
Di salah satu SMA yang cukup terkenal di Indonesia. SMA Tunas Bangsa adalah salah satu sekolah elit yang dimana, didalamnya hanya terdapat murid-murid dari kalangan atas, boleh dibilang hampir semua mereka adalah anak orang kaya, juga ada beberapa siswa yang cukup berprestasi yang mengandalkan beasiswa untuk masuk di sekolah tersebut.
Gres merupakan salah satu dari siswi yang cukup terkenal di sekolah tersebut bahkan di segani di sekolah tersebut karena kekayaan orang tuanya yang bukan main. Ia berjalan gontai dari kelas hendak menuju kantin bersama keempat sahabatnya.
"Waahh,, benar-benar tu guru. Masa ia kita diberi tugas yang begitu sulit sampai kepalaku mau pecah saja" ucap Jek salah satu dari teman Gres,
"Di kira kita anak kuliahan kali ya! Sampai disiksa dan di peras otak kita untuk menjawab angka-angka sialan itu" sambung Eca.
Sementara Rendi dan Gres berjalan seperti mayat yang tidak bergeming mendengar keluhan dari kedua sahabatnya mereka yang tiap hari tiada puasnya mulut mereka berdebat.
Memang hari ini mereka dipusingkan dengan angka yang berderet banyaknya. Jangan salah, matematika selalu menjadi mata pelajaran yang paling dibenci hampir oleh setiap siswa tidak terkecuali geng mereka juga begitu.
"Udahlah, jangan banyak omong. Kita sebentar lagi mau ujian jadi wajarlah guru memaksa kita harus banyak belajar, aku tuh suka heran pada kalian terutama lo Jek dan Eca. Itu mulut, bisa ngga diam sehari doang. Hidup gue udah berasa ke di neraka tau ngga setiap dengar bacotan Lo berdua" ucap Rendi yang dari tadi sudah bosan dengar kedua sahabatnya yang mengoceh sejak dari keluar kelas sampai di kantin.
"Tau ni, itu mulut mau di sumpal kentang rebus kali ya" tambah Gres melihat kedua sahabatnya yang tiap hari selalu saja mengeluh.
"Jangan kentang dong, biar lebih pro sumpalnya pake chicken aja gimana. Kan seru tuh!!" Ucap Jek penuh semangat.
"Betul tuh!!" timpal Eca.
Sambil memakan pesanan mereka Gres melihat sinis kepada dua sahabatnya itu,
"Dih, enak banget tu mulut, bicaranya."
"Ya elah Gres, traktir teman Lo yang terkeren ini, nggak bakal buat Lo dan perusahaan Bokap Lo bangkrut kali" sela Eca sambil makan.
Kemudian Rendi turut angkat bicara "Kaya doang, traktir sahabat nggak mampu.!!!".
Akhirnya ketiga sahabatnya tertawa sambil melihat muka Gres yang udah merah karena jengkel dengan sikap ketiga sahabatnya yang tiap hari suka membuatnya harus mengeluarkan isi dompetnya untuk traktir teman-teman bobroknya.
"Ya udah, pesan sepuas Lo pada, gue yang bayar" ucap Gres, yang disambut teriakan senang oleh ketiga temannya.
Skip...
Di kelas mereka tengah serius mengikuti pelajaran Bahasa Inggris yang dibawa oleh Mis Rosy. Mereka cukup tenang dan memperhatikan sampai bel pulang pun berbunyi
Teng.. teeng,.. teeeng...(anggap bunyi bel aja ya🤭)
Semua siswa bersemangat sekali karena sudah waktunya pulang. Ada yang langsung berhamburan keluar ada pula yang masih didalam kelas menjalankan piket harian mereka.
"Gres Lo langsung balik atau main dulu??" tanya Eca.
"Langsung pulang, soalnya lagi malas ni" jawab Gres sambil berlalu menuju gerbang sekolah, di sana sudah ada mang Juki yang tengah menunggunya. Ia langsung membuka pintu mobilnya dan mobil pun melaju.
Sementara Eca, Rendi dan Jek mereka masih ingin menghabiskan waktu mereka dengan berjalan menuju mall terbesar di kota tersebut. Mereka memang selalu seperti itu tiap pulang sekolah.
