Mengapa ?

Mengapa ?
Cuma Teman


__ADS_3

^^^Kebahagiaan bukanlah ketika kita sudah berada di tempat tujuan.^^^


^^^Tapi, bisa saja ketika kita masih dalam perjalanan.^^^


....o0o....


Keesokan harinya....


"Gres!" Panggilannya sambil mempercepat langkahnya untuk sejajar dengan gadis di depannya sekarang.


"Apaan?" Jawabnya tanpa memperdulikan teriak lelaki mengesalkan di belakangnya yang tidak ada capeknya terus memanggil namanya dari tadi.


"Ini tuh, bukan jalan-jalan lagi namanya! Lo kecepatan tau!" kesal lelaki itu sambil terus mengoceh.


"Sean, kita bahkan punya kedua kaki yang berbeda. Kalo lo gak bisa nyamain langkah gue, ya udah jalan sesuai dan semampu lo aja!" kesal gadis tersebut.


"Lagian pelan napa sih?" Gerutu lelaki itu sambil terus berjalan beriringan dengan gadis di depannya.


"Gue lagi kesel ya! Jangan nambah emosi gue lo!" sarkasnya.


"Kesal kenapa sih? Gegara si Mark itu lagi?" ujarnya tanpa rasa bersalah.


"Apa lagi coba yang bikin gue kesal? Gue tuh heran sama lo, orang gue cuma nyapa sama cerita aja sama tuh anak. Lah lo nya datang mengacaukan semuanya. Gue tuh gak enakan sama dia Sean!" ketus Gres pada akhirnya.


"Tuh kan! Lo aja mikirin perasaan tuh bocah, sedangkan perasaan gue gak lo pikirin," kesal Sean.


"Mana ada gue bersikap kek gitu ke lo. Kalo ternyata biang keributannya lo sendiri!" kesal Gres.


"Tapikan gue cuma kasih dia peringatan doang buat gak terlalu dekat sama lo!" Jawabnya percaya diri.


"Terus?" Teriak Gres pada akhirnya.


"Ya, terus gue temui dia sekalian juga kan gue liat lo bicara sama tuh bocah," jawabnya seadanya.


"Dia bukan bocah Sean!" sela Gres.


"Ya tetap aja dia ngeselin," kesal Sean.


"Sekarang gue tanya sama lo. Ngapain juga lo peringati dia buat gak dekat sama gue? Lo lupa dia teman gue!" tegas Gres.


"Ya. Gue gak suka aja. Dia dekat sama lo," jawab Sean.


"Gak sukanya karena apa? Karena apa coba? Dia gak jahat kok, gak nyelakain gue juga! Lagian gue tau mana yang baik sama yang gak baik!" ujar Gres.


"Lo mana ngerti! Percuma gue jelasin juga!" ucap Sean melemah.


"Gimana gue bisa ngerti, sedangkan lo berusaha buat gue jauh dari teman gue sendiri coba. Lo mau gue gak punya teman dan gak berbaur?" tanya Gres.


"Bukan gitu. Tapi, dia tuh suka sama lo!" Ucap Sean pada akhirnya.


"Hah? Bagus dong banyak yang suka sama gue, jadi gak perlu takut kalo mereka nyusahin gue kan!" Gres heran dengan ucapan lelaki rumit di depannya sekarang.


"Dan itu titik permasalahannya!" Tegas Sean.


"Gak salah dia suka sama gue. Itu hak dia. Sekarang yang jadi permasalahannya adalah lo yang bersikap seperti tadi jika lo lupa!" Ujar Gres kesal.


"Ya, gue cuma mau ngelindungi lo dari orang macam dia," ujar Sean.

__ADS_1


"Dia bukan geng mafia Sean! Dia baik sama gue! Lagian kenapa lo yang jadi ribet coba? Gue aja gak risih lho. Dia malah nyambung orangnya," ujar Gres tak percaya dan tak mengerti lagi dengan manusia di depannya sekarang.


"Ya udah terserah lo sekarang, mau jadian sama tuh bocah juga gapapa. Sana temui dia lagi aja," ujar Sean emosi dan kecewa karena gadis di depannya sekarang keras kepala dan tidak peka dengan perlakuannya selama ini.


"Mana berani gue ketemu dia lagi sekarang. Orang lo udah bentak-bentak tuh anak di depan gue, bahkan gegara gue pula!" ujar Gres kesal.


"Ya udah sekalian lo minta ajak ke apartemen lo aja, ngajak dia makan atau apalah sebagai permintaan maaf lo. Bila perlu sekalian kencan lo berdua!" ujar Sean sinis.


"Saraf lo? Kok gitu pula ucapan lo sekarang! Lama-lama bikin kesal tau gak!" sarkas Gres.


"Gue emang siapa, bisa ngelarang lo.


Maaf kalo gue gak bisa ngertiin lo!" Ujar Sean hampir pergi namun berhenti mendengar kata terakhir Gres.


