Mengapa ?

Mengapa ?
Pilihan mereka...


__ADS_3

✨✨✨


Di sudut kafe tersebut, seseorang tengah tenggelam dalam pikirannya. Entah apa yang ia pikirkan mampu membuatnya benar-benar tak menyadari keadaan sekitarnya.


Ia begitu merasakan kekosongan yang dalam bahkan gelap ketika ia mencoba membawa pikirannya jauh.


"Apakah mereka benar-benar sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka sampai saat ini?" Batinnya.


"Mungkinkah mereka tidak akan kembali lagi?" tambahnya.


Ya. Ia tengah memikirkan kedua orang yang meninggalkannya karena kesibukan mereka sampai sejauh ini mereka tidak mengabarinya sama sekali.


Gres adalah orang yang tengah terbuai dalam pikirannya itu.


"Bagus ya. Sekarang udah jalan sendiri. Udah lupa sama kita," ucap Eca yang tiba-tiba menarik kursi di samping Gres


"Kucing ku yang satu ini udah berani jalan sendiri rupanya. Udah dewasa aja ya, makin gemas gue pen gampar mukanya kesalnya itu..?" tambah Jek yang juga ikut duduk di meja yang Gres sudah pesan tadi.


Ia pun tidak merespon kedua temannya itu. Ia malah menampilkan aura dingin pada mereka berdua. Karena masih kesal sama kelakuan dua sahabatnya itu.


"Gres... Maaf!!" Ucap Eca secara tiba-tiba.


"Gue nyesal ngomong kek gitu kemarin. Habisnya gue emosi tau, liat lo hidup kek gini.." tambahnya dengan muka yang memelas.


"Gue gk akan minta maaf sama si curut ini. Enak aja gk mau nganggap gue sahabatnya lagi. Udah gitu ngomongnya juga irit kata juga, makin kesal gue," ucap Jek yang dari tadi melihat Gres yang pura-pura tidak peduli.


Melihat Gres yang bahkan tidak bicara sama sekali membuat Eca merasa gemas dengan tingkah temannya itu. Tanpa menunggu lagi Eca bangun dari tempat duduknya dan secara tiba-tiba memeluk Gres dengan erat. Membuat sang sahabatnya susah bernafas.


"Ck..! Kau mau membunuhku hah..?" Teriak Gres sambil berusaha melepaskan pelukan Eca


"Nggak akan gue lepas sebelum sahabat tersayang ku ini mau bicara dengan ku dengan baik," jawab Eca


"Bilang aja kalo mau cari kesempatan sama gue. Gue tau kalian pasti akan merindukan orang ini," ucap Gres.


"Apaaa!?? Jek bicara apa dia.? Sungguh, baru kali ini aku melihat orang dengan tingkat kepercayaan dirinya yang tinggi. Aku gk kuat sumpah!" Ucap Eca sambil melepaskan pelukannya dan beralih mencubit kedua pipi sahabatnya itu.


"Yaak!!! Jangan bicara dengannya. Aku malas melihatnya kali ini. Dia menganggap seakan akan tidak terjadi apa2 . Sementara aku hampir mati karena khawatir akan dirinya. Yah...! dosa apa gue sampai ketemu teman yang modelnya seperti ini," ucap Jek dengan muka seriusnya.


"Ck!!! Kalau mau di traktir bilang aja. Gak usah kalian sok dramatis kek gitu!," ucap Gres kesal.


"Kamu tahu sayang. Kamu adalah satu satunya teman yang paling mengerti aku sepanjang hidup ini," ucap Jek dengan wajah berbinar sambil menghayati kata-kata yang diucapkan


"Aku tahu Gres kamu gk akan bisa marah padaku. Karena kamu memaksakan diri untuk mentraktir kami. Ya sudah dengan terpaksa gue pesan deh. Palingan hanya pesan Beberapa macam makanan dan juga minuman yang baik di konsumsi"ucap Eca tak tahu malu


Mereka pun akhirnya memesan makanan karena Gres yang akan membayar semua. Setelah pesanan di antar.


