
Malamnya Mikaela diboyong Jaka ke rumah. Tadinya Mikaela menolak, ia ingin tetap tinggal di rumah peninggalan eyangnya. Tetapi Jaka kekeh ingin pulang.
Mikaela mengamati setiap sudut kamar sempit ini, ranjang yang tidak terlalu besar, kasur yang sudah mulai menipis, lalu dinding setengah permanen.
"Aku tidur dimana?" hanya dengan melihat kondisi kamar saja, Mikaela sudah tidak betah. Ia ingin kembali ke rumah eyangnya. Setidaknya kamar di sana lebih layak untuknya.
"Kalau mau di kasur, biar aku yang tidur di depan." Jaka mengalah, ia akan tidur di luar saja agar Mikaela bisa leluasa tidur di kasurnya.
Mikaela mendengus, bukan itu maksudnya. Mikaela ingin mengatakan kalau dirinya tidak mau tidur di kamar ini. Tapi ia tak enak hati mengucapkannya. "Udah aku bilang, harusnya tidur di rumah ku aja."
"Meskipun pernikahan kita hanya sandiwara, aku tetap suami mu. Istri harus menuruti apa kata suami."
"Tapi..." Mikaela mengurungkan bersuara. Gadis itu hanya menghela pasrah.
Bibi Nenti jelas mendengar perdebatan itu, mengingat setiap ruangan tidak kedap suara. Tidak ada langit-langit di rumah itu, sekecil apapun bersuara, pasti akan terdengar. Tapi ia tidak banyak berkomentar mengenai fakta yang baru saja di dengar kalau keponakannya ini mengatakan pernikahan mereka hanya sebuah sandiwara. Bibi Nenti hanya berharap yang terbaik untuk keduanya. Jika sudah berjodoh, mereka pasti akan tetap bersatu.
Dari wajah Mikaela yang terlihat murung, Jaka menebak kalau istrinya ini enggan tidur di tempat ini.
"Besok aku beliin kasur baru. Sekarang tidur dulu pake yang ada." pengertian sekali, Jaka masih memiliki sedikit uang simpanan. Tidak salahnya membelikan kasur baru untuk Mikaela agar istrinya ini nyaman tinggal di rumahnya.
Mikaela tersenyum lebar. "Sekalian beli kipas angin ya. Sama lemari baru." dasar Mikaela! ia malah melunjak meminta ini itu.
"Iya." Jaka mengiyakan, lemari di kamarnya memang terlalu kecil untuk pakaian mereka berdua. Ia butuh lemari baru.
__ADS_1
"Boleh sekalian juga perbaiki kamar mandinya?" kali ini Mikaela sedikit pelan saat mengatakannya. Jujur ia sedari tadi memikirkan bagaimana dirinya mandi di tempat terbuka. "Emm, sebenernya aku kebelet pipis dari tadi. Tapi takut.. hehe.."
"Kalau uangnya cukup nanti aku perbaiki."
"Kalau ada uangnya bikin baru aja kamar mandi di dalem rumah. Jadi kalo malem-malem aku pengin pipis gak ditahan-tahan."
"Gak sekalian minta bikinin rumah?"
"Boleh deh, tapi yang bagus ya!"
"Mau jadi istri beneran sampai minta rumah segala? mau?"
Mikaela mengerucutkan bibirnya. "Udah ah, ayo temenin aku pipis!"
Jaka mengantar Mikaela ke kamar mandi di belakang rumah. Jika malam memang terlihat menyeramkan. Cahaya pun sangat minim sekali.
"Temenin, aku takut sendirian." pintanya.
Jaka terkesiap, "Aku tunggu di sini gak bakal pergi."
Mikaela menggeleng cepat. "Gak mau. Aku takut!"
Akhirnya Jaka mau menemani Mikaela sampai masuk ke dalam. Kedua matanya terpejam, sesuai permintaan Mikaela.
__ADS_1
"Jangan ngintip!" serunya. Gadis itu buru-buru menyelesaikan buang air kecil. Ia takut akan dua hal. Takut hantu dan takut kalau Jaka mencuri kesempatan untuk melihatnya.
"Gak bakal!" Jaka masih setia memejamkan matanya. Sebelum Mikaela menyuruhnya membuka mata, ia tidak akan membukanya.
"Aargghh!" Mikaela berteriak, ia terkejut saat katak melompat hinggap di kakinya.
"Ada apa?" Jaka yang panik. Terpaksa ia membuka mata karena ingin melihat keadaan Mikaela.
Jantung berdetak kencang, ia melihat kulit seputih susu dari balik celana yang terbuka. Sejenak, Jaka terdiam. Ia lelaki dewasa yang bisa berhasrat ketika melihat tubuh bagian dalam lawan jenis.
Plak! Mikaela memukul Jaka. "Liat apa kamu!" bergegas gadis itu memakai celananya kembali.
Jaka semakin tertegun, ia bisa melihat lebih jelas saat Mikaela berdiri. Bagian intim Mikaela yang sangat mulus, nyaris tidak berbulu, seperti kulit bayi yang baru lahir. Mulus dan lembut. Meskipun pencahayaan temaram, kedua matanya masih sangat awas.
"Aku kan udah bilang, jangan buka mata sebelum aku suruh!" Mikaela kesal.
Jaka gugup, lalu memalingkan wajah seraya menghilangkan bayangan yang mampu menggugah hasratnya. "Tadi kamu teriak, saya reflek membuka mata."
"Kamu pasti curi kesempatan kan! ngaku!"
Jaka menggeleng. "Saya gak liat apa-apa." akunya. Jika di ruangan yang terang, bisa dilihat jelas wajah Jaka memerah.
Mikaela membuang muka lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Jaka yang masih mengatur degup jantungnya.
__ADS_1
Dosa kah dia? melihat pemandangan tadi? tapi Mikaela itu istrinya. Bahkan ia berhak melakukan lebih dari sekedar melihat.
"Astaghfirullah..." berulang kali Jaka menggelengkan kepala, pikirannya mendadak mesum membayangkan Mikaela.