"Hidup gue bukan cuma tentang lo doang! Gue masih punya kesibukan lainnya, gue masih punya teman lainnya, gue masih punya kenalan juga dan juga masih banyak. Kalo lo bersikap begitu bakal buat gue bertanya posisi lo dalam hidup gue. Lo emang siapanya gue, yang bisa lo ngatur semau lo! Toh kita temanan juga kan sama seperti Mark, Justin ataupun Joana. Diantara kalian gak ada yang gue istimewain. Semuanya sama, jadi please jangan bersikap kek gini. Gue bingung lho!" Ujar Gres panjang lebar menatap Sean yang bahkan tidak menoleh lagi malah melanjutkan langkahnya meninggalkannya seorang diri di taman kota tersebut.


Terkadang untuk perasaan, tidak akan ada manusia yang bisa memahami dengan baik. Bisa saja ada beberapa orang yang berusaha untuk bisa memahami tapi tak kunjung memahami. Ada juga yang sudah memahami tapi malah berusaha menganggapnya tidak pernah ada dan biasa saja. Bahkan ada yang berusaha untuk tidak peduli sama sekali namun ia harus menghadapinya dengan sedikit lapang saat tahu kebenarannya.


Jadi, salahkan jika masih ada yang belum memahami dengan baik saat kau saja sudah berada di ujung serah dan ingin menyerah?


Sama halnya untuk seseorang yang tengah duduk dengan masih di kuasai rasa kesal dan tidak terima bahwa orang yang benar-benar ia sukai tidak bisa memahami perasaannya dengan baik.


Nyatanya, ia hanya tidak menyadari bahwa ia saja tidak berusaha lebih keras lagi untuk jujur soal rasa. Seperti yang ku bilang sebelumnya, akan ada manusia yang memang benar-benar tidak bisa memahami jika ia belum juga melihat dan merasakan kenyataan yang sebenarnya.


Perihal rasa sepertinya ia harus sedikit mengesampingkan egonya. Karena kebenarannya adalah terkadang jika kita berharap bahwa hidup dari orang yang kita sukai harus berputar hanya tentang kita maka kita akan menjadi sedikit egois.


Sadar atau tidak, nyatanya kehidupan seseorang juga bukan hanya tentang kita. Masih ada kesehariannya, keluarganya, teman-temannya, atau bahkan masih banyak hal lagi yang menjadi talok ukurnya dalam menjalani hidup. Terkadang orang menjalani kehidupan punya batas-batasnya tersendiri untuk tetap berjalan dan berusaha dalam banyak hal.


Sudah beberapa hari ini terlewatkan setelah cekcok antara dia dan Gres yang lalu. Sampai hari ini, ia bahkan belum menemuinya atau adalah salah satu dari mereka memilih mengalah. Namun, mau mengalah bagaimana jika pada akhirnya Gres saja tidak tahu bagaimana perasaan Sean terhadapnya. Ia mungkin saja hanya akan beranggapan bahwa ia dan Sean sedang sedikit kekanakan karena sudah terlalu lama dekat wajar jika ada kesalahpahaman.


"Bahkan dia gak mencari gue sekalipun," ujarnya melemah mengingat ia sudah tidak bertemu untuk beberapa hari ini walaupun mereka tinggal dalam satu gedung yang sama.


Sementara diwaktu yang sama....


Gadis itu tengah duduk di kursi taman di samping jalanan sambil menikmati minuman berwarna cokelat di sebuah cup kecil miliknya sembari melihat orang-orang yang berlalu lalang dan kendaraan yang tak lupa  bersimpang siur di depannya.


Ia persis di samping perempatan jalan kota dengan beberapa orang lainnya tengah duduk di bangku yang berbeda di sekitarnya sambil melakukan kegiatan mereka masing-masing.


Dari tempat yang tidak sedikit jauh ini pula lelaki itu tersenyum sambil memantau kegiatan yang gadis itu lakukan, caranya memandang beberapa orang yang lewat, kendaraan yang lewat bahkan ketika ia sedikit menarik nafasnya lega pun tak luput dari penglihatannya dari seberang jalan.


Ia pun melanggar jalan ketika lampu lalu lintas berubah merah  tandanya pejalan kaki boleh menyebrang.


"Suasana sore hari di pinggir jalan juga nyaman dinikmati seorang diri," ucap Mark yang sudah mengambil tempat di ujung bangku tempatnya duduk.


"Eh! Mark!" seru Gres antuasias serta sedikit kaget.


"Haii!" Sapa Mark tersenyum menanggapi seruan Gres.


" Udah lama gak ketemu, gimana kabarnya?" tanya Gres kaget melihat  sosok disampingnya yang memandang jalanan juga.


"Hm,  baru beberapa hari ini juga gak ketemu! Baik sih gue, lo gimana?" ujar Mark tersenyum.


"Iya sih, Gue baik!" Ujar Gres menatapnya tersenyum hangat


"Sendiri aja? Kenapa gak balas pesan gue beberapa hari yang lalu?" Ujar Mark sambil menatapnya dengan senyum.


"Ah, itu gue sedikit gak enak aja sama lo, kita berakhir kurang baik dalam pertemuan beberapa hari yang lalu. Itu buat gue sedikit gak nyaman dan gak enakan sama lo! Maaf ya!" ujar Gres menunduk sambil jarinya mengetuk kopi cokelatnya yang masih berisi setengah gelas.

