngajak cowok pengkhianat ini! Mika gak suka liat dia lagi mah." serunya.


Awalnya Sekar dan suaminya tidak mau mengajak Roy untuk ikut ke desa ini. Tetapi Roy yang tiba-tiba muncul ke rumahnya, memaksa ingin ikut. Katanya ingin menjemput Mikaela. Dilarang pun percuma, Roy kekeh ingin ikut.


__ADS_2