Mengapa ?

Mengapa ?
Adu Bacot


__ADS_3

Sungguh hari yang indah jika hari libur datang. Saatnya akan tidur sepanjang hari melepas penat sepekan ini membanting tulang dalam menggali rezeki. Hahah,


Tapi itu cuma pikiran dan khayalan Sean semata sebelum deringan ponsel memekikkan telinga di bawa selimut. Ingatkah dia saat menemui orang menyebalkan itu agar menjewer telinganya keras.


“Woah,,, gak ada yang bisa tenang menghadapi seorang Gres dengan baik. Makhluk menyebalkan itu benar-benar menguji nyali. Dosa apa yang sudah ku perbuat di masa lampau hingga hari ini dikaruniai orang semenyebalkan dia! Sudah menyebalkan malah cintanya sama tuh bocah lagi. Perasaan macam apa ini,” gerutu Sean di tempat tidurnya tengah terduduk kesal.


Ia pun bangun dan melakukan ritual pembersihan diri dan keluar melahap makan seperti ayam yang jadi makan pertamanya saat bangun pagi kali ini. Persetan dengan kondisi tubuh yang harus menerima makanan berat memulai harinya yang jelas ia menyiapkan raut wajah marah saat akan membuka pintu apartemennya pada sosok brutal yang menggedor-gedor di balik sana.


“Jangan makan yang berat begitu saat bangun tidur lo!” persetan dengan ucapan sapaan makhluk di depannya sekarang. Intinya ia makin merobek paha ayam ditangannya dengan kesal sekarang.


“Hari ini kan libur! Ada apa pagi-pagi begini?” nyolot juga kan dianya.


“Sudah siang tahu!” jawab makhluk itu tak kalah ketusnya. Lihatlah sudah mengganggu waktu istirahat orang tapi malah menjadi-jadi. “Ya udah cepatan makannya, abis itu ganti baju yang wajar terus temanin gw pergi, sekarang!” sudah Sean bilang kan ini makhluk paling beda di antara mahkluk hidup yang sayangnya tempat hati sialannya itu berlabuh.


“APA?!” teriak Sean tidak peduli dengan daging kecil-kecil yang keluar dari mulutnya sekarang.


“GAK USAH TERIAK-TERIAK!” balas Gres teriak juga.


“Lo juga teriak sekarang kalo ga sadar!” ujar Sean dengan muka datar.


“Ya makanya jangan ngajak ribut!” tegas Gres makin menyebalkan.


“Ya lagian elo. Gak mungkin kan lo ngajakin kencan sepagi ini!” ucap Sean malas.


“Siapa juga yang mau ngajakin manusia kayak elo kencan! dan lagi ini udah siang ya!” dengus Gres jengah.


“Ya udah kalo gitu gw balik tidur aja! Gak usah gangguin gw hari ini. Lo balik sana ga mutu banget,” ucap Sean malas dan malah selonjoran di sofa menatap Gres lelah.


“Ya masa gw pergi sendirian. Kan elo punya mobil, senggaknya kan lo nyopirin gw sekali ini aja gak bisa apa?” jawab Gres pelan dan berharap banyak.


“Gw malas pokoknya. Gak pake koma musti dikasih titik biar lo gak pasang muka sok imut kayak gitu, gak mempan!” jawab Sean pasti.


“Lo gak nanyain dulu gitu, gw mau kemana. Habis itu lo boleh nolak kalo malas? ” ujar Gres pura-pura jengah biar di temani.


“Gak akan gw tanyain! Pokoknya liburan kali biarin gw memanjakan diri gue sendiri,” final Sean melangkah jauh menuju sofa panjang di ruangan sebelahnya dan malah tiduran benar dianya. Sepertinya ia benar-benar capek diliat dari raut wajahnya. Makanya Gres mengalah.