__ADS_1


"Gapapa. Lo gak salah, mungkin dia lagi berusaha buat ngejaga lo aja dari orang-orang asing yang dekat sama lo," jawab Mark sambil mengelus lembut pucuk kepalanya.


"Ya. Gimanapun juga, dia seharusnya gak bersikap seperti itu sama lo. Dia juga tahu kok kita sekelas," gerutu Gres.


"Jadi lo ngerasa bersalah gitu?" selidik Mark sambil menatapnya.


"Iyalah. Gua orangnya gak enakan sih, sekali lagi maaf ya! Gue gak pernah papasan sama lo di kampus, lo juga jarang terlihat makanya gak sempat buat minta maaf," ujar Gres tidak enak.


"Ya udah. Sebagai permintaan maaf lo, boleh gak gue minta kopi lo itu, gue jadi pengen minum kopi sambil melihat jalanan, masa!" seru Mark menatapnya penuh tanya sambil melirik kopi yang ia pegang.


"Tapi ini gue belinya satu doang. Ini pun udah gue minum. Gimana kalo lo tunggu sini, gue pesan lagi aja?" Tanya Gres tidak enak.


"Keburu malam kalo lo pesan yang baru. Gak liat tuh lagi pada ngantri panjang yang mau beli!" ujar Mark melirik antrian panjang di kedai tersebut.


"Ah, biar gue pesan online aja!" Ujar Gres antuasias penuh harap.


"Udah ini aja. Kalo lo masih mau minum nanti gue sisain," ujar Mark yang sudah mengambil alih gelas kopi ditangannya dan bahkan sudah menyesap lewat sedotan bekas Gres barusan.


"Tapi, itu bekas gue!" seru Gres gak enak.


"Gapapa! Lo masih mau? Joing ajalah gapapa kan?" Mark tersenyum hangat.


"Gak. Buat lo aja," ujar Gres pada akhirnya sambil menatap sosok di sampingnya sekarang yang tengah menikmati kopinya dan fokus menatap jalanan.


"Biasa aja liatnya. Gue ganteng ya?" goda Mark terkekeh.


"Ah, gak kok. Gak liat lagi," seru Gres kegep terus saat ia menatap sosok tersebut.


"Gres! Boleh gue nanya?" ujar Mark menatapnya.


"Boleh," jawab Gres yang balas menatapnya juga.


"Hm, Sean itu pacar lo ya?" tanya Mark sedikit hati-hati.


"Hah. Bukan kok, kita cuma temanan sama kayak lo, hanya bedanya dia tuh udah pernah atau seringlah bertemu gue waktu masih di Indo!" jawab Gres sambil melihat jalanan.


"Kebetulan juga, kami bertetangga di tempat tinggal gue yang disini. Awalnya gue juga kaget dia sekampus sama gue. Sampai akhirnya kita deket. Gitu aja sih," ujar Gres.


"Berarti lo sama Sean gak ada hubungan apa-apa dong?" Selidik Mark.


"Hm, gue juga heran dia selalu bersikap begitu ke lo sebelumnya. Ia sih nyokap gue pernah sekali nyuruh Sean buat jaga gue, tapi itupun gue mah biasa aja. Lagian hidup gue gak di kelilingi banyak orang jahat tuh. Gue aja kemaren sampe adu bacot tuh sama dia. Sampe gue bilangin tuh, kalo lo itu bukan geng mafia yang perlu di takuti, heheh-" ucapan Gres terpotong.


"Sampai segitunya lo bicara sama dia. Woah kalian tuh lucu banget sumpah. Gue sampe ngakak dengarnya" ujar Mark.


"Ya, habis dia ngeselin banget kan. Gue bahkan belum baikan sama dia sampe hari ini masa," ujar Gres merasa bersalah membiarkan Sean pergi begitu saja tanpa meminta maaf padanya.


"Seserius itu masalahnya. Gue aja gak permasalahin itu, lo harus baikan sama dia. Dia juga begitu karena mau jaga lo doang, apalagi kalian temanan masa sampai segitunya," ujar Mark tak percaya.


"Iya. Nanti gue temuin buat minta maaf," ujar Gres.


"Udah sore. Pulang yuk! Gue anter," ajak Mark yang sudah menarik sebelah tangan Gres tanpa tunggu Gres menjawab pertanyaannya.


Sesampainya di kompleks apartemen Gres....


"Gres. Lo harus baikan ya sama Sean. Jangan sering jalan sendiri, sesekali ngajak gue juga, biar ngopi bareng, heheh. Sampai ketemu di kampus! Gue balik!" Ujar Mark mengacak pelan rambut Gres dan beranjak pergi drai tempat itu.


Sementara kejadian tersebut tidak luput dari pandangan seseorang yang tengah berdiri di parkiran gedung apartemen mereka sambil menatap dengan tatapan datar kepada dua sosok di depannya itu.

__ADS_1


_13 okt. 2021


__ADS_2