
Malamnya, Jaka menerima pesan dari Putri. Mantan kekasihnya itu meminta untuk bertemu. Jaka menghela nafas, ia tidak mungkin malam-malam pergi menemui Putri. Jaka tidak mau kalau nantinya pak Narto malah menuduhnya lagi, tidak bisa melepas Putri.
[Walaikumsalam Put, Maaf aku gak bisa menemui kamu. Ini sudah malam, gak baik buat kita bertemu. Mungkin kita memang tidak berjodoh. Mari kita lupakan masalalu dan memulai hubungan baru masing-masing.] Jaka membalas pesan dari Putri. Pria itu memastikan kalau hubungan mereka benar-benar sudah berakhir. Meskipun berat karena Jaka sendiri masih menyimpan rasa pada Putri. Tapi keadaan yang memaksa mereka berpisah. Terlebih besok pagi Jaka akan menikah dengan Mikaela.
"Jak, bukannya tidur! ini udah malem, jangan sampe besok bangun kesiangan!" bibi Nenti menegur keponakannya yang melamun, bukannya tidur.
"Iya bi." Jaka menurut, pria itu lekas ke kamarnya. "Bi, bibi masih percaya sama tuduhan Mika? aku sama sekali gak melakukan apapun sama dia..." berulang kali Jaka menjelaskan kalau dirinya tidak pernah menodai Mika.
"Besok udah mau nikah! gak usah mikirin macem-macem! udah jodohnya kamu nikah sama Mika!"
Jaka mendengkus, bertanya apa di jawab apa! bibi Nenti sama saja dengan yang lainnya! tidak mau mendengar penjelasan yang sebenarnya.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Mikaela Daniar Wijaya binti Danu Wijaya dengan mas kawin uang sebesar satu juta rupiah dan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah!!"
Pagi itu acara pernikahan berlangsung dengan khidmat. Jaka telah resmi menjadi suami dari Mikaela.
__ADS_1
Pernikahan berlangsung sederhana, hanya dihadiri kerabat dekat saja.
"Nama kamu bagus, kenapa di panggil Jaka?" bisik Mikaela yang masih penasaran, nama lengkap suaminya rupanya Jayden Kalingga tetapi kenapa orang memanggilnya Jaka?
"Nama itu terlalu bagus buat anak petani seperti saya." sudah dari kecil ia di panggil dengan nama Jaka. Mungkin ibunya dulu terlalu berlebihan saat membuat nama tersebut.
Mikaela membulatkan bibirnya. "Oh begitu..."
Acara sungkeman, lalu makan-makan, diakhiri dengan wejangan dari kedua orang tua Mikaela.
"Jaga putri saya dengan baik Jangan sakiti dia, bahagiakan dia, jangan membuatnya sengsara apalagi susah makan." Sekar memang ikhlas menikahkan putrinya dengan pria teramat sederhana ini. Tetapi sebagai seorang ibu, tetap khawatir dengan kehidupan Mikaela selanjutnya setelah menikah.
Giliran Danu yang memberi nasihat dan petuah. Tak jauh berbeda dengan sang istri, Danu pun meminta Jaka menjaga Mikaela dengan baik.
Sesudah itu, kedua mempelai masuk ke kamar untuk beristirahat. Jaka terlalu canggung berada di dalam ruangan yang sama dengan Mikaela.
"Mas, baca ini." Mikaela memberikan dua lembar kertas lengkap dengan isinya serta terdapat materai. "Semalem aku buat isi perjanjian pernikahan kita. Aku tulis apa aja yang gak boleh kamu langgar."
"Aku pikir gak ada surat perjanjian." kata Jaka sambil mengambil kertas tersebut. Kedua mata Jaka membaca secara teliti poin poin yang tertera. "Satu tahun?"
__ADS_1
Mikaela mengangguk. "Kita nikah sampai satu tahun aja. Setelah itu kita bisa berpisah." ia pikir satu tahun waktu yang sangat pas, tidak terlalu cepat dan tidak lama juga. "Kamu boleh nambahin poin yang kamu inginkan. Tulis aja, nanti aku bakal setuju kok."
Jaka menggeleng, "Pernikahan bukan buat mainan, dosa kamu yang tanggung. Saya gak mau ikut-ikutan." Jaka menandatangani surat tersebut tanpa banyak berfikir. Semua ini rencana Mikaela, Jaka hanya ikut saja.
Mikaela mencibir. "Dih kamu gak mau dosa tapi tetep setuju kan sama rencana aku."
Jaka mengedikan bahu. "Saya capek, pengin istirahat. Saya tidur dimana ini?" tanyanya. Di surat perjanjian itu Jaka di larang menuntut haknya atas diri Mikaela. Itu artinya, Jaka tidak diperbolehkan tidur satu ranjang dengan istrinya.
"Tidur di kasur aja, aku mau keluar sebentar."
***
Pernikahan mantan kekasihnya membuat hati Putri semakin remuk. Ia tidak menyangka kalau mas Jaka tega meninggalkannya demi perempuan lain. Sejak pagi, Putri mengurung diri di kamar.
"Udah, ngapain kamu tangisin! bulan depan kamu juga bakal nikah! Gilang lebih segalanya dari Jaka!" ibu Salama menenangkan putrinya yang terus meratapi pernikahan Jaka.
"Udah bu, biarin! ntar juga berhenti sendiri nangisnya." kata Pak Narto. "Kita lihat nanti, pasti kamu bakal berterimakasih sama bapak ibu yang udah nikahin kamu sama Gilang. Hidup itu gak makan cinta! bakal sengsara kamu hidup sama si Jaka itu."
Putri mengabaikan ucapan bapak dan ibunya. Saat ini hatinya tengah patah. Bukan waktu yang sebentar menjalin hubungan dengan Jaka. Terlalu sulit melupakannya dalam waktu yang singkat.
__ADS_1