Setelah meraih gagang pintu apartemen untuk keluar Gres mendial nomor seseorang untuk meminta tolong pada yang lain saja, dia juga sudah dibuat kesal sama Sean. Lagian mana pernah ia mengganggu waktu libur Sean selain hari ini. Tapi sudahlah dia pulang saja.


Tapi belum juga menarik gagang pintu orang yang di telpon pun mengangkat, “Oh, Mark!! ” panggil Gres pa orang yang ia telpon yang ternyata mampu mengganggu atensi Sean yang tengah menikmati tidurannya tadi.


“Gak sibuk kan hari ini? Temanin gw please!” ujar Gres meminta tolong yang tidak ia sadari Sean tengah berjalan dengan rasa kantuk yang tiba-tiba hilang kala mendengar nama yang Gres sebut barusan.

__ADS_1


“Ini gw mau ke bandara tapi gak ada temannya buat kes-”


Tut. Tut. Tut!!!


Telpon sudah diakhiri dengan makhluk tak berperasaan tentunya Sean sudah memegang ponsel miliknya saat ini. Dengan muka datar, “ayok gw temanin!” ujarnya meraih kunci di gantung samping pintu apartemen dan menarik tangan Gres kasar.


“What the hell?” Gres tak terima.


“Gue temanin sekarang. Ayok ke bandara kan?” kekeh Sean.


“Gak perlu!” jawab Gres tegas.


“Gres jangan kekanakan!” balas Sean tak kalah tegas.


“Udah deh. Gue lagi malas berantem! Mark udah mau temanin gw. Lo istirahat aja, katanya capek,” ujar Gres berusaha tenang.


“Gue udah gak capek lagi sekarang. Gw juga udah istirahat semalaman. Jadi ayok berangkat!” ajak Sean pelan.


“Jangan plin-plan gini Sean. Gue gak enak sama Mark. Udah lo lepasin tangan gw sekarang, santai aja gw gak maksa lagian lo udah fix gak mau nganterin tadi kan!” ujar Gres jengah.


“Gue berubah pikiran. Jadi gw nganter kemana aja, asal jangan sama si Mark itu!” Sean kekeh pendirian.


“Lo sendiri yang kekanakan sekarang. Udah deh, Mark udah dijalan juga. Jangan kayak gini dong adanya gw gak enakan sama Mark nanti. Kan elo tadinya gak bisa, ya udah gw ajakin dia”


“Lo yang gak mau tahu kemana gw mau pergi tadi ya.!” habis sudah kesabaran Gres kali ini.


“Pokoknya gw anterin gak usah bareng Mark! ”


“Oh, lo gak suka gw bareng Mark kan?”


“Iya. Makanya gue mau ngantar lo!” balas Sean tegas.


“Gw kesana dengan taxi, jadi gak usah repot-repot nganterin gw hanya karena Mark yang akan jemput gw. Gimana puas?” Kesabaran Gres habislah sudah.


“Gue tetap nganter pokoknya,” kekeh Sean.


“Terserah.” kesabaran diambang batas akhirnya ia mengalah.


Mereka akhirnya berjalan keluar apartemen menuju lift, Gres lebih dulu melangkah ke depan sambil menghubungi Mark untuk tidak usah menjemputnya.


Sean menjadi tak enak hati semenjak perdebatan mereka barusan. Ia sadar ia salah tapi mau gimana lagi, jika berhubungan dengan Mark Sean mah paling anti kan.

__ADS_1


...••||••...


...Mark...


Maaf ya gw gak jadi pergi bareng lo


^^^Lho, katanya mw ke bandara kan!^^^


Iy. Tapi ini udah brngkat kok!


^^^Oh, gpp.^^^


^^^Gw putar balik aja, hati2 ya :)^^^


Iy, maaf ya :(


...••||••...


Setelah menaruh ponselnya dalam saku Gres buru naik ke mobil dengan tak bicara apapun. Lain hal seseorang yang sudah nangkring di area parkiran mereka barusan, tengah melihatnya dengan muka jutek seperti orang yang sedang kesal. Ia tahu, ia cuma jadi yang kedua baginya tapi mau bagaimana lagi dia datang saat mereka sudah terlalu dekat. Jadi, Mark menerima konsekuensinya agar bisa tetap dekat dengannya. Ya, Mark orang yang ternyata sudah menunggunya dari tadi.


