
✨✨✨
“Gres, kenapa gak di angkat?” Rendi.
“Gak penting kok..! Biarin aja.” Gres.
Namun dering ponsel tersebut tidak kunjung berhenti seakan-akan menandakan ada keperluan yang begitu penting.
“Angkat telfonnya,,, gak bosan apa dering dari tadi juga. Siapa tahu penting.” Rendi.
“Papa yang nelfon kok. Entar juga bosan dia.” Gres.
“Gres jangan gitu, cepatan angkat!! Mungkin Om lagi ada perlu” Gres.
Mendengar sahabatnya yang marah dengan wajah kesalnya. Ia pun mengangkat telfon tersebut.
“Halo Pa...!” Gres.
“Kamu di mana? Kenapa angkat telfon Papa lama?”.
“Lagi main di rumah Rendi Pa. Ada apa telfon Gres?”
“*Kenapa kamu gak mau masuk di kampus pilihan Papa?. Papa udah udah siapkan semuanya sudah sejak lama lho Gres. Besok kamu harus ke sekolah dan temui wali kelas mu. Semuanya sudah di urus untuk pendaftaran kamu di sana. Papa gak mau tahu pokoknya kamu harus masuk di kampus it*u!"
“Aku ga mau Pa.! Lagian aku udah ada pilihan sendiri,.”
“Tolong kamu jangan kecewain kami sebagai orang tua. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk mu. Jadi ikuti semua yang sudah di atur. Kamu ngerti maksud Papa?”
“Pa...! sampai kapan aku harus ikut semua kemauan kalian. Aku juga punya rencana sendiri untuk masa depanku. Aku bahkan nggk yakin dengan pilihan kalian. Aku nggk mau masuk di dunia bisnis seperti kalian. Dari dulu Gres kan nggk pernah mau.!”
“Papa akan tetap kirim kamu untuk kuliah di kampus tersebut apapun yang terjadi. Dan ingat papa nggk butuh persetujuan kamu, papa hanya menyampaikannya saja. Kalau kamu tidak ke sekolah besok, biar sekretaris papa saja yang ambil berkasnya di sekolah. Kamu tinggal siapkan diri untuk berangkat saja”
“Terserah kalian saja.!! Aku tetap sama pendirian aku.”
“Papa kerja siang malam tanpa istirahat untuk membuat kamu hidup lebih baik setiap harinya.! Sejak kapan kamu jadi membangkang seperti ini!!. Kamu harus kuliah di jurusan yang bisa menjamin masa depan kamu. Papa nggk pernah setuju jika kamu kuliah mengambil kedokteran. Ingat Papa nggk akan pernah mau, dan Papa nggk mau ada penolakan dari kamu.”
“Kalau kalian tidak butuh pendapatku buat apa kalian bertanya lagi?!! Aku muak dengan ini semua Pa...!”
Rendi yang melihat Gres yang sudah meninggikan suaranya, ia memegang tangan Gres untuk menguatkannya yang sudah tidak mampu lagi mengahadapi semuanya itu. Ia begitu prihatin dengan hidup sahabatnya. Dari kecil ia tak pernah hidup sesuai dengan apa yang di inginkan.
“Kamu persiapkan diri dengan baik. Minggu depan sekretaris Papa akan menjemput kamu untuk pergi dari dan mengikuti tes masuk di kampus tersebut.!”
Tuut!
__ADS_1
Telfon pun di akhiri.
"Tetapi siapa yang tahu, kalau terkadang masa depan tidak kamu tentukan sendiri, namun ditentukan oleh orang terdekat mu. Mereka memang mau yang terbaik untukmu. Tapi cara mereka menentukannya itu yang kurang, walaupun pada akhirnya kita tidak tahu apa yang menjadi akhir."
Seketika ia merasa sudah tidak punya tujuan hidup lagi. Bahkan mimpi yang sudah tersusun rapi selama ini hancur dengan mudah begitu saja, setelah kedua orang tuanya mengambil keputusan yang terbaik bagi mereka untuk hidupnya.
Ia bahkan tidak berani lagi memikirkan mimpi yang begitu membawanya ke sebuah tujuan yang menurutnya begitu seru jika di nikmati.
Ia kembali menatap langit sore itu, sambil mengingat kembali masa-masa hidupnya dari kecil. Ia coba bertanya pada dirinya sendiri, apa pernah sekali saja ia hidup sesuai dengan mimpi dan rencananya?.
Namun dari semua memori yang terlintas kembali ia mendapati dirinya tak pernah hidup sesuai dengan pilihannya.
Sosok orang tuanya adalah dua makhluk yang punya pendirian tetap yang sudah mengambil semua mimpinya lalu menukarkan dengan segudang mimpi mereka yang bahkan tidak sama sekali senada dengan mimpinya.
Sakit memang, bahkan terasa sesak sekali melihat kenyataan yang ada. Ia harus hidup sesuai dengan kemauan orang tuanya.
Apa yang bisa membahagiakan lagi bagi hidupnya. Ia hanya bisa terdiam dan terdiam lagi dengan semua yang ia hadapi.
“Gres...! are you okay, girl?” tanya Rendi sambil memeluk tubuh kecil gadis itu yang tengah duduk tanpa mengeluarkan ekspresi apapun.
“As you can see, Ren. I’m not okay, at all” jawab Gres sambil menengadahkan kepalanya melihat sang sahabat yang tengah berdiri dan memeluknya hangat.