"Yaaak!! Kalian mau merampok ku hah? Itu bukan ditraktir lagi tapi memilih semau kalian," teriak Gres ketika melihat pesanan kedua sahabatnya yang menggoyangkan kepala.


"Lo gk akan bangkrut juga setelah membayar ini semua bodoh," timpal Eca tidak peduli.


"Kalian harus tahu, makanan yang gratis rasanya lebih enak daripada kita beli pake uang sendiri. So, makasi curut buat traktirannya," Jek.


.


.


.


.


.


Selesai makan mereka bertiga keluar dari kafe tersebut sambil berbicara serius.


"Gres gue benar-benar minta maaf sama Lo. Gue gk mikir perasaan Lo kemarin. Maaf ya!!" Ucap Eca sambil menggandeng tangan Gres


"Ia. Gue juga minta maaf. Kita tu cuma kesal aja sama lo tau" tambah kek.


"Ia. Gue juga minta maaf. Gue benar-benar gk tahu harus gimana, gue frustasi pas ditinggal sama orang tua gue. Tapi gue sadar gue harus lebih dewasa mungkin orang tua gue mau gue mandiri," ucap Gres yang malah memeluk kedua sahabatnya itu.


"Kalo ad apa-apa Lo harus cerita sama kita. Kita selalu ada buat lo kapanpun itu." timpal Eca.


Mereka pun beranjak pergi dari tempat itu.


***

__ADS_1


Setelah beberapa hari terlewatkan. Akhirnya mereka sudah selesai ujiannya. Seperti biasa sambil menunggu pengumuman kelulusan mereka akan tetap datang ke sekolah seperti biasanya.


Beda halnya dengan kelas X dan XI mereka akan mengikuti pembelajaran seperti biasanya.


Pagi ini Gres datang agak sedu ke sekolah karena ada beberapa hal yang perlu diurus kata wali kelasnya.


"Selamat pagi pak," Gres.


"Oh,, Gres.! Kamu sudah datang?" Jawab Pak Erdan wali kelasnya.


"Ia pak. Boleh tau kenapa saya di suruh menghadap?" Gres.


"Silahkan duduk. Bapak mau bicara serius!" Pak Erdan.


Gres pun menarik kursi yang terdapat di depan meja wali kelasnya itu. Dan duduk tepat di depan meja tersebut.


"Begini, ujian kan sudah selesai. Dan sebentar lagi akan pengumuman kelulusan. Jadi bapak mau sampaikan ke kamu, bahwa bapak sudah menyelesaikan semua administrasi mu untuk masuk ke perguruan tinggi sesuai dengan pilihan kedua orang tuamu. Mereka Sudah membicarakan ini dari lama, sebelum berangkat ke luar negeri.


Jadi, bapak mau kamu bersiap-siap untuk mengikuti tes yang akan di adakan minggu depan." Pak Erdan.


"Sebentar Pak. Maksud bapak saya sudah di daftarkan untuk masuk di perguruan tinggi??" Gres.


"Ia. Orang tuamu sudah memilih kampus terbaik dan pas untuk kamu.!" Pak Erdan.


"Tapi saya kan belum tahu akan di masukkan di kampus mana? Kok saya tidak di mintai persetujuan sih, lagian kan saya juga sudah punya kampus pilihan. Dan juga kenapa orang tua saya malah menghubungi bapak!." Gres.


"Begini nak, sebelum orang tuamu berangkat ke luar negeri mereka menyerahkan semua berkas-berkas mu untuk di daftarkan di salah satu universitas pilihan mereka. Dan bapak hanya sekedar membantu saja. Lagian kan kampus pilihan orang tuamu juga adalah salah satu kampus yang cukup terkenal. Tidak semua orang bisa masuk ke kampus itu Lo..!" Pak Erdan.