Di sebuah mansion mewah. Mobil sport tengah masuk di garasi. Gres yang berada di mobil tersebut pun turun dan berjalan menuju pintu utama setelah mengucapkan terimakasih pada mang juki.
__ADS_1
"Aku pulang..!" Ucapnya bersemangat, tapi tidak ada yang menjawab teriakannya. Lalu, ia berjalan menuju kulkas untuk mengambil minum.
Di Sana ada Bi Ira yang bagian masak tengah menyiapkan makanan di meja makan, sedangkan Bi Ima dia adalah kepala pembantu di rumah itu.
"Non, sudah pulang? Bibi sudah menyiapkan makan siang silahkan non ganti dan turun untuk makan ya." Ucap Bi Ira saat melihat Gres muncul di ruang makan.
"Iya bi" jawab Gres kemudian berlalu menuju tangga ke kamarnya.
Di atas ia menemukan Bi Ima tengah merapikan barang-barang di ruangan belajar Gres, jangan heran Gres miliki ruangan belajar tersendiri seperti perpustakaan di lantai atas tepat di sebelah ruangan kerja ayahnya.
"Bi, mama belum pulang ya?" tanya Gres pada Bi Ima.
"Belum non, kayaknya nyonya sibuk deh akhir-akhir ini. Soalnya setiap malam nyonya sama tuan sibuk dengan puluhan berkas di meja kerja mereka, bahkan mereka juga jarang tidur Lo" ucap bi Ima karena memang ia sering melihat kedua orang tua Gres sibuk ketika setiap malam mengantarkan minuman.
"Oh, ya udah deh, Gres masuk kamar dulu ya." Jawabnya sambil berjalan melewati ruang belajarnya.
Jangan heran Gres memang akrab dengan Bi Ima karena dari lahir bi Ima yang sering menjaga dan merawatnya ketika kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka.
Di meja makan Gres tengah menikmati makan siangnya. Ditemani semua pembantu rumah tangga, karena kalau kedua orang tuanya tidak ada, ia tidak suka makan sendiri di meja makan yang begitu besar dan mewah tersebut. Sesudah makan ia selalu mengangkat sendiri piring kotor yang telah digunakan untuk di antar ke westafel tempat mencuci. Dia sudah terbiasa, walaupun beberapa pembantu melarangnya.
Skip...
Di sudut ruangan belajar lantai atas, tepat di dekat jendela kaca, yang di luarnya menampilkan pemandangan yang indah dan memesona dimana ia bisa melihat ramainya jalanan dan disampingnya ada taman besar milik keluarga Presmana yang sangat indah dan luas. Membuat siapapun yang duduk di tempat tersebut akan senang menikmati hal itu.
Gres tengah duduk dengan ditemani segelas coklat dan setumpuk buku pelajaran. Jangan heran walaupun Gres sudah tergolong siswi pintar di sekolahnya ia tetap tidak bosan dengan yang namanya belajar, setiap waktu di habiskan dengan belajar jika tidak ada acara dengan teman-temannya.
Ia memang selalu menjadi juara di sekolah walaupun harus urutan kedua tiap semester karena jujur saja, Ia belum bisa menyeimbangi seorang Kayla anak IPA 1 yang menjadi saingan IPA 2 yang merupakan kelas Gres. Gres memang tidak peduli dengan itu yang penting ia tetap menjadi yang juara pertama di kelasnya, selain itu juga kedua orang tuanya tidak memaksa Gres harus memperoleh juara di sekolah.
Menurut kedua orang tuanya, intinya Gres rajin sekolah dan nilai tidak jelek itu sudah pas bagi mereka. Agar Gres bisa masuk Universitas yang bagus dan bermutu nantinya.
Sambil sesekali melihat pemandangan luar yang cukup indah pada sore hari, tiba-tiba ponsel Gres berdering menandakan ada panggilan masuk. Dilihatnya layar ponsel tersebut tertera nama orang yang memanggil
Drrrrt.. Drrrt (anggap bunyi panggilan aja ya)🤭
Mama❤️
Dilihatnya bahwa ibunya yang memanggil segera ia menganggap telefon tersebut.