Sementara itu, Sean masih belum mendapatkan kalimat yang pas untuk mengembalikan kecanggungan mereka. Ia tahu ia kekanakan tapi dia harus gimana lagi coba. Gres terlalu rapuh jika ia biarkan dekat dengan orang lain. Salah-salah ia bisa menyalah artikan rasa suka dan rasa cinta. Ia paham Mark itu baru saja suka padanya bukan cinta. Ia takut jika pada akhirnya Gres akan sakit.


“Gres!” panggilnya lembut.


Tak ada jawaban lagi, tapi bukan berarti ia harus menyerah kan! “Maaf, janji ga bakal kayak gitu lagi,” ujarnya berusaha meraih tangan Gres sebelahnya lagi.


“Kemarin-kemarin juga gitu kan, habis janji ga bakal kayak gini lagi. Jangan kayak giniin gue dong, gw bingung akhirnya!” seru Gres beralih menatap pandangannya ke depan.


“Ia ya. Gw kekanakan banget. Padahal gw yang sering bilang jangan kekanakan ke lo. Gimana ya... Gw nya udah nganggap elo lebih dari ini kan! Maaf, gw emang egois mau jadiin hubungan ini lebih lagi padahal gw tahu persis elo nya engga bakal mau kan...” ujarnya melemah.


“Maaf. Gw ga tahu harus gimana, setiap ngeliat lo kayak gini gw kadang ngerasa bersalah aja sama lo. Bukannya gw gak tahu perasaan gw, cuma jauh di dasar hati gw malah sering menemui ada orang lain yang sejak kecil selalu ada buat gw.” jeda Gres merasa bersalah.


“Ia. Rendi beruntung banget miliki kesempatan itu. Tapi gw juga manusia kan, punya perasaan dan berhak suka pada siapa saja. Kalau pun lo tegasin perasaan lo, gw pasti ga bakal terima gitu aja, karena tahu baik elo dan dia kan gak ada hubungan apa-apa selain sahabat masa kecil. Ya, walaupun gw tahu pertemanan antara cewe dan cowo emang ga ada yang murni.” jujur Sean.


“Entahlah. Gw hanya takut saat mulai akan menerima lo tapi rasa yang gw punya ternyata ga lebih. Gw takut buat lo sakit saat tahu gw belum bisa sepenuhnya terima lo,” ujar Gres.


“Gw ngerti kok, dan izinin gw buat egois karena perasaan gw. Kalau pun elo tetap gak bisa menerima gw atau lo pada akhirnya tetap milih dia bilang ke gw agar gw mulai menerimanya dan berusaha menjauh,” ujar Sean tersenyum.


Tak ada yang tahu baik Sean mau pun Rendi kalau ternyata dirinya tengah bingung dengan kedua orang yang menyatakan perasaan pada dirinya di waktu yang berbeda.


Ia bingung akan perasaannya sendiri. Saat akan bersama kedua orang tersebut ia merasakan suasana yang berbeda walaupun ia nyaman akan keberadaan keduanya.

__ADS_1


Dan yang lebih utama lagi, untuk saat ini ia belum mau melangkah ke jenjang seperti itu. Baginya hidup seperti ini dan mulai beradaptasi dengan perubahan kedua orangtuanya lebih penting. Saat ia melihat secara perlahan mereka menunjukkan bahwa kedua orang tuanya sudah berusaha menjadi tempat pulang yang baik untuknya. Sudah lama ia mendambakan ini dan perlahan ia sudah mau dan nyaman ketika berpikir untuk pulang.


Besar harapannya, saat ia pulang ia mendapati rumah dan kedua orang terpentingnya tengah menunggu dan menyambut kedatangannya.


__ADS_2