
“kenapa sih tetangga kamu resek banget!” Mikaela menggerutu sepanjang perjalanan. Ia kesal lantaran setiap berpapasan dengan orang, terutama teman-teman Jaka selalu saja menyebut nama mantan kekasih suaminya. “Aku jadi penasaran sama mantan kamu itu! cantikan aku apa dia!” ia tidak mau kalah saing, harus dirinya yang lebi segalanya dari si Putri itu.
Jaka melirik tak suka."Jangan membandingkan orang hanya karena fisiknya." ucapnya.
Mikaela melotot tak terima, “Jadi maksud kamu aku kalah baik sama dia, gitu? kamu lebih bela mantan kamu itu, iya?!”
Harusnya Jaka diam saja, menanggapi pun serba salah. Terlebih makhluk bernama wanita itu selalu saja merasa benar. Salah sedikit tidak mau di nasehati. “Bukan begitu..” Jaka berkata sangat lirih. Ada rasa penyesalan karena sudah berbasa-basi mengajak Mikaela. Harusnya si tuan putri ini diam di rumah. Huh! merepotkan.
Mikaela melengos. “Baru sehari jadi suami udah berani main hati!”
Jaka menaikan sebelah alisnya, heran dengan wanita satu ini. Apa ia lupa kalau Mikaela menganggap pernikahan ini hanya sebuah sandiwara? pernikahan kontrak, yang nantinya akan berpisah setelah waktunya tiba. “Harusnya kamu gak perlu masukin hati omongan para warga. Dan gak usah nuduh saya suami yang suka main hati. Kecuali kamu mau jadi istri saya sungguhan, baru boleh marah-marah gak jelas!”
“Dih.. ge er banget sih! siapa yang mau jadi istri kamu beneran! ogah!” semburnya. Seenaknya saja Jaka memintanya menjadi istri sungguhan. Mikaela mempunyai tipe lelaki idaman yang berlevel tinggi, bukan pria seperti Jaka yang kerjaannya hanya di sawah dan empang!
“Ini kok gak nyampe-nyampe! masih jauh apa!” sudah sekitar lima belas menit Mikaela berjalan, tetapi tak kunjung sampai juga di sawah milik Jaka.
“Lumayan, tadi kan saya udah bilang.. sawahnya jauh.”
__ADS_1
“Oohhh ini pengantin barunya. Baguslah, anak saya terhindar dari pelet bujang kere ini.” bu Salama tiba-tiba muncul. Wanita itu membawa pisang satu tandan. Sepertinya bu Salama baru saja habis dari kebunnya.
Mikaela menatap tajam wanita paruh baya dengan kepala yang tertutup oleh kerudung, tetapi sayang hati dan mulutnya tidak mencerminkan muslimah yang baik. “Ibu ngomong sama siapa ya?”
Jaka menarik lengan Mikaela, tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk mengingat istrinya ini sangat bar-bar. “Jalannya cepertan.”
“Tunggu dulu..” Mikaela meyadari kalau di sekeliling tidak ada siapa pun, jelas wanita itu berbicara pada padanya atau Jaka.
Ibu Salama mencibir. “Lah saya ngomong sama situ kok gak nyadar!”
“Maksudanya apa ya?” Mikaela mencoba mencerna ucapan ibu ini yang sangat ketus.
Mikaela berkacak pinggang. “Eh jaga ya mulut ibu! jangan sembarangan kalo ngomong. Anak ibu aja yang gagal move on dari suami saya sampai gila karena di tinggal nikah! iya kan?” ucapnya berapi-api.
Jaka mencoba menarik lengan Mikaela untuk menjauh. Tetapi Mikaela kekeh, “Harusnya ibu periksain anak ibu ke rumah sakit jiwa kalau sampe detik ini masih nangisin suami saya!” jelas Mikaela tahu siapa ibu ini. Instingnya selalu akurat!
“Enak aja kamu ngatain anak saya gila!” bu Salama tidak terima.
__ADS_1
“Kalo bukan gila apa namanya? setress? itu sama aja! untung mas Jaka gak jadi nikahin anak ibu. Bisa stres lahir batin ngadepin keluarga macam kalian!”
“Heh! berani ya sama orang tua! kualat kamu!” bu Salama menarik rambut Mikaela saking kesalnya.
Jaka langsung sigap melindungi Mikaela. “Istighfar bu…”
Mikaela tidak tinggal diam, ia mendorong ibu Salama sampai tersungkur. “Rasaian! udah tua bukannya tobat malah cari perkara! nambahin dosa!”
“Kurang ajar kalian ya! saya laporin kalian ke polisi!” teriak bu Salama.
Untungnya ada orang yang lewat dan membantu meleraikan perkelahian ini. Jaka segera membawa pulang istrinya. Terpaksa ia tidak jadi ke sawah. Baru saja di perjalanan, sudah mendapat masalah.
“Mas, kenapa sih kamu diem aja di hina begitu!” Mikaela kesal sendiri melihat Jaka di hina tetapi diam saja. Harusnya pria itu melawan agar tidak terus terusan di pandang sebelah mata.
Jaka menhela, “Gak perlu repot repot ngeladenin, kalo udah capek juga berhenti sendiri.”
“Ya jangan gitu dong! bales lah, jangan diem aja.”
__ADS_1
“Kamu marah karena orang lain menghina saya, bukannya kamu sendiri suka menghina saya?” ucap Jaka.
Mikaela terkesiap, lalu melengos sambil berlalu pergi.