"Halo ma," ucap Gres
"................"
"Oh, mama nggak bisa pulang sedu ya, ya udah Ma nggak apa-apa."
".…...………"
"Gres udah makan ma, mama juga jangan lupa makan. Daa mama. Gres juga sayang mama".
__ADS_1
Tuuut !
Telepon pun berakhir. Menandakan bahwa mamanya akan pulang larut lagi seperti sebelumnya. Membuat Gres, tiba-tiba malas untuk belajar kemudian berlalu untuk turun ke lantai utama sekedar mengambil cemilan sekalian nonton TV untuk mengisi waktu malasnya.
Ketika membuka lemari tempat cemilan biasanya tersimpan rapi, di sana sudah tidak ada cemilan lagi, hanya ada beberapa yang tersisa tapi tidak mengunggah selera untuk makan.
Akhirnya ia berniat untuk ke supermarket saja, kebetulan pembantu belum belanja cemilan biar sekalian Gres saja yang membelinya. Gres naik untuk sekedar mengambil Hoodie lalu kembali kebawah mencari siapapun untuk pamit.
"Bi Ira, Aku mau kedepan ya, mau ke supermarket buat belanja cemilan, soalnya cemilan di lemari udah nggak ada" kata Gres.
Kemudian bi Ira memberikan beberapa lembar uang yang memang sengaja di tinggalkan oleh ibunya Seina sebagai uang belanja terkhusus cemilan untuk Gres dan orang-orang rumah juga.
"Non, ini uangnya kalau mau belanja cemilan".
"Nggak usah bi, biar aku aja yang bayar, itu simpan aja buat bibi atau ada keperluan lainnya".
Jangan lupa Gres sendiri punya black card Lo, yang diberikan oleh kedua orang tuanya.
Ia pun berjalan ke depan menuju garasi di sana mang juki tengah bermain dengan seekor anjing peliharaan milik Gres sendiri.
"Mang, bisa temani Gres ke supermarket nggak?".
"Bisa non, siap 45" ucap mang juki sambil berlari ke garasi mengambil mobil.
Diperjalanan mang juki bertanya "Non besok ada jadwal les nggak?"
"Hmm.. kayaknya ada mang. Oh, ia besok jadwal les matematika terakhir aku. Kenapa memangnya?" Tanya Gres sambil melihat keluar jendela.
"Begini non, besok mang izin. Soalnya ibu di kampung lagi masuk rumah sakit. Mang juki mau jenguk sekalian mau bayar biaya rumah sakitnya. Mang udah izin juga sama nyonya tadi pagi" jawab mang Juki.
"Nggak apa-apa, besok biar Gres minta jemput sama teman aja".
Setelah bi Ima menata belanjaan yang di bawa tadi, Gres berlalu ke kamar untuk membersihkan diri karena sudah hampir magrib juga.
Ditempat yang berbeda, seorang lelaki paruh baya tengah berbincang dengan beberapa orang dalam sebuah rapat yang dipimpinnya.
"Bagaimana tanggapan kalian terkait perusahaan kita kedepannya?"
"Menurut saya, untuk lebih maju lagi dan mengakomodir beberapa perusahaan yang tengah kita akuisi saya pikir kita memang harus memindahkan kantor pusat ke Paris sesuai dengan hasil kesepakatan dewan direksi kemarin" jawab salah satu peserta rapat tersebut.
"Benar pak. Kalau kita tidak memindahkan kantor pusat ketempat yang lebih strategis seperti Paris, kita akan mengalami penurunan saham dari beberapa investasi yang ada dan juga akan kehilangan investor utama" timpal salah satunya lagi.
"Baiklah, kalau begitu. Kita akan pindah negara dalam berbisnis terutama untuk kantor pusat. Dan saya akan siap pindah juga menetap di sana. Siapkan semua yang kita perlukan untuk ke sana. Dan rapat kita selesai" ucap CEO tersebut.
Ya, CEO itu adalah Raditya Presmana ayah dari Gres.
Di ruangannya ia tengah berpikir bahkan seperti melamun seakan, memikirkan hal yang rumit dan menyusahkan.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Gres?" ucapnya sambil bergumam.