“Kamu gak sendiri, ada aku yang masih mengharapkan kamu baik-baik saja.” ucap Rendi sambil mengelus lembut kepala gadis kecil itu.
“Aku lelah Ren. Aku bahkan gak punya mimpi apa-apa lagi! Apa yang harus aku lakukan?”
“Kamu hanya butuh istirahat sayang. Buktinya sampai hari ini kamu masih ada dan baik-baik aja.” ucap Rendi tulus.
“Non, tadi ibu menghubungi kamu lewat telfon rumah. Ibu akan tiba malam ini.”
“Iya. Dia kembali untuk apa? Bukankah mereka tengah sibuk dengan pekerjaan mereka?”
“Bibi juga gak tahu non. Kata ibu ada keperluan mendadak kesini.”
“Biarkan saja. Toh ini juga rumah mereka. Aku ke depan dulu ya, mau ke supermarket bentar,” sambil berjalan menuju gerbang utama dengan hoddie putih yang menutupi tubuh sampai lutut ia pun berjalan dengan santai menikmati angin sore yang sedikit dingin.
Sesudah keluar dari supermarket andalannya itu. Dengan pikiran yang memenuhi otaknya. Ia berjalan sambil menikmati es krim cokelat kesukaannya itu, ia menjadi candu pada es krim jika keadaannya sedang kalut.
Sambil duduk di kursi dekat jalan kota tersebut, ia sesekali melihat orang-orang yang tengah berjalan dengan santai seakan mereka tampak begitu capek dan lelah dengan pekerjaan mungkin.
Di tengah lamunannya itu....
“Hai,,,! Boleh aku duduk di sini?” tanya pemuda yang sepertinya seumuran dengannya.
__ADS_1
Ia menoleh pada pemuda tersebut, tanpa menjawab pertanyaannya.
Namun kembali Gres menikmati es krimnya yang hampir habis tanpa memperdulikan pemuda yang tengah memandangnya sedari tadi.
“Heii... bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya pemuda itu dengan antusias tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
“Mungkin anda salah orang!!” ucap Gres dengan muka datar.
“Tidak! Ku rasa aku tidak salah orang. Tapi kita pernah bertemu dimana ya?!..” jawab pemuda tersebut sambil mengingat di mana ia bertemu dengan gadis di hadapannya sekarang.
Gres yang malas pun tidak merespon pemuda yang bahkan tidak ia kenal tersebut. Ia tidak peduli sama sekali ketika ia terus saja di pandang oleh pemuda tersebut.
“Aku sudah mengingatnya sekarang!!” ucap pemuda itu antusias.
“Yak! Tolong jangan ganggu aku.” Ucap Gres kesal, sambil bangkit dan berdiri untuk pergi dari tempat itu.
“Ah,, maaf ternyata aku salah orang” jawab pemuda itu karena merasa tidak pernah bertemu dengan gadis tersebut walaupun ia merasa tidak asing dengan mukanya.
Gres yang tidak peduli pun melangkah pergi dengan muka datarnya. Ia berjalan begitu cepat karena kesal dengan pemuda tadi.
Ia yang tengah di bebani pikiran dan masalah yang rumit di tambah lagi ia harus bertemu dengan orang tadi membuatnya tambah kesal dan melangkah untuk menyebrangi jalan.
Orang-orang yang tengah melihatnya pun berteriak padanya. Gadis yang di panggil tersebut pun tidak mendengar sama sekali karena ia terlalu hanyut dalam pikirannya sampai.
Piiiiiiiiiiiip!!
(bunyi klason dari sebuah truk)
Ia yang menyadari bahwa dirinya sudah berada di tengah jalan tersebut pun bingung apa yang akan ia lakukan. Kembali ia teringat kejadian 5 tahun yang lalu. Dimana saat itu.
“Kenapa kaki ku tidak mau di gerakkan. Aku mau mengindari lelaki pemabuk yang tengah membawa botol itu. Tapi kenapa aku bahkan tidak bisa untuk segera bergerak untuk menjauh. Siapa pun tolong aku!.”
Linang air mata saja yang menjadi ekspresinya saat itu. Ia bahkan tiba-tiba berada dalam keadaan yang menakutkan itu. Ya, ia kembali merasakan trauma yang kejam itu. Sampai hantaman keras mengenai tubuh kecilnya tersebut.
Bruuuuuuuuuukk!
Sementara itu, pemuda yang sempat berbicara dengannya di kursi tepi jalan tadi tengah berlari kencang untuk menarik tubuhnya agar masuk ke pelukannya pun tiba di tempat itu ketika truk lebih cepat darinya.
Ia bisa melihat gadis kecil tersebut terpental jauh dari muka truk tersebut lalu kemudian terjatuh ke aspal dengan bunyi yang begitu keras di dengar.
Pemuda tersebut merasakan getaran pada kakinya melihat kejadian yang begitu tragis di depannya. Seketika ia mengingat gadis itu.
“Ya, dia yang ku temui tengah mabuk di bar itu. Dia gadis yang tengah ku cari selama ini. Dia gadis yang mampu mengacaukan perasaanku setelah bertemu dengannya. Dia gadis yang sudah mengeluarkan muntahnya di seragamku saat itu!.. Tapi apa yang ku lihat sekarang hatiku begitu teriris melihatnya, sakit!” batin pemuda yang bernama Sean tersebut.
__ADS_1
Sean pun berlari mendekat ke tubuh gadis tersebut. Ia bisa melihat darah sudah mengalir begitu deras dari kepala kecil gadis itu.