" Maaf pak. Tapi saya tidak mau! Saya sudah punya pilihan sendiri. Saya juga sudah tidak mau lagi mengikuti keinginan mereka. Saya sudah dewasa dan bisa memilih mana yang terbaik buat saya. Terimakasih dan permisi!. " Ucap Gres lalu pergi dari ruangan tersebut.


***


Sorenya, ia memutuskan main ke rumah temannya, sudah lama ia tak pernah ke rumah itu.


"Selamat sore bi..!" Gres.


"Sore non, mau ketemu Rendi ya?. Masuk aja kebetulan dia ada di dalam. " Ucap maid tersebut.


Ia pun masuk ke rumah tersebut, masih sama hanya suasananya yang agak sepi. Dalam rumah tersebut tidak ada siapa².


"Mama. Gres datang ni..! Mama sama Papa di mana?" Teriak Gres di ruang tamu tersebut.


"Apa jangan-jangan mereka sedang di luar kali ya." Gumamnya.


"Rendi...! Lo di mana, kata bibi lo di rumah."  panggil Gres.


Ia pun berjalan menaiki tangga menuju lantai dua di mana kamar Rendi berada. Perlahan ia membuka pintu kamar tersebut. Jangan lupa, ia sudah terbiasa di rumah Rendi.


Kadang juga ia nginap jika merasa bosan di rumahnya. Ia pun masuk ke kamar tersebut. Tapi ia tidak mendapati siapapun di sana.


"Ren.....! Lo di mana sih??" panggil Gres lagi.


"Mungkin dia di balkon" gumamnya.


Karena melihat pintu kaca yang terbuka di samping kamar Rendi, Gres pun melangkah keluar melalui pintu tersebut.


Di sana Gres bisa melihat seorang anak laki-laki seusianya tengah duduk di kursi yang biasa mereka duduki jika ingin melihat pemandangan di luar rumah Dari atas lantai tersebut.


"Ganteng juga tu anak,, hahah" ucap Gres pelan sambil tertawa saat melihat Rendi duduk sambil melihat jauh dengan keseriusan yang membuat ia cukup baik di pandang oleh siapapun.


Gres berjalan pelan sambil mengendap-endap di  sudut dinding tersebut.


"Woiiii...! Bengong aja?.


Ngelamun ya,? Hmm??" Gres.


"Astaga, setannnn anjiiiiing?!!!


Apa sih ngagetin aku aja.!" Rendi kaget.


"Makanya jangan bengong." Ucap Gres sambil tertawa.


"Lagian juga datang kek pencuri aja. Masuk juga nggak ketok pintu dulu" ucap Rendi kesal.


"Eh,,, aku udah teriak ya. Dari masuk pintu utama sampai kamar, nggak ada yang jawab. Tau nya disini sambil bengong kek mayat yang lagi duduk aja kamu!" Gres.

__ADS_1


"Ngapain kamu ke sini?" Rendi.


"Lho,,, biasanya kan aku sering ke sini! Kenapa di tanya kek gitu?" Gres.


"Ya. Heran aja, kan udah lama nggak pernah datang lagi." Rendi


"Aku kangen sama kamu..!" Ucap Gres sambil memeluk erat tubuh Rendi yang tengah duduk di sampingnya.


"Tumben. Biasanya kan mampir karena mau makan masakan mama doang" ucap Rendi mengejek.


"Ya,, tau aja sih.


Tapi Mama sama Papa ke mana??, Tadi aku cari nggak ada di bawah?" Ucap Gres memasang wajah sok imutnya.


"Mereka lagi di luar sayang. Jangan pasang muka kek gitu. Bikin gemas deh" ucap Rendi sambil menarik kuat pipi Gres sampai merah.


"Ren...! Sakiit setan." Teriak Gres dengan muka yang sudah memerah akibat ulah Rendi.


"Sakit ya..! Sini aku tampol satu kali biar sakitnya tambah" goda Rendi.


