
"Berdamailah pada dirimu sendiri. Karena kelak cuma ia satu-satunya yang akan menemani mu sampai akhir yang tidak kamu tahu itu kapan!"
.
.
.
Gres POV
Orang akan mengalami banyak kesulitan jika ia tidak mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Sama halnya aku sekarang, aku mungkin baru saja mengakhiri pertengkaran hebat dengan diriku sendiri dan masa lalu.
Mereka, orang-orang yang di sekeliling ku tengah mengalami banyak hal tentang ku. Mereka mungkin ada yang merasa bersalah, mungkin ada juga yang mengutuk diri mereka atas apa yang sudah menimpaku.
Aku memang sadar sepenuhnya, aku melakukan suatu kesalahan yang tak ku sadari. Aku membuat mereka terseret dalam drama kehidupanku.
Aku mungkin marah, aku mungkin frustasi yang berakhir mungkin aku sudah melakukannya, ya aku membenci beberapa pihak atas kejadian-kejadian yang sudah menimpaku.
Aku hanya belum sadar jika ternyata mereka tidak sepenuhnya salah atas aku.
Aku telah memperlakukan mereka untuk menjadi pelampiasan atas ketidakadilan hidup terhadap aku.
Dari sini, aku sudah belajar dengan baik. Aku akan hidup dengan melakukan apa yang aku mau, aku akan hidup dengan melakukan apa yang ada dan sedang menanti tidak peduli seberapa kerasnya kepalaku di masa lalu.
Lebih tepatnya aku akan hidup dan melakukan apa yang awalnya tidak ingin ku lakukan. Semata karena aku penasaran dengan akhir dari apa yang tidak di inginkan dari awal.
Ya, aku akan bertindak kejam tentang pilihan. Aku tidak peduli dengan perasaan tidak suka ku. Aku akan melawannya. Aku harus melangkah bila perlu menghindar untuk aku bisa tetap baik-baik saja menurut penglihatan orang-orang.
Karena dalam hidup ini, semua akan berubah seiring dengan perkembangan dan bahkan ucapan orang-orang di dalamnya.
Orang sering bilang Takdir adalah yang terkejam dalam hidup.
Dan sekarang mari kita lihat apa yang akan terjadi setelahnya. Mungkin aku masih belum pulih dengan baik. Tapi, aku akan kembali bangkit tanpa perlu ada lagi orang yang harus ku salahkan atas apa yang terjadi padaku.
Aku sudah berusaha untuk berdamai kembali dengan diriku sendiri.
Mari kita melakukannya dengan baik!!
Gres POV End
.
.
.
__ADS_1
Tok tok tok!
Cleek! (Pintu terbuka)
"Haii" ucapnya dengan senyuman yang tulus.
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman ringan yang mengartikan aku bersyukur masih ada beberapa diantara mereka yang mungkin betul-betul peduli atau bahkan pura-pura. Dan aku tidak akan peduli dengan semuanya.
"Gimana keadaan mu, Sudah lebih baik?" tanya Sean sambil menyimpan bingkisan yang ia bawa di atas meja.
"Hm, seperti yang kau lihat!" jawabku pelan dan mewakili rasa.
"Ya, kau sudah kembali pulih. Kau cukup hebat dalam bertahan" ujar Sean yang sudah mengambil tempat untuk duduk di pinggir kasur rumah sakit tersebut.
"Hahah,,, mungkin lebih tepatnya karena mungkin aku masih diberi sisa kesempatan!" ucapku santai diiringi kekehan tak berarti.
"Lucu ya, kita bahkan lebih dekat hanya karena sering mengunjungi mu di tempat ini!" ucap Sean dengan tatapan penuh arti.
"Lebih tepatnya ini cukup miris untuk saya!" jawabku santai.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Sean yang masih setia menatapku.
"Karena takdir!" jawabku pasti tanpa ragu.
"Takdir??" ucap Sean penuh tanya.
"Mengapa dengan takdir" tanya Sean dengan serius.
"Takdir kejam bagi beberapa orang!" ucapku tersenyum ringan.
"Termasuk kamu?" tanya Sean penuh penekanan.
"Ku rasa begitu," jawabku sambil menatapnya tenang.
"Tapi tidak selamanya takdir itu kejam lho!" ucapnya begitu yakin.
"Entah, sejauh aku hidup sampai detik ini, takdir begitu mempermainkan ku!" ucapku dengan pandangan lurus.
"Salah satu contohnya?" tanya Sean.
"Kau!" jawab ku pasti.
