
Mikaela gugup bukan main. Jaka terlihat berbeda dari biasanya. Pria pendim itu menatapnya lekat, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Mas, aku kayanya lupa sesuatu deh.." Mikaela sengaja mencari kesempatan untuk melarikan diri. "Itu.. kayanya tadi tivinya belum dimatiin." ucapnya gugup.
"Tadi udah di matiin, saya inget." Jaka mengulum senyum, Mikaela salah tingkah.
"Oh ya, gelas bekas kopi belum di taruh dapur. Besok mama pasti marah. Aku beresin dulu ya." Mikaela beranjak.
Jaka dengan segera mencegah lengan istrinya. "Sudah aku taruh.."
Mikaela memejamkan mata, bingung harus beralasan apalagi agar bisa keluar dari kamar ini dan terbebas dari Jaka.
"Kamu gugup?" tanyanya. Bukan hanya Mikaela saja yang gugup, sebenarnya Jaka pun merasa gugup tapi berusaha bersikap biasa dan santai. "Kalo belum siap, saya masih bisa menunggu kamu sampai siap." Jaka tak akan memaksa.
Mikaela menghela, ia bisa melihat raut wajah Jaka yang kecewa. "Mas, aku malu dan gugup." ia duduk di samping Jaka, mengakui perasaannya saat ini.
Jaka mengangguk mengerti. "Ini juga pertama kalinya bagi saya."
Mikaela mencibir. "Gak percaya aku! kamu kan udah lama pacaran sama si Puput hampir dua tahun lebih. Masa gak pernah ngapa-ngapain." ia tidak yakin kalau ada seorang pria yang masih murni. Buktinya Jaka dan si mantan berpacaran lama. Kalau tidak bermesraan, lalu selama mereka berpacaran ngapain aja? ciuman pun Jaka mengakui tidak pernah.
Mikaela akui, ia pernah beberapa kali berciuman dengan Roy, si mantan sialannya itu. Untung saja ia tidak sampai memberikan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Mikaela beruntung menolak Roy kala itu.
__ADS_1
"Jangan bahas perempuan lain. Percaya atau tidak, saya berkata jujur." ujar Jaka.
Suasana kembali hening. Jaka melirik Mikaela yang belum memberi jawaban pasti, memgijinkan atau tidak.
"Ehem.." Jaka berdeham. "Kamu udah ngantuk?"
Mikaela menggeleng, lalu sedetik kemudian menggangguk cepat. "Kamu juga udah ngantuk, mas?"
"Saya belum ngantuk, tapi kalau kamu udah ngantuk tidur duluan aja." hatinya menyesal mengatakan itu. Ingin sekali memaksa agar Mikaela mau memberikan haknya malam ini. Tapi Jaka tidak setega itu.
Mikaela diam, jemarinya saling meremmas karena gugup. "Kamu ngijinin aku tidur duluan?"
Jaka menoleh, menatap istrinya dengan penuh damba. "Sebenarnya nggak, tapi saya gak mau memaksa."
Akhirnya Mikaela memberanikan diri mengangguk pelan-pelan.
"Aww!!" Mikaela terkejut, Jaka tiba-tiba menyerangnya. Dasar!
Sedari tadi Jaka menahan diri. Usai mendapat sinyal diijinkan, Jaka tak mau menunggu lagi. Pria cupu rupanya bisa berubah menjadi suhu secepat kilat melalui insting kelelakiannya.
Tatapan penuh damba membuat Mikaela meremang. Terlebih tangan Jaka sudah mulai berani menurunkan gaun tidurnya.
__ADS_1
Mikaela tersipu malu dan pasrah dengan perlakuan lembut suaminya. Ia begitu menikmati sentuhan yang memabukkan.
Begitu juga dengan Jaka yang mengagumi keindahan istrinya ini. Sungguh beruntung dirinya, seperti mimpi saja! bisa menguasai tubuh indah yang tergolek dibawah kungkungannya saat ini.
"Mas!" Mikaela memalingkan wajah saat Jaka dengan tidak tahu malu melepas pakaiannya. Ia akui suaminya ini memiliki tubuh proporsional, tubuh idaman.
Jaka mendekat, hingga keduanya tak berjarak. "Saya cinta kamu..." Jaka membisikan kalimat indah itu tepat di telinga Mikaela sebelum melanjutkan kegiatannya.
Mikaela meringis kesakitan, ia memeluk erat sang suami yang mulai bergerak menguasai dirinya. Pelan namun pasti, sampai keduanya bisa merasakan indahnya kenikmatan dunia.
Berulang kali Jaka mengecupi wajah istrinya yang tengah tertidur karena kelelahan. Jaka senyum senyum sendiri mengingat kegiatan mereka yang belum lama berlangsung.
Dering ponel terdengar, Jaka menoleh mendapati ponsel milik istrinya berdering.
Jaka mengerutkan keningnya. "Tami?" jam menujukan pukul dua belas malam, mungkin ada hal penting yang ingin di sampaikan dari si penelpon mengingat malam-malam begini masih saja melakukan panggilan.
"Halo, Mika! akhirnya kamu terima telpon ku juga. Dari pagi kamu gak balas pesan ku." ucap orang disebrang sana.
Tapi kenapa suara yang terdengar itu laki-laki? bukan perempuan? bukankah Tami itu nama seorang wanita?
"Halo? Mika? kamu masih di sana kan dengerin aku. Besok kita ketemuan, di cafe biasa ya,"
__ADS_1
Jaka menutup panggilan. Banyak pertanyaan muncul di pikirannya. Kenapa Mikaela seperti menyembunyikan sesuatu?