"Ngambek ni....!" Ucap Gres sambil berdiri mau pergi.


"Apaan sih. Kek bocah aja ngambekan. Sini peluk dulu." Ucap Rendi sambil menarik tubuh kecil Gres ke pelukannya.


Mereka memang seperti itu dari kecil. Mereka hidup selalu bersama. Main sama-sama dan bahkan mereka tidur pun sama-sama. Orang tua Rendi sudah menganggap Gres anak mereka.


Walaupun orang tua Rendi dan Gres hanya rekan bisnis dan tetangga. Tapi hubungan keluarga mereka cukup dekat. Bahkan kadang orang tua Gres mempercayakan anak mereka pada rekan bisnisnya itu.


Kedekatan Rendi dan Gres sudah di bilang seperti saudara. Hanya saja akhir-akhir ini Gres sudah jarang main ke rumah Rendi dan sering menghabiskan waktunya sendiri.


Sampai kedua orang tua Rendi juga merasa heran karena Gres tidak pernah ke rumah beberapa bulan ini. Mereka bahkan mengira jika Rendi dan Gres mungkin ada masalah, jika saja Rendi tidak menjelaskan keadaan Gres saat itu pada kedua orang tuanya.


"Ren...!" Panggil Gres yang masih dalam pelukan Rendi.


"Hmm." jawab Rendi yang masih memeluk Gres nyaman.


"Kamu jadi kuliah keluar negeri?" Gres.


"Jadi dong. Dari kecil kan aku udah cita-cita mau masuk di kampus itu" Rendi.


"Berarti aku nanti sendiri dong" ucap Gres sambil mengeratkan pelukannya.


"Makanya kamu ikut aku kuliah di sana, biar bisa bareng terus" ucap Rendi yang masih setia mengelus lembut kepala Gres.


"Entahlah. Kamu kan tahu kemauan orang tua aku." Gres.


"Berarti kamu berangkat ke Paris dong kuliahnya" Rendi.


"Belum tau." Ucap Gres dan melepas pelukannya.


"Kenapa?. Memangnya kamu mau lanjut di mana?" tanya Rendi sambil menatap Gres.


"Entahlah. Mending kita jalan yuk,, aku lapar." ucap Gres menarik tangan Rendi untuk bangun.


"Kamu belum makan? Ini udah sore Lo!" tanya Rendi khawatir.


"Aku lupa..!" Ucap Gres yang sudah berdiri.


" Yaaak.!! Kamu mau sakit hah?. Ayok, ngga usah makan di luar. Makan di rumah aja, mama udah masak sebelum berangkat tadi" ucap Rendi menarik tangan Gres keluar menuju ruang makan.


Mereka pun duduk dan menikmati makan sore. Rendi yang melihat Gres yang tengah makan dengan lahap. Ia pun tersenyum sambil menghentikan makannya lalu mengelus kepala Gres lembut.


"Makan yang banyak, biar cepat besar. Nggak bosan apa punya tubuh kek bocah" ucap Rendi sambil tertawa lepas.


"Apa sih, sirik aja deh. Jawab Gres sambil mengunyah makanan yang penuh di mulut.


"Pipinya bikin gemas kalau penuh makanan ke gini" ucap Rendi sambil memencet pipi Gres gemas.


"Ren... jangan gangguin terus, aku lapar ni serius" Gres.


"Ia sayang. Maaf." Ucap Rendi senyum.


Mereka pun menghabiskan makan sore tersebut dengan tawa yang mengisi kesunyian rumah itu.


Ditengah tawa mereka terdengar ponsel Gres berdering menandakan ada telfon masuk. Dengan cepat ia mengambil ponsel tersebut dan melihat nama di sana, kira-kira siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


Papa is calling.... (Drrtt, drrtt,,,drrtt)


"Papa,,,! Ngapain hubungi aku sore gini??" guman Gres sambil memegang ponsel tersebut..


__ADS_2