
Hari berlalu, kejadian pagi itu sudah terlupakan. Lebih tepatnya Mikaela dan Jaka tidak mau membahasnya lagi karena hanya akan menimbulkan kecanggungan dari mereka.
"Jaka kemana? kok kamu sendirian datengnya?" bibi Nenti menanyakan keponakannya yang tidak ikut bersama Mikaela. "Kamu gak nyasar kan ke sininya?"
"Gak kok bi, aku udah hapal jalannya." Mikaela datang ke rumah bibi Nenti karena ingin berpamitan. Besok pagi ia dan Jaka akan berangkat ke Jakarta. "Bi, besok aku dan mas Jaka mau ke Jakarta."
"Bibi udah tahu, Jaka kemarin bilang sama bibi." kata bibi Nenti. Jaka memang tidak tinggal di rumah ini. Tapi keponakannya ini masih sering mengunjunginya. Rumah yang sempat di renovasi sudah selesai. Kamar mandi sudah berada dalam rumah, tidak di luar lagi. Tetapi Mikaela enggan kembali tinggal di rumah ini. Alhasil karena tidak mau bertengkar, Jaka menurutinya.
"kalian hati-hati, jangan berantem terus." nasihatnya.
"Iya bi.." balas Mikaela. Dalam hati ia bertanya-tanya, darimana bibi Nenti tahu kalau dirinya dan Jaka sering bertengkar. "Mas Jaka pasti suka ngadu yang gakn gak sama bibinya." batinnya menggerutu kesal.
Mikaela cukup lama berada di rumah bibi Nenti, gadis itu senang menemani bibi Nenti yang sedang membuat peyek. Menemani sambil mencicipi. Pulangnya pun Mikaela membawa beberapa bungkus peyek kacang dan peyek ebi. Mulanya Mikaela ingin membeli tetapi bibi Nenti menolak uang pemberian Mikaela.
__ADS_1
Mikaela pulang dengan berjalan kaki. Tidak sengaja ia berpapasan dengan Putri, mantan kekasih suaminya. Putri jalan berduaan dengan seorang pria. Mikaela menebak jika pria itu suami dari Putri, mereka belum lama menikah.
"Apa liat liat!" Mikaela melototi Putri yang sedari tadi melihatnya sinis.
"Ada apa mbak?" suami Putri menegur Mikaela.
"itu istri mu gagal move on dari suami saya!" serunya.
Pria bernama Gilang itu menoleh pada istrinya. "Kamu?"
"Dihh! Mikaela geli mendengar pangakuan bohong Putri. Tidak mau berurusan lebih lama, Mikaela segera pergi.
***
__ADS_1
"Mas, besok aku minta uang ya pas nyampe di Jakarta." Mikaela meminta jatah bulananya di tambah. Saat berada di Jakarta, Mikaela akan memuaskan diri. Jalan jalan ke pusat perbelanjaan, membeli pakaian dan lainnya. Mikaela tidak sabar menunggunya.
"Baru seminggu yang lalu saya kasih kamu tiga juta, udah abis uangnya?" Jaka tetap memberikan nafkah lahir pada istri sementaranya. Nominalnya pun sangat banyak menurut Jaka. Tapi tidak apa, Jaka hanya ingin menyenagkan Mikaela supaya betah tinggal di kampung.
"Uang segitu mana cukup. Lagian kemaren aku udah beli skincare, tinggal sisa satu juta lima ratus. Nanti tambahin ya?"
Jaka menghela, uang sebanyak itu habis cepat sekali hanya sisa sedikit. Padahal semua keperluan rumah ia yang membelinya. Uang tiga juta Jaka berikan sebagai uang jajan saja. Nyatanya istrinya itu terlalu pintar menhabiskan uang, belia apa? dimana? tahu saja tempat yang menjual barang mahal. Setahu Jaka Mikaela hanya berbelanja di pasar.
"saya hanya petani bukan pengusaha sukses, uang saya gak banyak!"
"Loh katanya kamu punya pabrik gula? udah jadi pengusaha dong? pasti duitnya makin tambah. Jangan pelit sama istri!"
Ingin rasanya berteriak! "Ya Allah!!!"
__ADS_1
Apes sekali nasibnya. Jaka di tuntut untuk memberikan nafkah sesuai keinginan Mikaela. Bisakah Mikaela memberikan nafkah batin untuknya? sayangnya, nyali Jaka tidak seberani itu untuk menuntut haknya, meminta nafkah batin.