Mendadak Kawin Kontrak

Mendadak Kawin Kontrak
Cantikan aku!


__ADS_3

“Kamu kenapa diam?” sejak ucapan Jaka yang mengena hati, Mikaela tidak banyak bicara padanya. Harusnya Jaka yang marah pada Mikaela tetapi malah sebaliknya.


Mikaela hanya melirik tanpa membalasnya, rasanya malas sekali berbicara pada suaminya ini. Sudah ia bela sampai duel dengan ibu Salama, tapi Jaka malah menyakitinya. Ia tahu kalau ucapannya sering menyinggung Jaka tapi yang ia katakan adalah sebuah fakta! beda halnya dengan ibu Salama yang jelas jelas sudah menuduhnya. Pokoknya Mikaela tidak terima!


“Yaudah saya minta maaf kalo nyinggung kamu.” lebih baik ia minta maaf saja agar masalah cepat selesai. “Mama dan papa kamu nanti sore mau balik ke Jakarta, kamu gak mau nganter?” ia mengingatkan Mikaela mengenai keberangkatan kedua orang tuanya yang akan kembali ke kota sore ini. Jaka tidak enak hati kalau nanti Mikaela masih cemberut saat bertemu mertuanya. Baru saja menikah sudah bertengkar saja! Jaka malu akan hal itu.


“kamu minta maafnya gak ikhlas!”


“saya tulus minta maaf sama kamu. Beneran ikhlas..”


“Kalo gitu aku boleh kan ikut balik ke Jakarta. Aku di sini gak betah.”


“Kalo kamu mau balik ya silahkan. Tapi apa gak bikin mama dan papa mu curiga? apalagi mantan kamu itu? baru beberapa hari nikah udah pulang tanpa suami.” ujarnya.


“Yaudah kamu ikut aja, kita tinggal di Jakarta.” usulnya. Ada baiknya juga ia pulang membawa Jaka.


Jaka menggelang, nampak tidak setuju dengan usulan sang istri. “Sawah bentar lagi mau panen, empang juga gak bisa di tinggal. Kalo saya pergi ke Jakarta, kasihan bibi.. di tinggal sendirian.”


Mikaela memutar bola matanya malas, Jaka masih saja mementingkan sawah dan empangnya. Padahal Jaka bisa mendapatkan kerjaan lebih bagus di kota. “Terserah kamu deh..” ia malas membahasnya, Jaka memang tidak berminat untuk keluar dari kampung ini.

__ADS_1


“Nanti saya janji kalo abis panen, kita ke Jakarta. Tapi gak menetap, cuma berkunjung ke rumah mama dan papa kamu.”


***


Saat Mikaela dan Jaka hendak ke rumah eyang Sucipto, Pak Narto dan Putri datang ke rumahnya dengan amarah yang berkobar.


“Sialan kalian! kamu apakan istri saya!” berang pak Narto dengan mata yang berkilat amarah sambil menatap Mikaela. Rupanya bu Salama sudah menceritakan kejadian itu. Dan sudah pasti menambah nambahi cerita.


Nyali Mikaela menciut, ia berlindung di punggung Jaka. Melawan pria dewasa dengan wajah yang menyeramkan sungguh menakutkan.


“Kami tidak melakukan apa-apa, hanya salah paham.” kata Jaka. Sebagai suami ia akan melindungi Mikaela. Kedua mata Jaka melirik sebentar ke arah mantan kekasihnya.


“Jelas jelas situ dorong istri saya sampai terluka! saya bisa tuntut kalian!” seru pak Narto.


“Saya minta maaf atas tindakan istri saya, tapi melihat situasi kemarin bu Salama yang memulai lebih dulu. Menyebar fitnah tentang saya." jelas Jaka.


Putri semakin teriris hatinya mendengar Jaka membela istrinya dan berbicara sedikit kasar pada orang tuanya.


“Sampai kapan pun saya tidak akan memaafkan kalian! tunggu saja pembalasan dari saya!” pak Narto lekas pergi setelah puas memarahi Jaka dan istrinya.

__ADS_1


“Harusnya kamu nglawan gak usah minta maaf segala!” Mikaela kembali tenang, ia menyalahkan Jaka yang mau maunya meminta maaf.


“Apa salahnya minta maaf biar gak semakin keruh, lagian kamu kan salah udah dorong orang yang lebih tua dari kamu, itu gak sopan!” ucapnya.


“Ishh!” Mikaela mendorong dada Jaka, kesal dengan ucapan pria itu. “Kamu nyebelin! gak temen ah!” lalu ia berjalan cepat mendahuli Jaka.


***


“Kamu baik-baik ya, jangan nyusahin Jaka. Kalo ada apa-apa hubungi mama.” Sekar mengelus kepala putrinya dengan lembut.


“Sebenernya aku pengin ikut, gak betah tinggal di sini.” ia mengadu, berharap ibunya mau membawanya ikut pulang ke Jakarta.


“Suami kamu ada di sini. Masa ikut mama, kecuali Jaka ngijinin kamu.”


“Mas Jaka bakal ijinin kok, gak keberatan sama sekali.” jawabnya tanpa sepengetahuan Jaka.


Tentu Sekar tidak percaya begitu saja. Jaka mungkin mengijinkan Mikaela pergi ke Jakarta karena paksaan dari putrinya sendiri. “Gak boleh gitu, pengantin baru pamali pergi jauh-jauh. Bulan depan baru boleh minta anterin suami kamu buat pulang ke Jakarta.”


“Yaudah deh…”

__ADS_1


Nasihat juga terucap dari ayahnya Mikaela. Ia berpesan pada Jaka supaya menempati rumah ini selagi Jaka membangun rumahnya agar lebih layak untuk Mikaela. Jaka akan membangun kamar mandi di dalam rumah, tanpa di paksa atau di suruh siapapun. Jaka sadar sendiri, ia tidak rela tubuh selembut sutra dan seputih susu milik si tuan putri dilihat mata laki-laki lain. Yang bisa saja mengintip dari celah yang terbuka lebar. hihihi…


__ADS_2