"Aku??" Sean menunjuk dirinya sendiri.
"Bukankah anda hadir begitu saja secara kebetulan dalam drama hidup gue? Kau terseret karena takdir sampai disini bukan?" Aku bertanya padanya.
__ADS_1
"Tidak. Kau keliru tentang itu!" jawab Sean pasti dengan senyuman terukir kembali.
"Bagaimana bisa, anda mengartikan ini sudah terancang dengan baik, jika kau saja tiba-tiba muncul di jalanan itu dan berpura-pura mengenalku sebelumnya hingga pada akhirnya kau pun terlibat untuk segala yang menimpaku saat itu. Bukan kah kita baru bertemu saat itu. Atau tidak kah kau sadar akan hal itu!" ucapku meyakinkan.
"Jangan menyakinkan seseorang terhadap apa yang kau pandang dengan konsep mu sendiri. Karena setiap orang punya konsep berbeda akan setiap hal. Jangan lah berkeras kepala!" jawab Sean santai sambil menatapku dengan tersenyum.
"Karena itu takdir. Kau bahkan ada sekarang di sini hanya karena berawal dari kecelakaan itu bukan?" ucap ku penuh keyakinan.
"Tanpa kau mengalami kecelakaan sekalipun kita sudah pernah bertemu dan memang akan bertemu!" Sean tersenyum lepas.
"Dan itulah yang namanya takdir!" jawabku lagi.
"Bukan! Ini sudah direncanakan sebelumnya jauh dari sebelumnya kau berpikir tentang takdir." Ucap Sean.
"Mengapa demikian?" tanyaku
"Karena jika itu adalah takdir. Maka ia akan terjadi dengan begitu saja, tanpa ada kejadian apapun sebelumnya. Ia hadir tanpa kau sangka dan tiba tanpa kau perkirakan seperti itulah takdir" jawab Sean.
"Bukan kah anda pun demikian?" tanya ku penasaran.
"Tentu saja tidak, jika kau mau menganggapnya takdir, seharusnya sebelum kejadian itu kau bisa mengatakan itu semua karena takdir. Ah, sudahi saja topik ini, sekarang waktunya berjalan sepanjang lorong untuk terakhir kalinya. Karena ku dengar sepertinya hari kau akan kembali ke rumah setelah sekian lama memulihkan diri" ujar Sean yang sudah memegang tongkat infus di tangan kirinya.
" Saya sudah bosan melihat suasana disini. Biarkan saja saya disini sambil menunggu waktunya pulang" ucapku malas.
"Tidak. Kau harus berjalan-jalan. Karena suatu saat setiap kita akan merindukan momen yang tidak kita inginkan di masa lalu dan mungkin ingin kembali berada di masa itu untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi. Dan sekarang sebelum terjadi penyesalan di masa depan. Ayok memperbaikinya sekarang!" ucap Sean yang sudah membantu menurunkan kedua kakiku dari tempat tidur.
"Sejak kapan kita sedekat ini?" tanya ku lagi.
"Sudahlah. Jangan memberikan kerja rodi pada kepala kecil mu ini untuk berpikir keras! Anggap saja kita dari dulu memang sudah seperti ini, okey!!" ucapnya yang bahkan tanpa sadar aku sudah berada di kursi roda dalam perjalanan di tengah lorong rumah sakit sekarang.
"Hahah, hidup begitu egois dengan menghadirkan orang-orang seperti ini disini" ucapku terkekeh.
"Apa rencana mu setelah ini?" tanya Sean yang fokus mendorong kursi roda.
"Mungkin aku akan daftar dan akan berkuliah seperti yang diinginkan kedua orang tua ku"
"Bukan kah kau tidak suka dengan pilihan mereka?"
"Bagaimana kau bisa tahu"
"Aku tahu semuanya. Tidaklah kau tahu mereka sudah mengijinkan mu untuk kuliah kedokteran?"
"Aku akan melakukanya dengan baik. Memilih pilihan yang tidak aku sukai dan berusaha untuk tahu bagaimana akhirnya!"
"Menarik!!. Mari kita lihat dan buktikan!"
__ADS_1
Lakukan saja apa yang sudah kau rencanakan sementara aku akan berdiri dan melihat sejauh mana kamu bertindak dan kuat. Mungkin aku akan menjadi yang selalu ada untuk itu mulai dari sekarang, tidak peduli sedekat apa kamu dengan orang-orang yang kau temui di hari-hari kemarin!_ Sean tersenyum dan melangkah dengan tenang bersamanya.
_10 Juni 2021